Archive for the 'Half Past Facts' Category

Testimoni Tentang Papua (1)

PERINGATAN
Tulisan ini lumayan panjang, bergambar, dan ditutup dengan kata “BERSAMBUNG”.

 

Setelah secara sukarela hanyut dalam berbagai bentuk prokrastinasi, akhirnya datang juga kesempatan bagi saya untuk menulis testimoni tentang permasalahan multidimensi yang terjadi di Papua. Yang menyebabkan testimoni ini begitu penting, sesungguhnya adalah fakta bahwa saya ini bukan orang penting. Di Papua atau di manapun juga. Testimoni dari manusia tidak penting yang tidak pernah menjadi bagian dari kejadian-kejadian penting, justru sangat penting; lantaran manusia tidak penting ini – sebagaimana insan-insan tidak penting lain – lah yang sebenarnya senantiasa kecipratan limbah paling kental dari kondisi busuk hasil tingkah polah manusia-manusia penting.
Saya bukan elit. Saya akar rumput. Atau paling tidak saya kerikil yang berserakan di tanah, sedikit di atas akar rumput. Jadi ini bukan pendapat elit. Ini kesaksian akar rumput dari kaum pendatang di Papua. Satu di antara golongan orang Indonesia yang sejak lahir tidak punya pilihan selain harus bertahan hidup di Papua.Sudah sejak lama sebenarnya (persisnya 2008) saya melontarkan janji digital kepada beberapa teman di blogosphere, untuk menyumbangkan seberkas pencerahan kepada buramnya simpang-siur pemahaman terhadap permasalahan ipoleksosbudkampret™ yang ada di Papua. Permasalahan yang, seperti halnya daerah-daerah lain di Republik Gosip ini, sudah ada sejak zaman bulgur; dan tiba-tiba menyeruak ke permukaan paska reformasi laiknya bangkai mengapung di selokan lumpur; sehingga seolah-olah permasalahan itu belum pernah ada sebelumnya.

Selama ini saya belum juga memulai menulis urusan testimoni ini, lantaran masih bingung mau mulai dari mana. Pada akhirnya saya putuskan untuk menyajikan tulisan ini dalam model ‘pernyataan VS fakta’. Yang dimaksud ‘pernyataan’ adalah kritik dan komentar analis di media massa, pendapat umum, klaim pribadi maupun golongan, dan segala macam analisis politik tentang Papua yang dirangkai dari potongan-potongan gambar yang diambil dari jarak aman. Yang dimaksud ‘fakta’ adalah realita sehari-hari yang saya endus, amati, dan alami langsung sebagai orang Papua berlabel pendatang. Fakta yang tidaklah terlalu berbeda dengan yang dihadapi orang kebanyakan; hanya saja dalam menyikapi realita kebetulan saya memilih untuk mengedepankan akal sehat ketimbang kepatuhan terhadap sensor sosial.

Antara pernyataan satu dan lainnya yang akan saya tampilkan, tidaklah mesti berhubungan langsung, baik secara kronologis maupun secara naratif. Saya hanya menyikapi pernyataan apapun yang kebetulan mencuat pada saat saya hendak menulis, atau yang kebetulan ada di kepala saya. Kiranya format penulisan ini akan terlihat acak dan cukup tak beraturan, namun semoga saja cukup bisa dinikmati dan cukup mampu memberi pencerahan. Kelak kalau sudah cukup banyak ulasan yang saya tulis soal permasalahan Papua, mungkin saya akan pertimbangkan untuk menyusun ulang perca-perca testimoni ini kedalam uraian tunggal yang lebih kronologis dan lebih logis urutan narasinya.

Ini adalah cicilan pertama. Mudah-mudahan saya diberi umur panjang untuk menelurkan cicilan-cicilan berikutnya.
Baca selengkapnya

Advertisements

postGrad Baby-sitting

So.
As of last week I’ve been officially assigned as staff slash clerk slash all-around assistant slash lackey at the postGrad program of this uni I recently started teaching at. I still teach, mind, but as with every other lecturer at this uni I’m bound to hold a staff position in one of the faculties in addition to teaching.

The thing that jawdrops me is how they hold the final semester exam down here. I’ve been assigned as exam attendant (don’t really know what to call that in English – it’s the dude that distributes exam sheets, etc. and stares at students during exam and is tasked to make life more miserable for them than it already is) the last two days, and let me tell you folks what I’ve seen here is absolutely hilarious.

First of all, the postGrad exams are all open-book; plus examinees are allowed to use the internet to answer questions. So there I was staring at middle-aged postGrad students working out exam questions with laptops on their desks; googling their asses off.

Second, it’s a group exam. I don’t know if such a thing even existed, or if it was officially made that way, but it sure as hell looks like one. People keep bouncing around from one desk to the next, checking out each other’s work. They need to make sure they don’t have exactly the same answers, you see. That would be, you know, cheating.

I’ve been told it’s how things are normally done around here, and that I should let them be. My job was to make sure they’re comfy and fully accommodated. Oh, did I mention we serve them lunch and snacks and coffee during exam? Anyway, I’m also told these guys pay too much money to be subjected to fair play. Indeed, no one throws away 10 million IDR per semester to get their degree the hard way.

I hope someone drops a comment saying that’s the way it is in other parts of the planet too and that I’m just plain too stupid to notice. That way I can sleep better and stop making a fuss over this.

Oh, for those of you who are new to this blog, I’m an Indonesian dude living in Papua Province, Indonesia. So if you know a thing or two about this place, feel free to relate everything I just told you to Special Autonomy, affirmative action and all that crap. I’m not in the mood to talk politics…..yet.
What? Links? Google it dammit, don’t be such a baby.

Interview Blues 2

Sekuel dari Interview Blues

PERINGATAN
Tulisan ini tidak ada gambarnya 😆


Continue reading ‘Interview Blues 2’

Me, quoted

Piala Dunia tahun berapa ituuuu ?


Saya, H-1/2 final Piala Dunia 2010, di tengah kemacetan jalan konvoi pendukung Belanda, kepada seorang pengendara motor yang menggotong bendera Israel.

Quodiote of the Day (3)

Ini melanggar HAM! Bongkar!!


Diserukan oleh serombongan pemuda asal Wamena Pegunungan Tengah Papua, bersenjatakan parang, sebagai protes atas pembangunan pos kamling di depan salah satu gang di komplek saya.

Asumsi
Nampaknya beliau-beliau menganggap mencuri adalah hak azasi, dan segala usaha untuk menghalanginya adalah pelanggaran HAM.

Latar Belakang Asumsi
Paling tidak dalam setahun terakhir, kejadian “perampokan berkedok pencurian” pada malam hari sangat marak di komplek saya. Modusnya selalu serupa : satu sampai dua orang bertugas mencuri, lalu beberapa orang lainnya bertugas berjaga di luar rumah sebagai pengendali massa jikalau penghuni rumah berteriak dan warga berdatangan.

Ada beberapa kejadian dimana 5-6 orang bersenjata parang dan jubi sanggup menghadirkan shock and awe terhadap sekian puluh warga yangg mengepungnya, sehingga bisa dengan santai melenggang dengan barang-barang curian di depan hidung warga tanpa ada satupun yang berani menyentuh.

Ini tentu dikarenakan tidak satupun warga yang sudah kehilangan kewarasannya sehingga sudi bertaruh nyawa menyerbu beberapa orang bersenjata tajam yang tidak terlihat segan untuk menggunakan senjatanya. Perhitungannya, walaupun 5-6 orang ini berhasil dibasmi, tentu paling tidak harus ada 1-2 dari warga yang juga harus kena bacok. Kenekatan untuk maju membuka jalan bagi yang lain ini yang belum dipunyai warga komplek saya.

Fakta inilah pada akhirnya yang membawa pada konklusi perlunya dibangkitkan kembali ronda siskamling. Lantaran berkurangnya jumlah pengangguran di komplek, ronda di tiap RT memang sudah lama ditinggalkan. Warga harus berangkat kerja pagi-pagi, tentu enggan mengorbankan tidur malamnya demi kegiatan melek bareng. Adalah maraknya kejadian perampokan-berkedok-pencurian yang akhirnya membangkitkan kesediaan warga untuk memulihkan kembali tradisi ronda; paling tidak di salah satu gang di komplek seperti saya sebut di atas. Siapa sangka, pembangunan pos ronda justru menuai protes.

Well, kabar baiknya, polisi sukses tiba di tekape tidak lama kemudian. Walaupun hanya 1 orang yang berhasil ditangkap, namun saya optimis ini seharusnya bisa menjadi petunjuk berarti yang mengarah kepada pemburuan tersangka-tersangka perampokan selama ini.

Dalamnya Kebodohan (2) : Trolling di Facebook


Akun Facebook saya sudah terbengkalai selama setahun lebih. Begitu juga Friendster. Hanya saya sentuh tiap ada kolega yang secara spesifik minta agar kontak hanya dilakukan via salah satu dari dua situs jejaring sosial ini. Namun sekitar seminggu yang lalu, lantaran secara tidak sengaja melirik akun milik Victor, saya tertarik pada dua akun grup yang terafiliasi pada akun ybs : UNCEN English Department dan Universitas Cenderawasih Jayapura. Saya khususnya tertarik pada akun terakhir. Penasaran saja, obrolan cerdas nan ilmiah apa sih yang beredar disana? Saya pun melihat-lihat catatan-catatan dinding yang ditinggalkan para member-nya. Dan saya langsung mual terkentut-kentut demi melihat satu post ini :
Klaim yang menyesatkan
Continue reading ‘Dalamnya Kebodohan (2) : Trolling di Facebook’

Dalamnya Kebodohan


Jayapura, Jum’at malam, 27 Maret 2009.


Tini:[1] Eh itu ajakan matiin lampu, besok malam jam setengah sebelas ya?

Adiknya:[2] Goblok, setengah sembilan!

Tini: Lho kan 20.30 WIB.

Adiknya: Iya, 20.30 kan setengah sembilan!

Tini: Itu WIB. Kita kan WIT.

Adiknya: Ih, itu serentak kok.

Can you spell "STUPID"?






[1] S1 Pendidikan Bahasa Inggris, UNCEN, lulus 2005. ^
[2] D3 Teknik Sipil, UNCEN, tahun keenam. Progress kuliah: 60%. ^





WANTED


Fritzter D. Loki

DEAD OR ALIVE

β 666,000,000

Currently Peeking

Categories

September 2017
M T W T F S S
« Apr    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930