Archive for November, 2008

Pemberdayaan

Ini sebuah urban legend di kota saya. Kebenarannya sudah pasti diragukan. Kejadiannya sudah lamaaa sekali, pada saat peresmian lokalisasi PSK Tanjung Elmo di Sentani, Jayapura. Alkisah beberapa tokoh pemerintahan dan tokoh masyarakat diberi kesempatan untuk menyampaikan sambutannya. Ada seorang tokoh adat pada waktu itu yang pidato singkatnya banyak dikenang hingga saat ini, walaupun nama beliau sendiri tidak ada yang tahu pasti. Pidatonya terpaksa singkat, karena konon ia sudah keburu diturunkan paksa dari panggung sebelum selesai bicara.

“Saya mengharapkan dengan dibukanya lokalisasi ini, pemerintah tidak lagi mendatangkan tenaga kerja dari luar, melainkan dapat memberdayakan anak-anak dan cucu-cucu kami…..”

Advertisements

Bagi Rata

Di suatu desa di salah satu Kabupaten terpencil di Papua, sedang digelar sosialisasi HIV/AIDS oleh KPAD. Ceritanya, sepanjang kegiatan ceramah itu sang kepala desa ketiduran. Saat moderator membuka sesi tanya-jawab, tiba-tiba kepala desa terbangun.
Setengah sadar, ia melihat kiri-kanan, mengingat-ingat apa yang terjadi sebenarnya. Begitu melihat spanduk “Sosialisasi HIV/AIDS”, dia langsung sadar. Celingukan lagi, dilihatnya belum ada warganya yang mengajukan pertanyaan. Sebagai seorang pemimpin, nalurinya memerintahkan untuk memberi contoh bagi warga. Ia pun mengangkat tangan.
“Ah, bapak kepala desa. Silahkan pak,” kata moderator, sambil memberikan mike.
“Ehem. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan,” kepala desa mulai bicara.
“Ada satu yang ingin saya himbau pada penyelenggara.
Dari pengalaman pembagian raskin bulan lalu, banyak warga yang tidak kebagian. Pembagian tidak merata.
Maka untuk kali ini, saya minta HIV/AIDS ini dibagi rata. Semua warga saya harus dapat!”

Status Juggler – Badut Status

Dimuat di <em>Suara Perempuan Papua</em> No. 08 Tahun VI, 11 - 18 November 2008

Dimuat di Suara Perempuan Papua No. 08 Tahun VI, 11 - 18 November 2008

mace-kambu

Pada saat ulang tahunnya yang ke-60 pertengahan Agustus tahun ini, dan secara de jure pensiun dari status PNS, Dra. W.W. Kambuaya tidak langsung dilepaskan dari jabatannya sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Jayapura.
Malahan, sang Walikota yang notabene suaminya sendiri, mengontrak ulang beliau untuk 10 bulan ke depan demi “menyelesaikan laporan pertanggung jawaban” berhubung “tidak semudah itu mencari pengganti”.
Belum habis rasa heran warga Jayapura terhadap fenomena seorang ‘pensiunan’ yang terus melenggang menikmati jabatannya seolah-olah tidak ada lagi yang bisa menggantinya, tiba-tiba muncul gebrakan baru : nama beliau muncul sebagai salah satu Caleg Partai Golkar Kota Jayapura.
Nyonya ini memang a natural-born bajing luncat.

Plindidiplan Gratis?

Klik untuk memper<font size="4">besar</font>

Dimuat di Suara Perempuan Papua No. 07 Tahun V, 03 - 10 November 2008

Satu dari sekian banyak janji politik Barnabas Suebu adalah penggratisan pendidikan, misi yang sebenarnya tidak bisa dianggap “muluk” sama sekali. Ini karena misi ini memang dimandatkan oleh Undang-Undang No. 21 Tahun 1999, “sumber segala sumber hukum” Otsus. Jadi bukan lagi janji, tapi sudah amanat. Toh sampai kini Bas belum terlihat memulai usaha ke arah itu, dengan berbagai dalih yang hanya terkesan lip service. Khas mantan diplomat, no action talk only.
Glossary
Penting ka? = Penting gak sih?

Lidah…

Suatu hari nenek buang air kecil di toilet sederhana dalam rumah panggungnya. Toilet ini cuma terdiri atas lubang yang tembus langsung ke bagian kolong rumah yang pas pinggir kali. Maklum nenek yang sudah mulai pikun, di tengah-tengah kegiatan kencing itu beliau tertidur. Dalam posisi jongkok.
Sementara, sapi peliharaan kakek sedang mengair di pinggir kali. Sekonyong-konyong, si sapi merasa ada yang menetes-netes ke hidungnya. Tertarik dengan aroma asem-asin-aneh itu, dia pun mendongak. Ternyata bukan aromanya saja yang mengundang hasrat si sapi, namun rasa cairan yang nano-nano norak itu juga membuatnya ingin lagi-dan-lagi. Insting si sapi mengatakan bahwa cairan surgawi itu berasal dari atas. Iapun menyundul-nyundul lubang di lantai rumah di atas kepalanya, dengan lidah terjulur. Tanpa perjuangan berarti, sumber cairan roso!™ itupun ditemukannya. Walaupun tidak lagi mengalir, namun sumbernya ternyata masih lembab dengan sisa-sisa cairan. Si sapi pun dengan semangat PDI-Perjuangan mulai menjilat-jilat dengan antusias.
Nenek sontak terbangun. Beliau merasakan sensasi aneh. Sekali menoleh kebawah, disadarinya itu lidah sapi piaraan kakek. Namun sensasi itu kok makin terasa ‘dibuang sayang’. Tanpa disadari nenek malah terhanyut, tepekur dengan sensasi syurgawi itu..
Sementara, di ruang depan, kakek yang sedang menunggu kopi pesanannya, sudah mulai hilang kesabaran. Ia mulai memanggil-manggil nenek. Namun tidak ada jawaban. Kesal, dicarilah nenek ke sekeliling rumah. Kamar tidur, Dapur, kosong. Kamar mandi? Rupanya pintu tertutup. Ada sandal di depan pintu. Disini rupanya. Kakek pun menggedor-gedor dinding kamar mandi. Tetap tidak ada jawaban.
Kakek mulai dirundung cemas. Jangan-jangan nenek kenapa-kenapa…? Kakek pun menggedor-gedor pintu lagi, dengan lebih keras.
Kali ini sambil berteriak, “Neneeek!! Neneeek! Kamu tidak apa-apa??”
Nenek yang sejak tadi tidak mengacuhkan keributan diluar pintu kamar mandi, kali ini benar-benar merasa terganggu.
Beliau pun balas berteriak, “DIAAAAM!! Lidah Pendek!!”

Marah Terarah

Alkisah sepasang kakek dan nenek sedang marahan. Lebih tepatnya nenek yang sedang marah sama kakek. Mogok ngomong seharian. Sore hari, kakek yang sedih gara-gara didiemin sehari penuh, duduk bertopang dagu di tangga depan rumah panggung mereka.
Tak lama nenek keluar pintu rumah, hendak pergi menengok cucu. Setelah melewati kakek dengan dinginnya, sekilas dia menoleh ke belakang. Tidak lupa memasang pandangan dingin nan sinis. Namun tatkala pandangannya terantuk ke arah selangkangan kakek (yang terbuka lebar lantaran kakek mentangkring dengan hanya mengenakan sarung tanpa cawat, sedangkan sarungnya ngowoh ditiup angin), terenyuhlah hatinya, mendapati sesuatu yang layu disana…
Kontan nenek mengulurkan tangannya, membelai dengan lembut.
“Jangan sedih,” katanya.
“Nenek marah sama kakek, bukan sama kamu…

Sinyal Instan

Ini sebuah MOP yang – berkat reputasi tokoh utamanya – banyak diyakini oleh warga Jayapura sebagai kisah nyata. Alkisah Lukas Enembe, pada masa-masa kampanye gubernur pada awal tahun 2006, dalam satu dari banyak lawatan politiknya ke Jayapura, suatu hari mengunjungi sebuah counter seluler.

Lukas : Saya mau hape yang paling mahal yang ada disini.
Koh : (tertegun; “Wah kayaknya pernah liat di tivi nih orang”) Err… kalo Nokia E90 mau, pak?
Lukas : Ya, itu saja. Kasih dua. Sekalian dengan kartunya juga.
Koh : Kartunya mau pake yang apa, pak?
Lukas : Simpati saja.
Koh : Oke. (isyaratkan anak buah untuk siapkan paket yang dibeli)
Koh : Ngomong-ngomong, ini hape untuk anak buah ya pak?
Lukas : Ya, ini untuk tim sukses saya di Yahukimo.
Koh : 😯 Yahukimo?
Koh : Setau saya di kabupaten itu belum ada sinyal Telkomsel pak.
Lukas : Oh? (melirik sedikit)
Lukas : (tetap cool) Kalo begitu sekalian tolong bungkuskan sinyal dua.


WANTED


Fritzter D. Loki

DEAD OR ALIVE

β 666,000,000

Currently Peeking

Categories

November 2008
M T W T F S S
    Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930