Archive for the 'Rawon Setan for the Soul' Category

Tentang Kedewasaan

Terlambat kalau kamu baru nakal sekarang.

– Anonim, 1998.
Kalimat di atas diucapkan seorang teman sekolah di masa SMU, secara sambil lalu saat berpapasan di teras kelas. Saat itu saya bersama beberapa rekan sepermainan kebetulan lewat di depan kelas yang bersangkutan, dalam perjalanan madol dari pelajaran PPKn. Kebetulan beliau seorang cewek, dan kebetulan saya tidak kenal dekat dengannya; satu kelas pun tidak. Walau mungkin bukan kebetulan jika ia merasa kenal cukup dekat dengan saya, sehingga merasa cukup pantas menyemburkan kritik pedas nan sarkas macam sedemikian.

Saat itu omongan tersebut tidaklah saya anggap terlalu berarti. Di telinga saya ia terasa tidak beda dengan jeritan histeris penggemar berani-mati di hadapan seorang selebriti. Adalah belakangan ini, interaksi teranyar dengan khalayak sekitar, tingkah laku kenalan-kenalan baru, yang telah sekonyong membawa ingatan saya kepada ujaran teman satu itu. Saya jadi beberapa jenak merenung, menyoal satu barang yang berjudul ‘kedewasaan’. Apakah saat itu, semasa kelas dua SMU, saya sudah diwajibkan menjadi seorang yang dewasa ? Sehingga asosiasi dengan kenakalan sudah dipandang begitu wagu, tidak pada tempatnya ? Sampai-sampai seorang yang saya-sekedar-tahu-nama-saja bisa merasa perlu melontarkan teguran ?

Lalu bagaimana dengan sekarang ? Apakah saya sudah lebih dewasa daripada tigabelas tahun silam ? Memangnya seperti apa pula ‘dewasa’ itu ? Untuk menjawab pertanyaan ini saya telah memerlukan untuk merenung lebih terenyuh, menelaah kembali ingatan saya terhadap sikap dan tindak-tanduk manusia-manusia tertentu dalam lingkungan sosial saya. Baik di buana nyata maupun di pranata maya. Manusia-manusia, kepada mana tersemat label sosial tak kasat mata bertuliskan ‘dewasa’.

Hasil renungan beberapa jenak itu menghasilkan temuan tentang beberapa ciri khas. Prasyarat. Sifat-sifat wajib. Atau semacam itulah. Yang kerap ditemukan melekat kepada manusia-manusia konon dewasa dimaksud. Temuan-temuan inilah yang saya utarakan satu persatu di sini.

Baca selengkapnya

Advertisements

Interview Blues 2

Sekuel dari Interview Blues

PERINGATAN
Tulisan ini tidak ada gambarnya 😆


Continue reading ‘Interview Blues 2’

Best Commercial Jingle Ever!!!

Ooo YEAAHHHHHH 😈

Apakah Hello Plagiator?

Ini Ular Berbisa dari Hello :

Ini Breaking the Rules dari Michael Learns to Rock :

Di telinga saya yang buta nada, yang mirip cuma refrain-nya.
Entah di telinga yang lain.
Kalau memang mirip, cukupkah itu untuk menyebut Hello sebagai plagiator ?

Aku tertipu
If you don’t give me more
than muslihatmu
Aku terjebak
Gonna act like a fool..

Mengapa saya kuliah sampai 7 tahun

shevapatoseven2

Alasan
Pertama-tama, ijinkan saya membeberkan 2 alasan sederhana yang menjadi prima kausa leletnya kuliah saya. Tentunya alasan-alasan tersebut adalah berpulang pada diri pribadi saya sendiri.

Alesan aja! Gombal mukiyo!

Saya vs PLN

Prelude

Saya mengalami getaran inspirasi yang begitu hebat waktu membaca post Manusia Super a.k.a Mansup dan Amed tentang pelayanan listrik PLN di daerah mereka. Saya lalu teringat pengalaman pribadi saya yang sebenarnya sempat masuk daftar kejadian-kejadian yang ingin saya tuangkan dalam tulisan. Namun entri ini sempat mengalami degradasi nilai berita di mata saya, sampai kemudian saya membaca tulisan Mansup dan Amed tadi. Walaupun saya juga berminat dengan novel gratis sebagai hadiah sayembara yang diadakan Mansup, saya sadar bahwa dari segi lokasi, pengalaman saya ini tidak masuk dalam batasan tema yang digariskan.
Namun sesungguhnya saya sudah cukup puas bisa sekedar membagi pengalaman, dan tentunya menyuguhkan satu mangkok imajiner Rawon Setan untuk Jiwa. Mudah-mudahan bermanfaat.

Narasi

Ini kejadian dua bulan lalu, Oktober 2008. Seperti biasa, saya menjalani ritual 4 bulanan bayar rekening listrik. Kenapa harus menunggu 4 bulan, anda bilang ?

  1. Karena saya bisa™.
  2. Karena PLN tidak layak dibayari tepat waktu.

Mengetahui trend pemakaian listrik bulanan rumah kami yang berkisar antara 70 sampai 90 ribu Rupiah, saya sudah menyiapkan uang 400 ribu di kantong. Namun, setibanya di kasir saya langsung dibuat bengong : tagihan akumulatif 4 bulan terakhir adalah Rp. 633.650,-!!!
Setelah meminta printout, saya kembali melongo demi melihat angka 405.795 di bulan Agustus.

Klik untuk memper<i>kecil</i>

Klik untuk memperkecil

Terus mau diapakan?

Interview Blues

Prelude

Cari kerja itu susah. Itu tidak perlu dikatakan dua kali. Cari kerja itu susah Dalam kasus saya, lebih adil kalau saya bilang cari kerja itu susah-susah gampang. Mengapa ada gampangnya? Karena saya hidup di Papua, provinsi paling terbelakang di negeri ini, dan sejak masih sekolah saya sudah memilih bidang expertise yang walaupun secara universal termasuk sepele basic, namun disini masih dianggap sebagai barang mewah : Bahasa Inggris.

Ya, di ibukota Provinsi ini, tempat saya tinggal, dapat dihitung dengan jari jumlah guru Bahasa Inggris yang tahu bahwa steak dan stick itu tidak sama cara bacanya, atau bahkan bahwa akhiran –ing itu tidak halal dipakai di se–mu–a kalimat. Menyedihkan bukan? Itu di bidang pendidikan. Di bidang yang lebih saya sukai, bidang penerjemahan, kondisinya lebih menggiurkan lagi : dimana skill yang dibutuhkan dari seorang ahli bahasa non-guru benar-benar murni skill bahasa, tanpa dikaburkan oleh penguasaan teknik mengajar, kemampuan inspirasional, disiplin, manajemen kelas maupun tetek bengek tai sapi lainnya. Disinilah saya bisa merajalela, disinilah gampangnya.

Segampang itukah?


WANTED


Fritzter D. Loki

DEAD OR ALIVE

β 666,000,000

Currently Peeking

Categories

September 2017
M T W T F S S
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930