Quodiote of the Day (3)

Ini melanggar HAM! Bongkar!!


Diserukan oleh serombongan pemuda asal Wamena Pegunungan Tengah Papua, bersenjatakan parang, sebagai protes atas pembangunan pos kamling di depan salah satu gang di komplek saya.

Asumsi
Nampaknya beliau-beliau menganggap mencuri adalah hak azasi, dan segala usaha untuk menghalanginya adalah pelanggaran HAM.

Latar Belakang Asumsi
Paling tidak dalam setahun terakhir, kejadian “perampokan berkedok pencurian” pada malam hari sangat marak di komplek saya. Modusnya selalu serupa : satu sampai dua orang bertugas mencuri, lalu beberapa orang lainnya bertugas berjaga di luar rumah sebagai pengendali massa jikalau penghuni rumah berteriak dan warga berdatangan.

Ada beberapa kejadian dimana 5-6 orang bersenjata parang dan jubi sanggup menghadirkan shock and awe terhadap sekian puluh warga yangg mengepungnya, sehingga bisa dengan santai melenggang dengan barang-barang curian di depan hidung warga tanpa ada satupun yang berani menyentuh.

Ini tentu dikarenakan tidak satupun warga yang sudah kehilangan kewarasannya sehingga sudi bertaruh nyawa menyerbu beberapa orang bersenjata tajam yang tidak terlihat segan untuk menggunakan senjatanya. Perhitungannya, walaupun 5-6 orang ini berhasil dibasmi, tentu paling tidak harus ada 1-2 dari warga yang juga harus kena bacok. Kenekatan untuk maju membuka jalan bagi yang lain ini yang belum dipunyai warga komplek saya.

Fakta inilah pada akhirnya yang membawa pada konklusi perlunya dibangkitkan kembali ronda siskamling. Lantaran berkurangnya jumlah pengangguran di komplek, ronda di tiap RT memang sudah lama ditinggalkan. Warga harus berangkat kerja pagi-pagi, tentu enggan mengorbankan tidur malamnya demi kegiatan melek bareng. Adalah maraknya kejadian perampokan-berkedok-pencurian yang akhirnya membangkitkan kesediaan warga untuk memulihkan kembali tradisi ronda; paling tidak di salah satu gang di komplek seperti saya sebut di atas. Siapa sangka, pembangunan pos ronda justru menuai protes.

Well, kabar baiknya, polisi sukses tiba di tekape tidak lama kemudian. Walaupun hanya 1 orang yang berhasil ditangkap, namun saya optimis ini seharusnya bisa menjadi petunjuk berarti yang mengarah kepada pemburuan tersangka-tersangka perampokan selama ini.

Advertisements

12 Responses to “Quodiote of the Day (3)”


  1. 1 itikkecil March 5, 2010 at 4:35 am

    Fritzie sudah kembali…. Fritzie sudah kembali…
    welcome back….
    salah kaprah tentang pelanggaran HAM

  2. 2 ManusiaSuper March 5, 2010 at 10:29 am

    Wadooooh… hukum rimba ya…

    Di sini juga sering sebenarnya kejadian, ada copet, jambret, maling ketangkapn basah tapi melawan pake senjata…

    Tapi biasanya seh, mati… :mrgreen:

    Lah, yang dihadapin pegang jimat dayak anti parang semuanya…

  3. 3 lambrtz March 5, 2010 at 4:25 pm

    Hidup pencurian! Nyolong adalah hak! 😈

  4. 4 jensen99 March 5, 2010 at 5:12 pm

    Satu masalah yang pasti, sekalipun karena mencuri, tapi kalo sampai ada satu saja “orang gunung” kena bacok, apalagi sampai nyawa melayang, maka pasti akan ada serangan balasan dari suku mereka, lengkap dengan tuntutan uang darah semilyar. 👿

    Yah, anyway, pastikanlah para peserta siskamling (juga warga yang berjaga dirumah2 masing) selalu berjaga dengan parang terhunus, jangan hanya ngopi dan maen gaplek sambil pegang pentungan. Bantai pencuri! 😈

  5. 5 Ando-kun March 5, 2010 at 8:39 pm

    Waduh… syerem juga kalau ada bandit berbuat kejahatan tanpa takut kehilangan nyawa. Bukannya pakai siskamling jg percuma? Toh kalau mereka datang bawa golok dan bersedia mati sampyuh buat ngerampok, pihak rondator (peronda maksudnya) jg mikir2 buat bertaruh nyawa.

    @jensen

    […] selalu berjaga dengan parang terhunus……. Bantai pencuri![…]

    Nah, itu dia. Kalau sekiranya warga siap bertempur melawan pasukan balas dendam kayaknya gak masalah. Kayaknya butuh jimat anti parang dari Mansup tuh.
    Eh… ngomong2 jimat non-lokal dari dayak bisa mempan dipakai di papua nggak yah?? 😆

  6. 6 Fritzter March 6, 2010 at 3:15 am

    @ itikkecil

    Fritzie

    Husss!! 😯

    @ Mansup
    Jimatnya doang yang dayak atau pemegangnya juga asli dayak? Trus yang digebukin itu orang mana? Itu pengaruh sekali kalo disini. Entah kalo disana sih…

    @ lambrtz
    Eitt, itu hanya berlaku bagi mereka yang asli turunan maling. Saya, misalnya. Mbahku dulu maling jaman Jepang. 😎

    @ Jensen
    Mauku sih warga sini bisa kayak warga pasar lama Abe, yang pada November 2000 pernah menyambut hangat serbuan ratusan orang Wamena dengan badik, sumpit, parang dan dompis.
    Setelah itu setauku tidak ada retaliasi lagi dari pihak orang Wamena. Jadi asal ada perlawanan, dan tidak menunjukkan rasa takut, fenomena premanisme primordial itu sebenarnya bisa diatasi. Kalo baru digertak saja sudah keder, kayak warga sini, ya jadi bulan-bulanan terus.
    Yah tapi emang karakter dan mentalitas warga pasar Abe dengan warga perumnas beda sih. Disana mayoritas pedagang rantau yang berani mati, sementara disini mayoritas pegawai yang cari hidup tenang….
    Yang diperlukan sebenarnya adalah aksi covert-vigilante yang menghabisi satu demi satu bibit pencuri sampai habis. Ah, saat2 gini memang kita jadi rindu sama pak Harto 😆
    tunggulah, saya masih tunggu mood buat nyelesain katapel yang belum jadi2, kalo sudah jadi biar saya yang jadi vigilante sniper

    @ Ando-kun
    Ronda tetap berguna, paling tidak sebagai early warning system.
    Artinya mereka diharapkan bisa mengenali sosok-sosok mencurigakan yang masuk komplek sebelum ada rumah yang berhasil dibobol. “Kesiapan” itu modal penting : lebih baik warga yang mengagetkan maling, daripada maling yang mengagetkan warga.
    Kalau kita yang memegang element of surprise, itu kan bisa membantu menumbuhkan nyali juga.

  7. 7 Amd March 6, 2010 at 6:49 am

    Melihat JenSen masih berkomentar di sini, saya semakin yakin, kalau gembong perampokan itu masih berkeliaran… Waspadalah! Waspadalah! 😈

  8. 8 Rukia March 8, 2010 at 10:54 am

    😯
    woah…om prit udah balik dari pertapaannya

    Kenekatan untuk maju membuka jalan bagi yang lain ini yang belum dipunyai warga komplek saya.

    Dan ini termasuk om prit??? 😆

    Fakta inilah pada akhirnya yang membawa pada konklusi perlunya dibangkitkan kembali ronda siskamling

    Kebiasaan yang ada di masyarakat, kalau sudah kejadian baru bergerak. Waktu tidak ada kejadian-kejadian yang tidak diinginkan selalu merasa hidup aman tentram hingga menurunkan tingkat kewaspadaan hingga level terendah

  9. 9 Fritzter March 8, 2010 at 3:50 pm

    @ Amed
    Ah ya, betul itu! Benul! *manggut-manggut*

    @ Rukia

    Dan ini termasuk om prit???

    Yang mana nih? Yang ogah ambil resiko? Iya kalo itu :mrgreen:

  10. 10 eMina March 9, 2010 at 10:32 am

    blog ini ada lagi ? 😯

  11. 11 Fritzter March 9, 2010 at 2:23 pm

    ^
    Lha emang pernah terhapus ? 😆

  12. 12 sien June 15, 2010 at 2:49 am

    lha klo pencurinya secara tidak sengaja terbunuh gimana lagi kasusnya ya ? udah kecurian , bayar duit semilyar lagi . 😯


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




WANTED


Fritzter D. Loki

DEAD OR ALIVE

β 666,000,000

Currently Peeking

Top Posts

Categories

March 2010
M T W T F S S
« Jul   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031