Kontemplasi

Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu, aku lalu menjadi musuhmu?

- Prof. Jacob Elfinus Sahetapy.

Entah ada hubungannya atau tidak, setelah kesekian kalinya saya mendengar perkataan Prof. J.E. Sahetapy di atas, saya jadi tiba-tiba ingat tentang guru. Mungkin karena saya terlanjur menganggap beliau ini sebagai panutan, walaupun saya tidak pernah diajari oleh beliau; ketemu pun tidak pernah. Saya teringat, dulu selama sekolah, siapa ya guru yang ajarannya membekas pada saya? Setelah saya ingat-ingat ternyata hanya ada satu orang guru yang seperti itu, dan mungkin ini menyedihkan, tetapi ternyata guru itu bukan guru agama. 

Beliau guru SD saya sejak kelas 4 hingga kelas 6. Namanya pak Abdul Rahman, mengajar Matematika, Bahasa Indonesia dan IPS di SD Hikmah I YAPIS Jayapura Utara hingga tahun 1992. Apa yang membekas? Beliau mengajarkan bahwa orang harus berusaha tahu banyak hal, bukan saja satu-dua bidang. “Jadi orang jangan otak tempe,” katanya. Hampir setiap hari, kalau beliau kebagian mengajar jam pelajaran terakhir, beliau tidak mau membiarkan kami pulang begitu saja. Ada sayembara ilmu pengetahuan umum – ibukota negara anu, nama danau di kota anu, dan sebagainya – dan hanya yang menjawab benar yang boleh pulang. Itu membekas sekali. Pertama kalinya kami paham, ternyata belajar itu bukan cuma untuk ujian saja.

Lho kok itu doang? Urusan moral bagaimana?

Setelah saya ingat-ingat ternyata tidak ada guru yang ajaran moralnya membekas pada saya. Yang terjadi, saya hanya dihadapkan pada satu pertentangan yang satu ke pertentangan yang lain, dari apa yang diajarkan dengan apa yang saya lihat di sekeliling saya. Saya belajar bahwa yang menurut buku-buku dan mulut guru-guru disebut “baik” itu ternyata selalu kalah. Hidup mengajarkan bahwa orang harus kuat. Walaupun tidak sesuai buku, kalau kuat niscaya menang, niscaya menjadi hebat. Semestinya kalau menuruti ajaran sang hidup, saya bakal tumbuh dewasa sebagai manusia busuk yang haus kekuatan dan kekuasaan. Syukurlah entah dari mana saya diwarisi karakter keras kepala. Selalu ingin menentang. Menentang membabi buta. Semakin deras kekuatan yang mendorong saya ke kanan, saya akan berusaha belok kiri. Demikian sebaliknya. Syukurlah lagi, kekuatan yang dominan bercokol di sekeliling saya sejak orok hingga paruh baya adalah kekuatan jahat. Negara jahat yang diatur penguasa jahat dengan rakyat jahat di dalam naungan masyarakat jahat yang menganut nilai-nilai sosial yang jahat yang mengajarkan ilmu-ilmu jahat. Syukurlah, dengan demikian saya berusaha jadi orang baik. Atau orang apa sajalah, yang penting bukan orang jahat. Orang yang seperti di buku. Maka, sesungguhnya yang mengajarkan moral kepada saya adalah semesta. Katanya semesta itu media Allah, jadi konon sesungguhnya Allah SWT-lah yang mengajarkan moral kepada saya. 

Sepertinya sudah lebih dari satu kali saya menyebut kata “syukurlah” di atas. Jadi mungkin saat ini saya sedang bersyukur. Alhamdulillah. Syukurlah walaupun saya jarang sekali sholat, saya tidak jadi seperti bajingan-bajingan yang sering disebut Prof. J.E. Sahetapy sebagai “bajingan” itu. Saya tidak maling, saya tidak korupsi, saya tidak terima sogok. 

Ah sebentar. Setelah saya ingat-ingat lagi, saya sebenarnya pernah korupsi, dan pernah juga terima sogok. Kalau tidak salah waktu itu saya kepepet™. Saya masih ingat jumlah uangnya. Korupsi satu kali saat masih jadi mahasiswa, dalam kepanitiaan kegiatan apa-itu-saya-tidak-ingat-lagi, besarannya 500 ribu. Lalu korupsi satu kali lagi saat sudah jadi dosen, jumlahnya 3 juta. Sebelumnya pernah terima sogok satu kali, jumlahnya 300 ribu. Jadi total saya sudah makan uang haram sebesar 3.800.000 rupiah. Eh sebentar, tidak semua dimakan. Yang 500 ribu saat kuliah itu saya belikan sepatu 385 ribu. Sepatunya tidak saya makan. Haram hukumnya makan sepatu. Jadi total isi perut saya dari uang haram hingga saat ini adalah 3.415.000 rupiah. Saya tidak tahu cara mengembalikan uang itu bagaimana. Kalau saya kembalikan ke lembaga tempat saya bekerja, menurut nasihat orang terdekat itu cuma cari perkara saja, yang ada malah banyak orang yang bakal tersinggung karena dikiranya saya menyindir mereka yang korupsi puluhan juta tapi tidak ada niat mengembalikan. Akhirnya saya putuskan, uang itu saya anggap milik Allah SWT, sehingga biarlah saya kembalikan kepada-Nya saja. Caranya, ya lewat perantara Beliau, yaitu lewat hamba-Nya yang membutuhkan. Kalau bahasa kerennya, saya kembalikan lewat sedekah. Bah sedekah kok ngomong, jadi ndak ikhlas dong. Sebenarnya ini lebih layak disebut bayar hutang, bukan sedekah; bayar hutang kepada Allah SWT, jadi disebut tidak ikhlas pun tidak masalah. Tentang sudah terbayar lunas atau belum itu uang 3 jutaan yang saya korupsi, wallahua’lam. Wong saya juga ndak pernah ngitung. Untuk amannya dianggap belum lunas saja lah, supaya saya merasa berhutang terus sama Allah. Itu konon katanya lebih baik buat saya jika saya berpikir. 

Tadi sampai di mana? Oh ya, tentang pencitraan bahwasanya saya tidak korupsi. Mungkin perlu ditambah : saya tidak “hobi” korupsi. Seperti alesyan™ yang sudah saya ungkapkan tadi, saya korupsi karena kepepet™. Jadi walaupun saya pernah korupsi, saya bukan koruptor; karena korupsi yang saya lakukan itu bukan profesi, hobi pun bukan. Jadi jelas ya, saya orang baik lho. Catat. 

Nah. Dalam kapasitas saya sebagai orang baik™ ini, saya ingin berkontemplasi mengenai guru. Saya ini sekarang pendidik. Karena inspirasi utama yang saya dapatkan dari pendidikan saya adalah dari pak guru SD yang saya sebut di awal tadi, otomatis muatan ajaran saya, cara mengajar saya kepada mahasiswa, adalah tidak jauh-jauh dari pendewaan logika. Saya ingin manusia didikan saya tidak berpikir hal lain selain bagaimana mengisi otaknya dengan ilmu. Bagaimana supaya pintar. Lalu bagaimana soal moral? Saya berpandangan, lebih mudah mengajarkan moral kepada orang yang pintar daripada kepada orang bodoh. Mengapa? Karena orang yang pintar sudah mampu memilah-milah pengaruh. Orang yang pintar tidak dapat dipengaruhi; melainkan dialah yang mengijinkan pengaruh masuk kepadanya, setelah menyeleksi dampak pengaruh itu dengan logika yang waras. Berbeda dengan orang bodoh. Sekarang diajari moral, besok dia belajar barang baru lagi, menemui kenyataan lain lagi yang tidak sesuai dengan moral yang dipelajari hari ini, lalu dengan segala kekurangannya dia menimbang-nimbang, dan akhirnya memutuskan moral itu tidak layak dipakai lagi. Orang bodoh terlalu gampang dipengaruhi. Jadi, kasih pintar dulu, baru kasih tau moral yang baik itu bagaimana. 

Jadi, apakah saya menentang pengajaran moral kepada anak usia dini? Tidak juga. Terserah saja kapan atau seberapa sering mengajarkan moral. Tetapi sebaiknya jangan menganggap moral lebih penting daripada logika. Soalnya logika itu instrumen yang penting untuk menelaah pengaruh. Jatuh-bangun-jatuhnya bangsa ini menunjukkan bahwa nilai-nilai moral tidak punya daya apa-apa di hadapan sang pengaruh. Sudah terlalu kenyang orang melihat betapa agama sudah dijadikan topeng saja, alat yang dipakai orang-orang jahat untuk mendapat pengakuan dan restu untuk terus melakukan hal-hal jahat. Pengakuan dan restu dari orang-orang bodoh, yang pandangannya tidak sanggup menembus topeng agama. Ini kan masalah.

Selama ini tidak gampang saya menanamkan ajaran tentang akal sehat, tentang logika tadi. Apalagi lembaga tempat saya mengajar ini platformnya agama. Sering mahasiswa saya terang-terangan bilang, “Buat apa dengar orang yang tidak sholat!”, yang mana saya cuma bisa cengar-cengir saja. Saya tidak bisa pakai argumen ad hominem untuk menanggapi pandangan itu. Saya tidak bisa bilang, “Jangan lihat orangnya, lihatlah apa yang dia sampaikan”; selama saya masih terus menuntut kaum pembela agama untuk menunjukkan teladan. Selama saya masih mengutuki mereka yang sikap dan tindak-tanduknya tidak mencerminkan mulutnya. Kan mereka juga bisa bilang ad hominem? Saya hanya bisa bilang, teladan saya hingga sekarang ini cuma mampu segini saja. Kalau berkenan, mohon telaah baik-baik sebelum menuding bahwa orang yang jarang sholat itu pasti ndak bener. Karena faktanya terlalu banyak contoh orang yang rajin sholat tetapi ternyata sholatnya itu tidak membuat dia nahi mungkar. Amal ma’ruf iya, tapi mungkar juga ho’oh. Tapi itu tentu perkara lain. Toh masih bisa dijawab lagi dengan argumen “Rajin sholat saja masih bejat, apalagi kalo jarang sholat!”.

Yang mau saya bilang, mengajar itu susah. Jadi pendidik itu susah. Saya merasa punya ilmu yang bermanfaat, ilmu dunia yang layak untuk diwariskan, yang tidak kalah layaknya dengan ilmu akhirat. Tetapi agar ilmu saya itu diterima, ternyata saya juga harus menunjukkan teladan dalam ilmu akhirat. Saya dituntut untuk menjadi lebih dari yang saya mampu. Tapi ya tidak apa-apa, toh tidak semua didikan saya seperti yang saya sebut tadi. Masih ada yang matanya mampu menangkap yang baik-baik dari segala yang saya ocehkan. Alhamdulillah. Paling tidak saya masih bisa merasa bermanfaat. 

Ya sudah. Tidak ada kesimpulan. Segini saja.

Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh.  

 

Testimoni Tentang Papua (1)

PERINGATAN
Tulisan ini lumayan panjang, bergambar, dan ditutup dengan kata “BERSAMBUNG”.
Setelah secara sukarela hanyut dalam berbagai bentuk prokrastinasi, akhirnya datang juga kesempatan bagi saya untuk menulis testimoni tentang permasalahan multidimensi yang terjadi di Papua. Yang menyebabkan testimoni ini begitu penting, sesungguhnya adalah fakta bahwa saya ini bukan orang penting. Di Papua atau di manapun juga. Testimoni dari manusia tidak penting yang tidak pernah menjadi bagian dari kejadian-kejadian penting, justru sangat penting; lantaran manusia tidak penting ini – sebagaimana insan-insan tidak penting lain – lah yang sebenarnya senantiasa kecipratan limbah paling kental dari kondisi busuk hasil tingkah polah manusia-manusia penting.
Saya bukan elit. Saya akar rumput. Atau paling tidak saya kerikil yang berserakan di tanah, sedikit di atas akar rumput. Jadi ini bukan pendapat elit. Ini kesaksian akar rumput dari kaum pendatang di Papua. Satu di antara golongan orang Indonesia yang sejak lahir tidak punya pilihan selain harus bertahan hidup di Papua.

Sudah sejak lama sebenarnya (persisnya 2008) saya melontarkan janji digital kepada beberapa teman di blogosphere, untuk menyumbangkan seberkas pencerahan kepada buramnya simpang-siur pemahaman terhadap permasalahan ipoleksosbudkampret™ yang ada di Papua. Permasalahan yang, seperti halnya daerah-daerah lain di Republik Gosip ini, sudah ada sejak zaman bulgur; dan tiba-tiba menyeruak ke permukaan paska reformasi laiknya bangkai mengapung di selokan lumpur; sehingga seolah-olah permasalahan itu belum pernah ada sebelumnya.

Selama ini saya belum juga memulai menulis urusan testimoni ini, lantaran masih bingung mau mulai dari mana. Pada akhirnya saya putuskan untuk menyajikan tulisan ini dalam model ‘pernyataan VS fakta’. Yang dimaksud ‘pernyataan’ adalah kritik dan komentar analis di media massa, pendapat umum, klaim pribadi maupun golongan, dan segala macam analisis politik tentang Papua yang dirangkai dari potongan-potongan gambar yang diambil dari jarak aman. Yang dimaksud ‘fakta’ adalah realita sehari-hari yang saya endus, amati, dan alami langsung sebagai orang Papua berlabel pendatang. Fakta yang tidaklah terlalu berbeda dengan yang dihadapi orang kebanyakan; hanya saja dalam menyikapi realita kebetulan saya memilih untuk mengedepankan akal sehat ketimbang kepatuhan terhadap sensor sosial.

Antara pernyataan satu dan lainnya yang akan saya tampilkan, tidaklah mesti berhubungan langsung, baik secara kronologis maupun secara naratif. Saya hanya menyikapi pernyataan apapun yang kebetulan mencuat pada saat saya hendak menulis, atau yang kebetulan ada di kepala saya. Kiranya format penulisan ini akan terlihat acak dan cukup tak beraturan, namun semoga saja cukup bisa dinikmati dan cukup mampu memberi pencerahan. Kelak kalau sudah cukup banyak ulasan yang saya tulis soal permasalahan Papua, mungkin saya akan pertimbangkan untuk menyusun ulang perca-perca testimoni ini kedalam uraian tunggal yang lebih kronologis dan lebih logis urutan narasinya.

Ini adalah cicilan pertama. Mudah-mudahan saya diberi umur panjang untuk menelurkan cicilan-cicilan berikutnya.
Baca selengkapnya

Tentang Kedewasaan

Terlambat kalau kamu baru nakal sekarang.

- Anonim, 1998.
Kalimat di atas diucapkan seorang teman sekolah di masa SMU, secara sambil lalu saat berpapasan di teras kelas. Saat itu saya bersama beberapa rekan sepermainan kebetulan lewat di depan kelas yang bersangkutan, dalam perjalanan madol dari pelajaran PPKn. Kebetulan beliau seorang cewek, dan kebetulan saya tidak kenal dekat dengannya; satu kelas pun tidak. Walau mungkin bukan kebetulan jika ia merasa kenal cukup dekat dengan saya, sehingga merasa cukup pantas menyemburkan kritik pedas nan sarkas macam sedemikian.

Saat itu omongan tersebut tidaklah saya anggap terlalu berarti. Di telinga saya ia terasa tidak beda dengan jeritan histeris penggemar berani-mati di hadapan seorang selebriti. Adalah belakangan ini, interaksi teranyar dengan khalayak sekitar, tingkah laku kenalan-kenalan baru, yang telah sekonyong membawa ingatan saya kepada ujaran teman satu itu. Saya jadi beberapa jenak merenung, menyoal satu barang yang berjudul ‘kedewasaan’. Apakah saat itu, semasa kelas dua SMU, saya sudah diwajibkan menjadi seorang yang dewasa ? Sehingga asosiasi dengan kenakalan sudah dipandang begitu wagu, tidak pada tempatnya ? Sampai-sampai seorang yang saya-sekedar-tahu-nama-saja bisa merasa perlu melontarkan teguran ?

Lalu bagaimana dengan sekarang ? Apakah saya sudah lebih dewasa daripada tigabelas tahun silam ? Memangnya seperti apa pula ‘dewasa’ itu ? Untuk menjawab pertanyaan ini saya telah memerlukan untuk merenung lebih terenyuh, menelaah kembali ingatan saya terhadap sikap dan tindak-tanduk manusia-manusia tertentu dalam lingkungan sosial saya. Baik di buana nyata maupun di pranata maya. Manusia-manusia, kepada mana tersemat label sosial tak kasat mata bertuliskan ‘dewasa’.

Hasil renungan beberapa jenak itu menghasilkan temuan tentang beberapa ciri khas. Prasyarat. Sifat-sifat wajib. Atau semacam itulah. Yang kerap ditemukan melekat kepada manusia-manusia konon dewasa dimaksud. Temuan-temuan inilah yang saya utarakan satu persatu di sini.

Baca selengkapnya

postGrad Baby-sitting

So.
As of last week I’ve been officially assigned as staff slash clerk slash all-around assistant slash lackey at the postGrad program of this uni I recently started teaching at. I still teach, mind, but as with every other lecturer at this uni I’m bound to hold a staff position in one of the faculties in addition to teaching.

The thing that jawdrops me is how they hold the final semester exam down here. I’ve been assigned as exam attendant (don’t really know what to call that in English – it’s the dude that distributes exam sheets, etc. and stares at students during exam and is tasked to make life more miserable for them than it already is) the last two days, and let me tell you folks what I’ve seen here is absolutely hilarious.

First of all, the postGrad exams are all open-book; plus examinees are allowed to use the internet to answer questions. So there I was staring at middle-aged postGrad students working out exam questions with laptops on their desks; googling their asses off.

Second, it’s a group exam. I don’t know if such a thing even existed, or if it was officially made that way, but it sure as hell looks like one. People keep bouncing around from one desk to the next, checking out each other’s work. They need to make sure they don’t have exactly the same answers, you see. That would be, you know, cheating.

I’ve been told it’s how things are normally done around here, and that I should let them be. My job was to make sure they’re comfy and fully accommodated. Oh, did I mention we serve them lunch and snacks and coffee during exam? Anyway, I’m also told these guys pay too much money to be subjected to fair play. Indeed, no one throws away 10 million IDR per semester to get their degree the hard way.

I hope someone drops a comment saying that’s the way it is in other parts of the planet too and that I’m just plain too stupid to notice. That way I can sleep better and stop making a fuss over this.

Oh, for those of you who are new to this blog, I’m an Indonesian dude living in Papua Province, Indonesia. So if you know a thing or two about this place, feel free to relate everything I just told you to Special Autonomy, affirmative action and all that crap. I’m not in the mood to talk politics…..yet.
What? Links? Google it dammit, don’t be such a baby.

Interview Blues 2

Sekuel dari Interview Blues

PERINGATAN
Tulisan ini tidak ada gambarnya :lol:


Continue reading ‘Interview Blues 2′

Me, quoted

Piala Dunia tahun berapa ituuuu ?


Saya, H-1/2 final Piala Dunia 2010, di tengah kemacetan jalan konvoi pendukung Belanda, kepada seorang pengendara motor yang menggotong bendera Israel.

What’s in an asshole?

It is but a hole beneath one’s ass
Probe it if ye will, but heaven knows I shall pass
For it pains me to try and fathom
what lies deep inside one’s bottom
Seeing, ye say, is believing?
Rest ye assured, I am content just from assuming

What, still ye ask, is in an asshole?
Did ye not heed my words in whole?
If ye insist to know it all,
then allow me to be literal
What ye shall find in that narrow pit
is but feces, crap, poop, and shit

Vulgar, ye say, is my word?
I only but say what ye want heard
I told ye the fact was obvious,
but still ye seem to be curious
Now say ye believe me not?
Rest ye assured, I shit ye not


WANTED


Fritzter D. Loki

DEAD OR ALIVE

β 666,000,000

Currently Peeking

Categories

April 2014
M T W T F S S
« Oct    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.