Archive for the 'MOP' Category

Necis tanda Tak Dalam

Joko yang lahir dan besar di daerah transmigrasi di Arso, Papua, untuk pertama kalinya turun ke “kota” Jayapura dengan berbekal selembar kertas bertuliskan alamat persinggahan sementara.
Setibanya di lingkaran Abe, turun dari angdes, ia mulai menengok kanan-kiri mencari orang yang sekiranya tahu tentang alamat yang dipegangnya. Pilihan pertama jatuh pada seorang pemuda berseragam SMU.
Joko: Permisi dik, numpang tanya. Apa di sini “Jalan Raya Sentani” ?
Narsum #1: Yo’i.
Joko mengernyitkan kening, kurang paham dengan jawaban itu. Tapi ia tidak mau berpanjang lebar, segera mengucapkan terima kasih dan mencari orang lain lagi yang jawabannya kira-kira lebih jelas. Dihampirinya seorang penjual pulsa pinggir jalan, yang sedang sibuk dengan HPnya.
Joko: Permisi mas, numpang tanya. Apa di sini “Jalan Raya Sentani” ?
Narsum #2: Ho’oh.
Joko mengernyitkan kening lagi. Jawaban ini juga masih kurang jelas baginya. Tapi kali inipun ia tak mau berpanjang lebar, karena ia kebetulan melihat seorang berpakaian safari kuning dengan kacamata gelap. Orang itu menenteng tas kotak hitam bergambar logo beringin. Ah, orang pinter ini, batin Joko. Segera dihampirinya sosok necis itu.
Joko: Permisi pak, numpang tanya. Apa di sini “Jalan Raya Sentani” ?
Narsum #3: Ya, benar.
Joko: Ah, terima kasih pak.
Joko: Eh, saya boleh nanya lagi pak ?
Narsum #3: Oh boleh saja. Silakan.
Joko: Gini pak, dari tadi saya nanya orang-orang di sini soal jalan, kok jawabannya ndak ada yang jelas.
Narsum #3: Memangnya apa saja jawabannya ?
Joko: Ada anak SMA yang bilang “yo’i”. Itu opo to maksudnya pak ?
Narsum #3: Oh, itu tandanya dia anak gaul. Biasa itu bahasa gaul, artinya “ya”.
Joko: Oooo (manggut-manggut)
Joko: Ada lagi yang bilang “ho’oh”. Kalo’ itu apa pak ?
Narsum #3: Oh, kalo itu tandanya orangnya gak pendidikan, belum tau berbahasa yang benar. Ndak jelas.
Joko: Oooo (manggut-manggut)
Joko: Lha kalo njawab “ya, benar” koyo njenengan ini tandanya apa pak ?
Narsum #3: Oh, itu tandanya orangnya intelek. Paling ndak sudah Sarjana.
Joko: Oooo jadi bapak ini Sarjana ?

Narsum #3: Ho’oh.

Advertisements

Gempa gara-gara Julia Perez?

gempa-gara-gara-julia-perez

Sumber : [Mudah-mudahan iklannya belum diganti]
Pesan moral :
Jangan fast-read ! Apalagi cuma lihat gambar. 😆

Disini masih banyak…

Dua orang rekan kerja, yang satu orang Papua dan yang lain orang Jawa, yang pertama bernama Lukas dan yang terakhir bernama Joko, sedang berada di atas KM Dobonsolo en route ke Jakarta dalam rangka urusan kantor.
Saat sedang bersantai di kafetaria, mereka bertemu dengan dua orang expat. Yang satu bule Amerika dan yang lain orang Jepang. Yang pertama bernama Mike dan yang lain bernama Masao.
Dua orang ini ternyata sudah sering keliling Indonesia Timur sebagai konsultan teknis perusahaan masing-masing, dan ternyata cukup fasih pula berbahasa Indonesia. Jadilah obrolan mereka berempat sangat lancar dan menyenangkan.
Melihat kedua orang Indonesia kehabisan rokok, Mike mengeluarkan satu slof Lucky Strike dari dalam ranselnya. Dengan senang hati Lukas dan Joko mencomot masing-masing satu bungkus. Setelah ia sendiri mengambil satu bungkus, Mike lalu membuang sisa kardus slof dengan isi-isinya, ke laut.
Lukas melongo, sedangkan Joko melirik sedikit lalu berlagak tidak heran.
Lukas : Lho Mike, itu slop masih ada isinya kenapa dibuang?
Mike : (kalem) Ah, itu di Amerika masih banyak.

Lukas mengernyit, kurang senang. Langsung malas bertanya lebih jauh. Ia melirik Joko, yang masih berpose biasa-biasa saja.
Diluar sepengetahuannya, ternyata Masao juga sedang mengernyit kurang senang. Yang bersangkutan lalu mengeluarkan Canon EOS Rebel XSi, sebuah kamera digital keluaran terbaru. Ia menawarkan untuk berfoto bersama. Mereka berempat pun berpose.
Setelah selesai, Masao lalu mengeluarkan kartu memori dari dalam kamera dan menyimpannya di tas. Kemudian, melempar kamera ke laut.
Lukas, Joko dan kali ini Mike juga, melongo.
Lukas : Lho lho itu kamera kenapa dibuang?
Masao : (super-kalem) Ah, itu di Jepang masih banyak.

Oke, ini sudah kelewatan. Batin Lukas. Ia menengok ke arah Joko, yang kali ini tidak lagi bisa memulihkan bengongnya.
Lukas tiba-tiba menarik tangan Joko, dan sebelum Joko sadar apa yang sedang terjadi, tubuhnya sudah dipanggul dan dilempar ke laut.
Kali ini Mike dan Masao yang melongo bego.
Masao : I-itu kenapa masnya dibuang ke laut?

Lukas : (kalem sangat) Ah, di Indonesia masih banyak orang Jawa…

Keluarga Korban

Tokoh utama cerita ini bernama Lukas. Suatu hari terjadi tabrakan di jalan depan komplek dia. Pas sampe di tekape, ternyata sudah banyak sekali orang berkerumun, sampe-sampe radius 5 meter dari korban sudah penuh dengan pengerumun.
Lukas yang penasaran ingin melihat siapa sebenarnya korban tabrakan itu, dengan cerdik berteriak, “Minggir! Keluarga korban! Keluarga korban!”
Orang-orang pun dengan tahu diri segera menyingkir, memberi jalan kepada “keluarga korban”. Lukas, sambil senyum-senyum penuh rasa kemenangan, segera mendekati korban.

Setelah masuk jarak pandang, ternyata korban tabrakan itu adalah seekor babi.

Pemberdayaan

Ini sebuah urban legend di kota saya. Kebenarannya sudah pasti diragukan. Kejadiannya sudah lamaaa sekali, pada saat peresmian lokalisasi PSK Tanjung Elmo di Sentani, Jayapura. Alkisah beberapa tokoh pemerintahan dan tokoh masyarakat diberi kesempatan untuk menyampaikan sambutannya. Ada seorang tokoh adat pada waktu itu yang pidato singkatnya banyak dikenang hingga saat ini, walaupun nama beliau sendiri tidak ada yang tahu pasti. Pidatonya terpaksa singkat, karena konon ia sudah keburu diturunkan paksa dari panggung sebelum selesai bicara.

“Saya mengharapkan dengan dibukanya lokalisasi ini, pemerintah tidak lagi mendatangkan tenaga kerja dari luar, melainkan dapat memberdayakan anak-anak dan cucu-cucu kami…..”

Bagi Rata

Di suatu desa di salah satu Kabupaten terpencil di Papua, sedang digelar sosialisasi HIV/AIDS oleh KPAD. Ceritanya, sepanjang kegiatan ceramah itu sang kepala desa ketiduran. Saat moderator membuka sesi tanya-jawab, tiba-tiba kepala desa terbangun.
Setengah sadar, ia melihat kiri-kanan, mengingat-ingat apa yang terjadi sebenarnya. Begitu melihat spanduk “Sosialisasi HIV/AIDS”, dia langsung sadar. Celingukan lagi, dilihatnya belum ada warganya yang mengajukan pertanyaan. Sebagai seorang pemimpin, nalurinya memerintahkan untuk memberi contoh bagi warga. Ia pun mengangkat tangan.
“Ah, bapak kepala desa. Silahkan pak,” kata moderator, sambil memberikan mike.
“Ehem. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan,” kepala desa mulai bicara.
“Ada satu yang ingin saya himbau pada penyelenggara.
Dari pengalaman pembagian raskin bulan lalu, banyak warga yang tidak kebagian. Pembagian tidak merata.
Maka untuk kali ini, saya minta HIV/AIDS ini dibagi rata. Semua warga saya harus dapat!”

Lidah…

Suatu hari nenek buang air kecil di toilet sederhana dalam rumah panggungnya. Toilet ini cuma terdiri atas lubang yang tembus langsung ke bagian kolong rumah yang pas pinggir kali. Maklum nenek yang sudah mulai pikun, di tengah-tengah kegiatan kencing itu beliau tertidur. Dalam posisi jongkok.
Sementara, sapi peliharaan kakek sedang mengair di pinggir kali. Sekonyong-konyong, si sapi merasa ada yang menetes-netes ke hidungnya. Tertarik dengan aroma asem-asin-aneh itu, dia pun mendongak. Ternyata bukan aromanya saja yang mengundang hasrat si sapi, namun rasa cairan yang nano-nano norak itu juga membuatnya ingin lagi-dan-lagi. Insting si sapi mengatakan bahwa cairan surgawi itu berasal dari atas. Iapun menyundul-nyundul lubang di lantai rumah di atas kepalanya, dengan lidah terjulur. Tanpa perjuangan berarti, sumber cairan roso!™ itupun ditemukannya. Walaupun tidak lagi mengalir, namun sumbernya ternyata masih lembab dengan sisa-sisa cairan. Si sapi pun dengan semangat PDI-Perjuangan mulai menjilat-jilat dengan antusias.
Nenek sontak terbangun. Beliau merasakan sensasi aneh. Sekali menoleh kebawah, disadarinya itu lidah sapi piaraan kakek. Namun sensasi itu kok makin terasa ‘dibuang sayang’. Tanpa disadari nenek malah terhanyut, tepekur dengan sensasi syurgawi itu..
Sementara, di ruang depan, kakek yang sedang menunggu kopi pesanannya, sudah mulai hilang kesabaran. Ia mulai memanggil-manggil nenek. Namun tidak ada jawaban. Kesal, dicarilah nenek ke sekeliling rumah. Kamar tidur, Dapur, kosong. Kamar mandi? Rupanya pintu tertutup. Ada sandal di depan pintu. Disini rupanya. Kakek pun menggedor-gedor dinding kamar mandi. Tetap tidak ada jawaban.
Kakek mulai dirundung cemas. Jangan-jangan nenek kenapa-kenapa…? Kakek pun menggedor-gedor pintu lagi, dengan lebih keras.
Kali ini sambil berteriak, “Neneeek!! Neneeek! Kamu tidak apa-apa??”
Nenek yang sejak tadi tidak mengacuhkan keributan diluar pintu kamar mandi, kali ini benar-benar merasa terganggu.
Beliau pun balas berteriak, “DIAAAAM!! Lidah Pendek!!”

WANTED


Fritzter D. Loki

DEAD OR ALIVE

β 666,000,000

Currently Peeking

Categories

November 2017
M T W T F S S
« Apr    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930