Interview Blues

Prelude

Cari kerja itu susah. Itu tidak perlu dikatakan dua kali. Cari kerja itu susah Dalam kasus saya, lebih adil kalau saya bilang cari kerja itu susah-susah gampang. Mengapa ada gampangnya? Karena saya hidup di Papua, provinsi paling terbelakang di negeri ini, dan sejak masih sekolah saya sudah memilih bidang expertise yang walaupun secara universal termasuk sepele basic, namun disini masih dianggap sebagai barang mewah : Bahasa Inggris.

Ya, di ibukota Provinsi ini, tempat saya tinggal, dapat dihitung dengan jari jumlah guru Bahasa Inggris yang tahu bahwa steak dan stick itu tidak sama cara bacanya, atau bahkan bahwa akhiran –ing itu tidak halal dipakai di se–mu–a kalimat. Menyedihkan bukan? Itu di bidang pendidikan. Di bidang yang lebih saya sukai, bidang penerjemahan, kondisinya lebih menggiurkan lagi : dimana skill yang dibutuhkan dari seorang ahli bahasa non-guru benar-benar murni skill bahasa, tanpa dikaburkan oleh penguasaan teknik mengajar, kemampuan inspirasional, disiplin, manajemen kelas maupun tetek bengek tai sapi lainnya. Disinilah saya bisa merajalela, disinilah gampangnya.

Lalu susahnya dimana? Well, dalam petualangan mencari nafkah dalam kurun waktu 2003 sampai 2008, 5 tahun paling menyenangkan sekaligus paling keras dalam hidup saya sejauh ini, saya sudah menjalani 7 kali job interview. 4 Diantaranya oleh expat, sisanya oleh anak bangsat sendiri. 3 dari 4 wawancara dengan expat itu berbuah sukses, sementara 3 wawancara oleh orang Indonesia semuanya gagal. Padahal 3 kali karir saya di 3 institusi internasional (MSF, EF, EU) ini masing-masing hanya bertahan selama 6, 18 dan 10 bulan. Alhasil secara kumulatif dalam 5 tahun ini saya hanya bekerja selama 36 bulan, dan menganggur 2 tahun (rasio yang positif sih, but still…). Disinilah susahnya. Saya tidak pernah menyangka kalau ternyata jauh lebih mudah menghadapi expat daripada orang sendiri.

Dalam tulisan ini saya ingin berbagi tentang betapa menjengkelkannya ”susah” yang saya maksud itu. Ini karena kesusahan itu sebenarnya terkesan dipaksakan, yang sebenarnya tidak harus susah jikalau semua orang bersikap waras dan tidak berusaha berlaku (yang membuat saya) sinting. Dalam usaha menyeberangkan pesan ini ke benak pembaca, dalam cerita ini saya akan mendongengkan segala drama jatuh-bangun-jatuh saya terkait dengan 7 wawancara kerja itu.

Tokoh-tokoh dalam cerita sengaja saya tulis nama kecilnya saja demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, berhubung mereka semua benar-benar ada dan bukan tokoh rekaan.
Untuk menghindari kelelahan dan kebosanan yang membaca maupun yang menulis, saya akan membagi cerita ini dalam beberapa bagian.
Ini adalah cerita bagian pertama. Here goes.

First Interview, First Job, Dream Job

Kesempatan pertama saya merambah dunia kerja datang secara tidak sengaja. Waktu itu Maret 2003, masih kuliah semester lima. Musibah kecil-kecilan sedang melanda usaha pengetikan komputer saya. Salah satu pelanggan saya ditangkap polisi karena memalsukan tanda tangan Gubernur, pada dokumen yang saya ketik. Saya juga dipanggil sebagai saksi, dan sialnya satu-satunya PC yang saya punyai harus disandera sebagai barang bukti di pengadilan. Ketidak pastian persidangan dan tidak adanya perkiraan waktu kapan komputer saya bisa kembali, membuat saya mengambil keputusan untuk mengambil cuti akademik.

Di tengah kabut ketidak-pastian ini, datanglah seorang teman menawarkan job. Ada expat datang ke kampus, katanya. Namanya Magdalena, hereafter refered to as Magda, bermaksud mencari part-time Translator untuk dipekerjakan di sebuah humanitarian NGO yang dipimpinnya. NGO ini bernama Médecins Sans Frontiéres, atau Doctors without Borders atau Dokter Lintas Batas, hereafter referred to as MSF. Rupanya setelah minggu-minggu sebelumnya gagal merekrut melalui jalur formal – menghubungi petinggi kampus dan disodori dengan calon-calon dengan kualitas mengecewakan – Magda memutuskan untuk memakai caranya sendiri, dan langsung berkeliaran mewawancarai setiap mahasiswa FKIP Bahasa Inggris yang dia temui.
Anto, teman saya itu, dan satu orang lagi senior kami, ternyata menarik perhatian si expat setelah ia bersusah payah seharian penuh (“how come only two of these supposedly english-teacher candidates actually speak English?”). Tapi untungnya buat saya, mereka berdua menampik tawaran tersebut karena masih harus konsen ke studi. Anto-the-benevolent memberikan no. HP Magda pada saya, setelah sebelumnya berpesan pada si expat bahwa nanti dia akan dihubungi oleh kamerad yang “not less competent than the two of us”.

Singkat kata, saya hubungi nomor yang diberikan Anto, bikin janji keesokan harinya, interview + tes tertulis dan diterima hari itu juga. Tidak ada kesulitan berarti. Untuk ukuran pengalaman pertama, mulusnya segala proses ini begitu memanjakan. Kelak saya akan menyadari betapa pengalaman pertama ini sama sekali tidak menolong dalam menghadapi pergulatan-pergulatan job-seeking selanjutnya.

Enam bulan bersama MSF boleh dibilang adalah masa-masa terbaik dalam riwayat kerja saya yang masih pendek ini. Saya sangat menikmati 6 bulan ‘kerja-kerjaan’ itu. Ya, setiap hari mengerjakan pekerjaan yang saya senangi, lebih terasa seperti petualangan daripada pekerjaan. Kesenangan Tugas utama saya sehari-hari cuma menyeleksi berita di koran-koran harian lokal, yang relevan dengan misi MSF, lalu terjemahkan. That’s it. Selebihnya menjadi interpreter dalam diskusi-diskusi internal dan eksternal. Piece o’cake. Sementara hasil kerja saya lumayan ’dipandang’ – saya menjadi rujukan untuk 2 kantor cabang MSF di 2 kota lain. Mereka juga punya (full-time, graduate) translator, tapi sejak melihat hasil kerja saya yang diemail oleh Magda, segala dokumen yang perlu diterjemahkan selalu dikirim ke kami. Akhirnya translator mereka cuma jadi pajangan.
Pulang kerja saya selalu sowan ke rental PS terdekat dan mendekam disitu sampai malam. Bubar dari situ, singgah di video rental, sewa film, pulang, nonton sampai tengah malam, lalu tidur. The next day, nothing but de ja vu. A really, really good life.

Second Interview, First Shit

September 2003. Cuti akademik berakhir. Komputer saya pun sudah lama kembali. Tidak ada lagi alasan untuk tidak mundur dari MSF. Saya harus kembali kuliah. Kembali berkutat dengan balada usang kuliah-sambil-kerja.

Dua tahun berlalu. Oktober 2005, saya memasuki semester kesebelas. Teman-teman seangkatan sudah bisa dihitung dengan jari. Satu lagi episode sulit harus saya jalani. Usaha fotokopian milik ibu saya terpaksa bubar karena tempat yang kami sewa direnovasi, dan ibu saya enggan berinvestasi menyewa tempat lain yang letaknya sama strategisnya dengan tempat ini, karena harganya yang jauh lebih mahal. Memang, kami bisa menyewa tempat usaha di tengah jantung kota dengan harga murah karena pemiliknya adalah teman almarhum bapak saya dulu. Ini berarti usaha pengetikan saya, yang numpang disitu, terpaksa harus bubar pula.
Jadilah saya terpaksa mencari kerja part-time. Ini pilihan mutlak jika saya ingin melanjutkan kuliah. Meminta pada ibu saya sama sekali bukanlah pilihan.

Setelah riset kanan-kiri, saya sampai pada kesimpulan pahit : satu-satunya pekerjaan part-time yang bayarannya layak dan menyediakan shift siang adalah pekerjaan yang paling saya tidak sukai : mengajar. Dari sekian banyak NGO asing yang bertebaran, tidak ada lagi yang mempekerjakan penerjemah part-time. MSF sudah bubar setahun sebelumnya, setelah mendapati misi kesehatan mereka di Papua tidak menemui hasil yang dikehendaki.

Saya memilih salah satu kursus bahasa Inggris yang lumayan terkemuka di kota saya. Inisialnya WC. Kelak saya akan menyesal karena tidak menyadari apa sebenarnya yang menunggu saya di dalam WC itu. Proses lamaran di WC terbukti jauh beda dibanding MSF. Saya baru dipanggil seminggu setelah meninggalkan surat lamaran, yang notabene dilampiri ‘working certificate’ ber-kop MSF. Padahal saya berharap pengalaman kerja di institusi asing, walau cuma 6 bulan, akan menjadi label yang mentereng bagi seorang pelamar kerja. Nyatanya, setelah diberi tes tertulis (terjemahan) dan tes listening, saya disuruh pulang – untuk menunggu 2 minggu lebih sebelum dipanggil lagi.

Pada panggilan kedua, lagi-lagi diberi tes. Kali ini tes mengajar. Muridnya campuran anak SMP dan SMU. Yang terlalu, itu adalah pengalaman pertama saya mengajar in real life. Di kampus ada beberapa mata kuliah yang mengandung praktek mengajar – micro teaching misalnya – tapi sedihnya tidak pernah saya ambil. Tapi syukurlah, saya bisa melewati ujian itu dengan (menurut saya) sukses. Indikatornya : murid-murid sudi berinteraksi dengan saya, tidak ada yang sengaja berulah pada saat saya mengajar, mereka banyak bertanya dan saya banyak menjawab. Di kursi paling belakang ada seseorang yang duduk sambil sesekali mencatat sesuatu dalam buku kecilnya. Rupanya orang ini yang bertugas menilai saya. Entah apa saja indikator yang dia pakai.

Keluar dari kelas, akhirnya saya diwawancara. Langsung berhadapan dengan owner. Inisialnya S (saya harus pakai inisial karena beliau orang Jawa yang namanya cuma 1 kata). Begitu saya masuk ruangan, matanya langsung tertuju ke kaki saya. Saya waktu itu cuma pakai sandal kulit dan kaos oblong (sengaja. Jayapura panas lho). Btw, ini kostum bertema sama dengan yang saya kenakan pada saat interview dengan Magda dulu. Pandangan matanya langsung berubah seolah-olah dia baru saja melihat tai sapi. Mungkin dia berharap saya akan memakai sepatu. Atmosfir buruk langsung saya rasakan. Apalagi ada fakta yang menggelitik di gedung kursus ini : di setiap dinding ruangan kelas ada foto seorang berambut brekele dengan jubah merah dalam pose ”memberkati”. Foto di ruangan pak S ini yang paling besar dari semua.

Kelak, setahun kemudian saya akan mengetahui bahwa pria dalam foto-foto itu dikenal sebagai Sai Baba, seorang self-claimed messiah dari India yang mengaku ’tidak berawal dan tidak berakhir’.
Satu ketika seorang teman yang pernah juga melamar ke WC menceritakan pengalamannya bercengkerama dengan pak S. Kata-katanya yang legendaris, ”You lihat dua kursi sofa di belakangmu itu? Saya biasa lihat Sai Baba dan Yesus duduk ngobrol di situ.”
Charming guy, eh?

Akhir dari kilas maju™.

Jadi, sambil melihat-lihat berkas hasil tes saya, pak S memulai interview.
“Saya dapat laporan, di dalam kelas kamu merkenalkan diri pake nama ‘Fritz’. Betul itu?”
”Yak.”
”Kan itu bukan nama asli kamu?”
”Itu nama panggilan pak. Semua orang manggil saya gitu.”
”Tapi kenapa kamu ndak ngasih tau nama asli kamu ke murid-murid?”
”Karena gak ada yang nanya pak.”
”Tapi waktu ada yang nanya nama belakang kamu, kok kamu jawab ’Kennedy’?”
(Terkekeh) ”Itu bercanda pak, untuk mencairkan suasana. Lagian mereka tau kok kalau saya bercanda” (Orang ini dari gua prasejarah mana sih?)
”Bagemana kamu tau?”
”Lha kan pada ketawa. Saya juga ketawa.”
”Terus sudah sampe disitu kenapa kamu masih belum ngasih tau nama aslimu?”
”Karena belum juga ada yang nanya pak.”
Alis pak S berkerut. Menghela napas.
”Hasil tes tertulis kamu…… cukup bagus.”
Jauh di atas rata-rata, maksudmu?
”Tapi sayang, satu kelemahan kamu sudah kelihatan,” katanya.
”Kamu rupanya punya krisis identitas, dan krisis kepercayaan diri. Kelemahan mental seperti ini berpengaruh sekali sebagai seorang guru…”

What the f-f-f-fuck? It was a fuckin’ joke, you retard!

Saya sama sekali tidak berusaha memingkemkan mulut saya yang melongo lebar. Dari pengalaman saya selama sekolah dididik oleh orang-orang Orba, saya tahu pada titik ini kebijakan paling mujarab adalah ’diam itu emas’.
Tapi karena saya bukan diam sambil manggut-manggut dengan lidah terjulur siap menjilat, melainkan diam sambil melongo lebar, rupanya kebijakan ini jadi kurang efektif.
Pak S mengalihkan pandangannya ke berkas saya dan menulis sesuatu.

”Lalu,” lanjutnya,
”Saya lihat aura kamu juga bukan aura guru.”
”Eh, maksud bapak saya bau? Kebetulan deodorant saya habis pak.”
Maksud saya cara kamu berpakaian, cara kamu bicara, cara kamu membawa diri,” dia berlagak tidak mendengar omongan saya barusan.

Cerita usang. Mati-matian saya menahan lutut saya yang dari tadi sudah tidak tahan ingin menghentak membawa saya minggat keluar dari tempat celaka itu.
Saya terus berkomat-kamit dalam hati : You fuckin’ need this job, man. Play along.

“Apa jadinya kalau itu semua kamu bawa ke dalam kelas?”
Say something nice. Don’t get sarcastic. Say something polite.

“Teaching is acting, pak.”
Giliran dia melongo. Mungkin ini pilihan yang salah. Whadda hell, lanjutkan saja.
“Mengajar itu akting. Menurut saya seorang guru tidak harus membawa pribadinya ke dalam kelas, sebaliknya siapa dia di dalam kelas juga tidak perlu terus diobral keluar.”
”Di dalam kelas, guru harus selalu siap mengambil dan memainkan karakter apapun yang dibutuhkan oleh mood kelas pada waktu itu.”
”Jadi apa dan bagaimanapun saya, itu sama sekali gak ada hubungannya dengan bagaimana saya mengajar.” ”Pak.”
Bagus sekali. Mudah-mudahan dia terkesan. Wong saya saja terkesan.

Pak S mengangkat alis. Menghela napas. Menutup map berkas hasil tes saya. Bukan gelagat baik. ”Sebagai pimpinan, kalau saya ingin memasukkan seseorang ke dalam jajaran staf saya, ke dalam kantor saya, saya harus yakin bahwa orang itu bisa cocok dengan atmosfir yang sudah ada di dalamnya.”
Oh? Bisa jadi gelagat baik ini. Saya perbaiki gaya duduk saya. Sok mendengar dengan seksama.
”Kamu tau syarat utama untuk kerja disini?”
O, I’ve got a goooood feeling ’bout this.
”Uhm, belum tau.” ”Pak.”
”Disini dilarang pelihara kumis.”

What the f-f-f-flyin’ fffffuck????

”Alasannya, pak?”
“Itu ndak penting.
Yang jelas, selama kursus ini berdiri, siapapun yang melanggar aturan itu, adaaa saja kesulitan yang menimpa dia.”
Lagi-lagi saya melongo.
”Pokoknya, siapapun yang sekiranya tidak cocok dengan kursus ini, pasti karena satu dan lain hal dia sendiri yang akan mundur.”
”Kursus ini ada yang menjaga…..”

Oke, saatnya minggat. Persetan dengan tempat ini. S masih terus mengigau, mendongeng tentang mantan-mantan karyawannya yang ternyata ’tidak cocok’ dengan dia, dan bagaimana dia tidak harus berbuat apa-apa untuk menyingkirkan mereka, malahan mereka sendiri yang pada akhirnya mengundurkan diri karena berbagai mukjizat gelap yang menimpa mereka…
”Sebentar, pak.” saya mengangkat tangan, isyarat supaya dia berhenti.
”Saya masih ada keperluan. Sekarang ini apa bapak sudah bisa ngambil keputusan? Atau saya masih harus nunggu lain hari?”
S mengatupkan bibirnya. Jelas tidak senang karena ocehannya dihentikan.
”Yah, kamu stand by saja. Nanti akan dihubungi.”
“Permisi pak.” Saya berdiri, dan tanpa menunggu dipersilahkan langsung angkat kaki dari situ. Saya marah, dan amat-sangat muak waktu itu. Berani-beraninya orang-orang sinting ini membuang-buang waktu saya. Tiga minggu saya dibuat menunggu hanya untuk disuguhi kebodohan.

Third Interview, Second Job

Keluar dari WC, saya hampir saja merobek-robek fotokopian resume yang masih saya tenteng. Ini kedua kalinya saya diminta membawa dokumen yang sama, dengan alasan dokumen yang dulu hilang. Ternyata hanya false alarm.
Tetapi kelak saya akan sadar bahwa this was actually a good thing.
Pasalnya, di detik yang sama saya teringat gedung EF English First yang baru saja selesai pembangunannya. Dengar-dengar malah sudah diresmikan dan sudah operasional. Kira-kira 3 bulan sebelumnya saya pernah iseng mampir ke toko kecil di sebelah areal pembangunan gedung EF itu. Disitu ada pemberitahuan kecil : ”Meja administrasi sementara EF English First Jayapura. Menerima pendaftaran karyawan dan murid baru.” Saya iseng bertanya kriteria apa yang dibutuhkan untuk posisi tutor. Mbak yang ada disitu lalu memberitahu kalau EF hanya menggunakan pengajar native speaker, alias bule only. Saya cuma “Ooo…” saja waktu itu.

Akhirnya, daripada bete terus gara-gara WC, saya putuskan mampir ke EF, sekedar meninggalkan CV dan resume. Toh tidak ada salahnya mencoba.
Sesampainya disana, setelah menyampaikan maksud kedatangan, salah satu course-consultant (baca : resepsionis) mengulangi lagi pada saya apa yang pernah dikatakan mbak di toko sebelah yang dulu itu. Tapi dia tetap akan menyampaikan CV dan resume yang saya beri ke upstairs. Kalau ternyata Bos tertarik, saya akan dihubungi.
Saya manggut-manggut saja, toh saya tidak terlalu berharap. Selanjutnya permisi pulang.

Sesampai di rumah – hanya 15 menit naik angkot dari EF – belum sempat saya duduk, tiba-tiba HP bunyi. Saya angkat; whaddya know, it’s EF! Bule di ujung sana memperkenalkan diri sebagai Chris, jabatannya Director of Studies, atau DOS. Dia mengaku tertarik dan menawarkan interview.
“When do you want me?”
“Well I’m going to get lunch in an hour. If we can have the interview before then, that would be great. How fast can you get here?”
“I’ll be there in 10 minutes.”
Sambil melompat-lompat kegirangan saya berlari keluar rumah. This is fuckin’ great!

Kesan pertama yang saya dapat dari Chris adalah betapa miripnya orang ini dengan Clark Kent. Selain dari itu saya sama sekali tidak merasakan gap apapun berhadapan dengan dia. Mungkin karena dia juga mengenakan kaos oblong waktu itu. Tidak ada aura intimidatif, sok ngebos, londo-to-inlander atau semacamnya itu dari dia.
Interview yang lebih mirip obrolan ringan itu berjalan tidak lebih dari 15 menit.
”So when can you start, Fritz?”
This dude is unbelievable.
“Tomorrow. Hell, I can start today if you want.”

Syahdan, keesokan harinya dimulailah 18 bulan paling berkesan dalam riwayat saya sebagai ‘pekerja.’ 18 Bulan itu menjadi saksi banyaknya perubahan-perubahan dalam kualitas hidup saya. Banyak yang saya dapatkan selama bekerja di EF. Keberanian menghadapi phobia saya terhadap mengajar, tantangan-tantangan baru, kenalan-kenalan baru, sampai membeli sepeda motor pertama saya.

Akhir bagian pertama.
Estimated time to sequel: Kapan-kapan™.

Advertisements

22 Responses to “Interview Blues”


  1. 2 jensen99 November 2, 2008 at 7:21 am

    …Saya biasa lihat Sai Baba dan Yesus duduk ngobrol di situ.”

    Quote of the Day! :mrgreen:

    orang itu pasti biasa ngisep ganja

  2. 3 lambrtz November 2, 2008 at 7:36 am

    @fritzter

    Cari kerja itu susah. Itu tidak perlu dikatakan dua kali.

    Yap. Saya melamar 7 pekerjaan, baik part-time atau full-time, cuma 1 yang lolos. Itupun “cuma” part-time; yang full-time belum pernah lolos.
    Tapi banyak juga orang menyebalkan yang bisa lolos pada wawancara pekerjaan pertamanya…

    @jensen99

    orang itu pasti biasa ngisep ganja

    Some say that psychedelia experience will give you spiritual enlightenment, no? :mrgreen:

  3. 4 Fritzter November 2, 2008 at 8:04 am

    @jensen
    orang itu pasti biasa ngisep ganja
    Kalo ngisep kontolnya sendiri sering kale 😆 .

    lambrtz

    Tapi banyak juga orang menyebalkan yang bisa lolos pada wawancara pekerjaan pertamanya…

    Hey, hey, hey! :mrgreen:

    Itu keberuntungan sebagai bayaran setimpal atas kesialan yang datang sebelumnya.

    Err.. kamerad muslim yang lain menyebutnya ‘hikmah’.
    50% itu, 50% lagi karena emang gak ada saingan lain.
    Believe you me, it’s a small town 😀 .

  4. 5 Fritzter November 2, 2008 at 8:06 am

    @lambrtz

    Some say that psychedelia experience will give you spiritual enlightenment, no? :mrgreen:
    Err…. no, I guess.

  5. 6 lambrtz November 2, 2008 at 8:26 am

    Ups maaf Mas…lupa menyebutkan kalau kalimat ini:

    Tapi banyak juga orang menyebalkan yang bisa lolos pada wawancara pekerjaan pertamanya…

    mengacu ke beberapa teman kampus saya yang sudah dapat pekerjaan pada wawancara pertama. Baru beberapa hari yang lalu adik kelas saya bingung, dua wawancara pertamanya tembus semua, terus tanya saya enaknya ambil yang mana, Halliburton atau Total. Dueng…

    ^^;

    (maaf lagi, tolong dihapusin yang atas. Salah quote lagi. Terima kasih ^^. Kenapa salah terus ya…)

  6. 7 Fritzter November 2, 2008 at 10:32 am

    @lambrtz

    Wah kalo manusia model gitu emang siyalaaan .
    Di kampus saya juga ada beberapa yang kaya gitu.
    Tapi yang paling kuamprwet dari semua itu anak2 yang gak ngapa2in malah ditawari om, tante atawa sanak sodara utk ngisi lowongan di t4 mereka yang sengaja gak diiklankan supaya bisa masukin keluarganya.
    Yang model gini paling kenyang mblengerrr 🙄 .

  7. 8 dnial November 3, 2008 at 12:08 am

    Me in the third. Third is the lucky number I guess. 😛
    Sangat menyenangkan mbaca postinganmu.

    *mencari boss expat*

  8. 9 yanderzon November 3, 2008 at 4:52 am

    He..he… :)…Fritz…fritz…kegagalan kan sukses yang tertunda…lagian setiap kegagalan kan ada maksud Tuhan…toh akhirnya qo dapat Job & t4 yang lebih mantap khan??? kegagalan kan bagian dari hidup, semua manusia pasti dapat bagian masing-masing…yang jelas sedikit bernubuat untuk qo…asal sabar dalam setiap kegagalan qo akan dapat pekerjaan besar yang qo tra kira sebelumnya…the best lah…(actually i’m not prophet…)

  9. 10 Fritzter November 3, 2008 at 6:20 am

    @yanderzon

    *super-tolerance mode on*

    Tapi yang jadi ukuran kan status terakhir. Sudah 10 bulan ini sa trada kerjaan tetap.

    …(actually i’m not prophet…)

    Ya lah mana ada nabi cabul 😆 :mrgreen: 😆 .

  10. 11 Fritzter November 3, 2008 at 6:23 am

    dnial

    Terima kasih.
    Selamat berjuang :mrgreen: .
    Banzai!!

  11. 12 omoshiroi_ November 6, 2008 at 10:14 am

    ^menunggu posting lanjutannya^

  12. 13 Fritzter November 6, 2008 at 1:45 pm

    @omoshiroi

    Terima kasih sudah mampir 😀 .
    Sama, saya juga masih nunggu 😆 .

  13. 14 lambrtz November 6, 2008 at 3:48 pm

    Sama, saya juga masih nunggu 😆 .

    Lah, yang punya aja nunggu, kapan jadinya? 😕

  14. 15 Fritzter November 7, 2008 at 5:52 am

    Nunggu mood :mrgreen: .
    Lagian kerjaan maseh numpuuuuuuuk…
    *menggelepar*

  15. 16 och4mil4n November 20, 2008 at 11:35 am

    woghhh di jayapura dah ada EF to??? (woot)

    duh, kasian ngakak abis nih baca interview kedua itu. tapi betewe, gaya kamu sama kayak papa ku yg juga guru bhs inggris di Sorong.

    kerennn… semoga kapan2 bisa ketemu yaaah. kita harus buat kumpulan bloger papua nih 😀

  16. 17 Fritzter November 20, 2008 at 2:27 pm

    Hooo? Ada om-om yang sama gaya dengan saya? 😯
    Perlu dicari itu. Perlu itu.

    Yah kapan2 kalo mampir ke Jayapura mungkin kita bisa kopdar bareng jensen :mrgreen: .

    Eh, kumpulan blogger papua?
    Saya lebih sreg “kumpulan blogger berlokasi Papua” 😆
    Soale kalo suatu saat saya sudah gak di Papua lagi saya mungkin gak terlalu antusias ngaku berasal dari Papua.

  17. 18 sunsettowner December 3, 2008 at 12:03 am

    thanks to “comicjunkie” i got this page, deserves a speed dial on my browser.
    way to go fritz, this beautiful corner of papua is no longer that bad.

  18. 19 sunsettowner December 3, 2008 at 12:14 am

    be there (jpr) on da 3rd week sa su bilang yermi.
    BTW being a PNS (civvie serpent??) is not fun at any degree but…. my “jobdesc” here is “jaga internet so be seing/reading you a lot

  19. 20 Fritzter December 3, 2008 at 10:30 am

    @sunsettowner
    “comicjunkie”.. Oh pasti itu si agenminyak 😆

    It’s about time you showed up, mate!

    *gelar karpet merah*

    MC: “The teenage civil serpent is in the building” 😆

  20. 21 sunsettowner December 20, 2008 at 2:49 pm

    ^^
    besok ke rumah ambil salak, gak perlu bawa karpet


  1. 1 Interview Blues 2 « Fritzterealm Trackback on July 31, 2010 at 4:49 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




WANTED


Fritzter D. Loki

DEAD OR ALIVE

β 666,000,000

Currently Peeking

Categories

November 2008
M T W T F S S
    Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930