Interview Blues 2

Sekuel dari Interview Blues

PERINGATAN
Tulisan ini tidak ada gambarnya 😆


Januari 2007. Setelah mengajar di English First Jayapura selama 1 tahun + 3 bulan, saya memutuskan keluar dari situ setelah owner menolak memberi saya kenaikan gaji yang memuaskan. Kelak saya akan mendengar bahwa seluruh tim pengajar expat pendahulu saya juga memutuskan keluar satu demi satu karena alasan yang sama : kesejahteraan.

Kesempatan pertama yang saya lirik setelah menganggur selama lebih kurang 2 bulan adalah lowongan reporter pada waralaba Metro TV untuk Papua yang kala itu hendak didirikan di Jayapura. Waralaba ini adalah joint-venture antara Metro TV dengan Pemerintah Provinsi Papua, yang diwakili oleh BUMD-Nya, P.D. Irian Bhakti.
Walaupun secara teknis status saya pengangguran sejak keluar dari English First, di luar dari job-job freelance sebagai penerjemah yang kerap saya terima, saya waktu itu masih rutin menggambar karikatur untuk Tabloid dua-mingguan Suara Perempuan Papua, sehingga sedikit banyak paham dengan dunia jurnalistik. Ini menambah kepercayaan diri saya untuk mengejar karir sebagai reporter, yang memang sudah menjadi salah satu cita-cita sejak remaja.
Ujian tahap pertama adalah tes tertulis model drill selama lebih kurang 3 jam nonstop, terdiri atas serangkaian psycho-test. Muatan tes itu tidaklah terlalu berat, namun duduk terus-menerus selama lebih dari 2 jam adalah ujian yang sebenarnya bagi ambeien saya.

Ada kejadian kecil yang menarik di tes tahap pertama itu. Setelah sekitar 100an pelamar terkumpul dalam ruangan pada pukul 09.00, panitia menyatakan pintu ruangan akan ditutup pada pukul 09.05, dan bahwa jendela toleransi keterlambatan yang diberikan adalah 5 menit. Lebih dari itu siapapun tidak akan diijinkan masuk.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, atmosfer hening penuh konsentrasi dalam ruangan tiba-tiba terganggu oleh suara ketukan pintu dari luar. Saat salah satu anggota panitia, orang yang sama yang mengumumkan “toleransi lima menit” tadi, membuka pintu sedikit, sempat terlihat oleh sebagian yang ada di dalam bahwa yang mengetuk pintu adalah tiga orang pelamar yang datang terlambat. Pembuka pintu yang sudah memasang tampang dingin dan sudah membuka mulut bersiap untuk mengusir saat membuka pintu, tiba-tiba mengatupkan bibirnya dan langsung tersenyum ramah saat melihat betapa salah satu dari tiga orang tersebut adalah Rini Setiani Modouw, finalis Putri Indonesia 2006 dari Papua. Setelah basa-basi ramah selama beberapa belas detik, jabat tangan dengan semua anggota panitia, ketiga-tiganya dipersilahkan mengikuti ujian.
Setelah sang Putri Papua duduk nyaman dan mulai mengerjakan soal, seorang juru kamera yang sejak awal mendokumentasikan jalannya ujian, yang awalnya hanya berdiri dengan tripod di pojok ruangan, tiba-tiba menggotong kameranya dan mulai mondar-mandir meng-close-up Rini dari berbagai posisi. Setelah dipandang cukup, ia kembali ke meja panitia dan tersenyum-senyum kagum. “Ya, memang camera-face”, katanya.
Kelak saya akan mendengar bahwa status Rini kala itu bukanlah pelamar, karena sebelumnya ia justru sudah dipinang oleh Metro TV – atau ditawarkan kepada Metro oleh Pemprov Papua, sama saja – untuk menempati salah satu pos News Presenter. Jadi ya, mungkin perlakuan khusus yang diterimanya kala itu wajar-wajar saja.
Yang tidak kalah menarik sebenarnya adalah fakta bahwa salah satu dari dua pelamar yang menemaninya waktu itu ternyata adalah teman saya si Viktor. Kelak ybs akan menceritakan kepada saya bahwa sebenarnya ia tidak berniat melamar pekerjaan pada waktu itu. Ia sedang dalam perjalanan untuk urusan lain pagi itu sewaktu melihat Rini dan seorang rekan berdiri di pinggir jalan. Iapun berhenti dan menawari mereka menumpang mobilnya, yang mana diterima dengan senang hati. Dalam perjalanan ia ditawari oleh Rini untuk ikut tes bersama mereka, yang mana juga diterima dengan senang hati. Dalam rangka menyambut tawaran dadakan itu, Viktor terpaksa memutar mobil menuju ke rumahnya untuk mempersiapkan dokumen-dokumen administratif yang diperlukan untuk melamar, sekaligus mengetik surat lamaran. Mungkin ini yang menyebabkan mereka terlambat hampir setengah jam. Wajar kalau begitu.

Setelah lolos tahap pertama, saya bersama sekian belas lolosant lain bersiap untuk ujian tahap selanjutnya, yaitu tes Bahasa Inggris dan tes skill yang disusul interview. Tahap kedua ini dijadwalkan setelah makan siang hari itu juga. Adapun tes skill yang dimaksud adalah tes untuk kemampuan teknis terkait posisi yang dibidik masing-masing pelamar. Setelah menyelesaikan dua tes tertulis itu, saya pun mulai mengantri untuk giliran interview.
Pewawancara saya bernama bapak Sunanto atau Kusnanto atau Suyanto, saya tidak ingat persis. Beliau mengaku memegang jabatan sebagai salah satu Senior Producer di Metro TV. Berikut potongan wawancara yang masih tertinggal di ingatan saya.

Pewawancara : Sebagai reporter, jika diterima, jenis liputan seperti apa yang lebih anda sukai ?

Saya : Saya suka investigasi.

Pewawancara : Alasannya ?

Saya : Di Papua ini, khususnya di ibukotanya, banyak sekali skandal-skandal dalam pemerintahan; dan masih belum ada media pers yang berani sekaligus mampu untuk meng-expose.

Pewawancara : Anda punya satu contoh konkrit ?

Saya : Ada beberapa. Tetapi satu yang paling menggelitik, itu soal skandal penggembosan UAN tahun lalu. Ini karena latar belakang akademis saya sendiri di pendidikan, dan rekan-rekan saya banyak yang menjadi guru-guru sekolah, jadi saya tau persis apa yang terjadi di lapangan.
Pada UAN tahun lalu, Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran di Pemerintah Kota Jayapura memberi instruksi secara langsung kepada Kepala-kepala Sekolah di kota Jayapura untuk menempatkan guru-guru mata pelajaran di ruang-ruang ujian pada hari H, lalu membuat dan menyebarkan jawaban soal kepada peserta ujian. Praktek ini didukung dengan kebijakan untuk tidak menukar guru-guru pengawas UAN antar sekolah.

Pewawancara : Apa tindakan anda saat mengetahui itu ?

Saya : Saya tentu tau bahwa penggembosan UAN itu sudah terjadi di mana-mana dalam skala nasional. Tapi disini, pendekatan hukum hampir mustahil karena guru-guru disini – PNS maupun honor – masih bermental orde baru. Dari semua yang saya tanyai, ndak ada yang mau memberi kesaksian andai masalah ini sampai dibawa ke polisi.
Jadi, saya mengambil pendekatan media. Kebetulan saya kartunis freelance di salah satu media cetak disini. Jadi saya lontarkan masalah ini di rapat redaksi. Awalnya usulan saya disambut baik, dan teman-teman kelihatan antusias menyikapi. Tapi selang beberapa hari, saya diberitahu bahwa isu itu tidak akan diliput, karena ternyata Tabloid itu baru saja menerima sumbangan dari Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran yang hendak disorot.

Pewawancara : Kalau misalnya anda diterima di Metro, lalu terjadi hal yang sama : anda melontarkan isu, lalu ditolak oleh redaksi karena pihak-pihak yang terlibat punya hubungan khusus dengan Metro. Apa tindakan anda ?

Hal pertama yang terlintas di otak saya adalah : Ini pertanyaan jebakan. Selama hampir dua detik saya berpikir keras. Hanya satu parameter yang sempat saya timbang : calon reporter seperti apa yang dicari Metro TV ? Tipe ayam atau tipe serigala? Saya tidak boleh bengong terlalu lama, karena apapun jawaban saya akan menjadi kurang meyakinkan kalau terlalu lama berpikir. Jawaban yang menyangkut prinsip, harus diberikan spontan. Tidak boleh terkesan ngarang-ngarang. Jadi, saya putuskan, Metro tidaklah mencari calon reporter tipe ayam.

Saya : Saya maju terus, pak.

Pewawancara : Maju terus bagaimana maksud anda? Anda tetap memaksa meliput isu itu?

Saya : Ya.

Pewawancara : Padahal sudah dibilang tidak akan dimuat. Lalu bagaimana ? Apakah anda akan sampai mengambil langkah membawa isu itu ke media lain ?

Asu! Jebakan lagi!
Harus. Konsisten. Spontan.

Saya : Itu opsi terakhir. Tapi terpaksa akan saya ambil kalau tidak ada jalan lain.

Pewawancara : Berarti anda tidak cocok menjadi reporter Metro TV.

Eh?

Saya : Lalu cocoknya reporter mana, pak? TVRI? ……..

Pewawancara : Di Metro TV ini, bukan cuma landasan idiil yang dipakai, tapi juga landasan komersil. Sebagai reporter, anda jelas tidak boleh mengangkat isu yang dapat merugikan perusahaan.

Saya : …….

Selebihnya dari wawancara itu sudah tidak begitu penting, karena pertanyaan-pertanyaan selanjutnya adalah pertanyaan administratif; ekspektasi gaji, kesediaan terhadap irregular working hours, dsb.
Keesokan harinya saya kembali untuk membaca pengumuman hasil ujian dan interview. Seperti sudah saya duga, saya gagal.

* * *
Sebulan berlalu masih dengan status pengangguran. Saya sedang membaca koran sambil mengantri di loket Pengendali ASKES di RSUD, mengurus resep-resep dari dokter yang menangani ibu saya dalam pemeriksaan rutin mingguan; saat melihat iklan lowongan pada satu proyek bantuan kesehatan dari European Union. Judul proyeknya SCHS. Papua, khususnya dua kabupaten Keerom dan Merauke, adalah salah satu dari tiga Provinsi – bersama Jambi dan Sumsel – yang menjadi target proyek percontohan sebelum digulirkan ke Provinsi-Provinsi lain. Ada dua pos yang diiklankan untuk kantor cabang Papua : Treasurer dan Translator.
Tiba-tiba HP saya bergetar. Ada SMS. Ternyata dari Viktor (ya, Viktor yang tadi). “Fritz, ada lowongan di Cepos utk Translator,” ketiknya. Ya, sudah tahu.
Dua minggu kemudian, setelah mengirim lamaran dan CV, saya ditelepon untuk datang mengikuti interview.
Di lokasi, saya bertemu Viktor. Diluar dugaan saya, ternyata ia tidak melamar pos Translator, padahal background-nya S.Pd Bahasa Inggris. Ia justru melamar pos Treasurer. Katanya ia lebih mempercayai pengalamannya “ngurusi duit” di berbagai Ormas dan UKM daripada kemampuannya dalam bidang penerjemahan. Oqelah qalo beqgitu.

Walaupun interview ini melibatkan tiga orang pewawancara sekaligus – satu expat dan dua pribumi – namun prosesnya tidak selama yang saya perkirakan. Tidak sampai 15 menit. Pertanyaan yang diajukan juga tidaklah luar biasa. Saya sampai berpikir interview ini cuma formalitas karena mungkin mereka sudah mendapatkan orang lain yang akan diterima. Hanya satu seri pertanyaan yang sekiranya layak diingat, lantaran saya menduga pertanyaan inilah yang secara kosmik akan memicu perkembangan-perkembangan “abnormal” yang kelak terjadi kemudian. Pertanyaan ini datang dari ibu DUT, salah satu pewawancara pribumi yang memegang posisi sebagai Project Assistant.

Ibu DUT : How would you feel if you were put in the position where you have to interpret in front of an audience?

Saya : Err… I don’t know if I have to feel anything. That’s what an interpreter does, isn’t it? I’m not exactly new to this field of work, so something like that shouldn’t be a problem for me.

Ibu DUT : I’m talking about the psychological pressure; for example when you have to keep up with what the speaker is saying, or anything like that?

Saya : Well, it’s what I do. I’ve been doing this for quite some time now. So I don’t think there’s much pressure that I can’t handle.

Ibu DUT : So you won’t feel stressed or anything like that?

Saya : No, not at all. Like I said, it’s what I do.

Keesokan harinya saya kembali untuk mengikuti tes tertulis. Inipun tidaklah luar biasa. Hanya diminta menerjemahkan dua paragraf teks berbahasa Inggris ke bahasa Indonesia, dan dua paragraf teks lain dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Waktu yang diberikan 30 menit. Yang bisa menjadi masalah bagi penerjemah minim pengalaman, mungkin bahwa dua teks tersebut adalah laporan kondisi medis di beberapa desa di Merauke dan Keerom, yang penuh dengan jargon medis dan nama-nama berbagai jenis penyakit. Pengalaman singkat saya bersama MSF amat sangat menolong dalam mengenali jargon-jargon tersebut.

Alhasil saya lumayan kecewa saat seminggu kemudian ditelepon oleh ibu DUT dan dikabari bahwa saya gagal. Saya masih ingat persis kalimat beliau, “Nilai total kamu cuma selisih satu poin dari pelamar yang kami terima.” Ah kampret.
Kekecewaan saya berubah jadi keheranan manakala sorenya saya dihubungi Viktor, yang mengaku bahwa dia diterima – bukan sebagai Treasurer, tapi sebagai Translator.
Yang ajaib, ia juga mengaku dihubungi oleh ibu DUT beberapa hari setelah wawancara. Ibu DUT memintanya mengalihkan lamarannya dari pos Treasurer ke pos Translator, karena latar belakang pendidikannya “lebih cocok jadi Translator”. Viktor menerima tawaran ibu DUT, walau tidak berharap banyak. Tes tertulis yang dikerjakannya pun tidak sampai selesai dalam batas waktu 30 menit yang diberikan. Ia juga mengaku sama sekali asing dengan jargon-jargon medis dalam teks yang harus diterjemahkan.
Dan ia diterima.
Ah.

Tiga minggu berlalu. Kekecewaan saya belum hilang saat saya akhirnya dihubungi oleh SCHS. Tapi bukan oleh ibu DUT, melainkan oleh AV, yang memegang jabatan Co-Manager, atasan ibu DUT. Saya diberitahu bahwa Viktor, penerjemah mereka, telah memutuskan untuk mengundurkan diri setelah melewati tiga minggu masa percobaan. Ya, tentu saja. Ini bukan kerja main-main. Prinsip pasaran “belajar sambil jalan” tidak berlaku disini. Either you can do it, or you can’t. There’s nothing in between. Saya ditawari untuk mengisi pos Translator.
Harga diri, sesungguhnya, hanyalah debu di hadapan momok “kesejahteraan”. Tawaran itu saya terima.

Umur proyek SCHS hanya tinggal 10 bulan saat saya mulai bekerja. Sebanyak itulah masa kontrak yang tersisa untuk saya. Namun masa yang singkat itu, sungguh masa yang padat. Padat oleh pengalaman.
Sebagai proyek kemitraan, SCHS sangat berbeda dibanding proyek-proyek kemitraan lain antara Pemerintah dengan lembaga donor. European Union, seperti mungkin sudah diketahui, bukanlah sebuah NGO; melainkan adalah “Pemerintah” Eropa. Maka yang terbentuk dalam SCHS bukanlah kemitraan dimana kedua pihak saling beradaptasi dengan pasangannya, namun hubungan bilateral antara dua “pemerintahan” dimana masing-masing sama-sama kukuh dengan standar birokrasinya yang sama-sama bendproof. Prinsip kemitraan diterjemahkan secara literal kedalam sistem pengelolaan yang “serba Co-“. Kendali atas seluruh proyek di ketiga Provinsi bermuara pada sepasang “Co-Directors” yang berkantor di Jakarta – satu expat dan satu WNI yang biasanya berstatus pensiunan pejabat Depkes. Tiap kantor cabang di ketiga Provinsi dikepalai oleh sepasang “Co-Managers” – satu expat dan satu WNI yang biasanya berstatus PNS aktif di Dinas Kesehatan Provinsi. Segala keputusan yang menyangkut duit harus disahkan dengan joint-signature.
Sistem co-direction (Nasional) dan co-management (Provinsi) ini pada prakteknya menelurkan kekacauan demi kekacauan – baik di level direksi maupun di level manajemen. Saya sudah tidak ingat ada berapa kali pergantian Co-Director(s) maupun Co-Manager(s) di ketiga Provinsi selama kurun waktu 5 tahun berjalannya proyek. Di kantor cabang Papua sendiri, saya bekerja di bawah Co-Manager expat ketiga; dan sempat menyaksikan ybs dilengserkan lagi, dalam proses tambal-sulam yang penuh intrik dan konflik.
Banyak hal yang saya pelajari selama bekerja di SCHS. Yang pertama adalah politik kantor. Bagaimana melawan kecurangan dengan kewarasan, dan menjawab taktik-menjatuhkan dengan kinerja. Bagaimana cara bertahan untuk tidak memilih pihak dalam situasi konflik elit, tidak terjebak dan tetap konsisten bersikap profesional.
Saya juga belajar untuk tidak mengubah konflik profesional menjadi konflik pribadi. Indeed, business is nothing personal. Saya memulai pekerjaan di SCHS dengan perasaan syak-wasangka terhadap ibu DUT, yakin bahwa ia punya itikad buruk terhadap saya dan bahwa ia sengaja berusaha mencegah saya diterima menjadi Translator di situ. Dugaan saya terpastikan saat kontrak saya memasuki bulan ke-6. Kala itu AV, si Co-Manager expat sedang berusaha dilengserkan oleh Jakarta. Ibu DUT diduga menikamnya dari belakang, membocorkan “skandal-skandal” yang dilakukan AV di kantor kepada Jakarta. AV memberitahu saya bahwa alasan mengapa ia menerima Viktor pada awalnya, dan bukan saya, adalah karena ibu DUT diam-diam telah menukar CV kami berdua. “I took Viktor because your CV said you didn’t have any NGO experience,” katanya. Jelas CV milik Viktor yang dibacanya waktu itu, karena dalam CV saya jelas tercantum pernah bekerja di MSF.
Entah apa saat itu AV tengah berusaha mencari sekutu diantara stafnya dalam konfliknya dengan Jakarta, namun apa yang disampaikannya benar-benar potongan jigsaw yang hilang selama ini. Benar-benar klop dengan apa yang sudah terjadi 6 bulan sebelumnya.
Tapi saya memilih untuk tetap berkepala dingin, dan berusaha untuk tidak ikut-ikutan terseret dalam konflik tersebut. Terus menunjukkan kinerja yang profesional. Kebijakan yang saya pilih terbukti manjur. Saat AV dilengserkan, dan diganti dengan Co-Manager expat dari Sumsel yang proyeknya sudah lebih dulu kelar, Jakarta memutuskan untuk “sekalian” melakukan perampingan besar-besaran terhadap kantor cabang Papua. Lima posisi sekaligus dihapus : Project Assistant, Administrative Assistant, Secretary, Logistician, dan Translator. Satu dari lima orang pada posisi tersebut akan dipertahankan, dan dipromosikan menempati pos baru : Administrator.
Co-Manager WNI yang baru, pak Slamet, tanpa ragu merekomendasikan saya untuk menempati pos tersebut. Itu artinya kenaikan gaji 50%, plus pesangon 150% gaji di akhir kontrak.
10 Bulan yang sangat berharga, sarat ujian dan pengalaman, telah saya lalui dengan sukses. Saya sangat bersyukur.

***
Itu karena saya menyangka tidak akan terlalu menemui kesulitan mencari NGO atau lembaga donor internasional lain yang bisa dimasuki.

Faktanya, saya menganggur selama hampir 2 tahun sejak Maret 2008. Badai affirmative action yang sejak 2001 melanda sektor pemerintahan dan swasta, ternyata juga telah menembus sektor lembaga non-pemerintah-non-profit. Hampir tidak ada tempat di ranah NGO di Jayapura untuk pekerja non-Papua macam saya.

Agustus 2008. Saya mencoba melamar untuk lowongan Communication Officer yang diiklankan oleh WWF Jayapura. Dari judul posnya, saya yakin pekerjaan tersebut tidak akan jauh-jauh dari wilayah “komunikasi” ataupun “humas”.
Saat dihubungi untuk interview, sayapun datang ke kantor WWF. Selain saya, hanya 2 orang yang melamar posisi tersebut. Satu laki-laki yang tampaknya sebaya dengan saya, seorang staf administrasi di perusahaan kontraktor. Satu lagi seorang gadis fresh-graduate jebolan Fakultas Ekonomi salah satu perguruan tinggi di Jawa; entah kampus apa persisnya. Pada waktu itu saya sangat percaya diri karena yakin persaingan akan lebih sehat, lantaran tidak ada orang asli Papua di antara pelamar.
Saya diwawancara oleh pimpinan kantor berinisial BW. Hanya ada 1 pertanyaan yang saya ingat, selebihnya saya anggap tidak signifikan dalam penentuan hasil interview itu kelak.

BW : Apa yang anda tau soal marketing ?

Saya tidak ingat sama sekali jawaban saya waktu itu, selain hanya bengong dan mengulang, “Ma-marketing ?” 😯
Ternyata salah satu uraian tugas Communication Officer, yang tampaknya punya bobot paling berat dibanding uraian tugas lain, adalah berkampanye di Mall ala SPG. Mempromosikan kegiatan dan misi WWF, dan, menawarkan membership berbayar bagi khalayak yang peduli : untuk fee keanggotaan plus bonus 1 paket gimmick WWF.
Cewek lulusan ekonomi itu yang akhirnya diterima. Saya tidak pernah mengerti sampai sekarang, mengapa judul pos itu bukan “Marketing Officer”.

November 2008. Saat lowongan Communication Officer itu sekonyong-konyong kembali dibuka, entah setan mana yang membuat saya melamar lagi kesana. Mungkin saya berpikir, WWF tidak puas dengan cewek ABG itu, dan mulai sadar bahwa mereka butuh pekerja, bukan manekin hidup.
Saya kembali diwawancarai oleh orang yang sama, bapak BW. Lagi-lagi, hanya 1 pertanyaan yang saya ingat.

BW : Lho, anda lagi ? Sudah ditolak, kok anda masih mau datang lagi ?

Lagi-lagi, saya tidak ingat sama sekali jawaban saya waktu itu. Yang jelas hasilnya sama : ditolak juga.

* * *
Sejak Maret 2008 hingga September 2009, walau berstatus pengangguran saya masih sesekali menerima job penerjemah freelance di beberapa NGO – yang lebih memilih mengambil tenaga freelance daripada mempekerjakan seorang penerjemah secara full-time. Penghasilan tidak tetap itu yang saya pakai untuk menyambung hidup, berusaha sejarang mungkin mengikis tabungan hasil kerja di SCHS + pesangon.
Pada September 2008, saya bersama satu unit PC kesayangan saya, menumpang di kios fotokopi yang baru saja dibuka oleh Viktor (ya ya, masih Viktor yang itu. Apa mau dikata, kota ini memang sempit). Praktis saya kembali menjadi tukang ketik selama satu tahun.
Setahun kemudian, Viktor menyatakan tidak mampu lagi meneruskan kontrak kiosnya. Sayapun menawarkan untuk patungan agar bisa mengontrak tempat itu setahun lagi. Tawaran saya diterima.
Oktober 2009, saya resmi membuka usaha penyewaan PS2 di lantai atas. Usaha fotokopi milik Viktor tetap di lantai satu.

Setelah merasa yakin bahwa dunia wirausaha adalah perlabuhan terakhir saya, tiba-tiba bulan Maret lalu salah satu NGO langganan tetap jasa penerjemahan saya (maaf NGO ini tidak bisa saya buka namanya disini, mengingat kebijakan komunikasi eksternal mereka yang melarangnya), memberikan tawaran kerja full-time.

Saya tidak berpikir dua kali. Langsung saya terima. Ini lantaran 2 bulan setelah usaha saya berjalan ada 2 rental PS lagi yang sekonyong-konyong dibuka – masih dalam radius 300 meter dari tempat saya – yang ternyata benar-benar membuat usaha saya jadi sepi macam kuburan.
Tidak ada yang luar biasa dalam proses interview, lantaran hanya formalitas belaka. Toh saya tidak melamar, melainkan ditawari. :mrgreen:
Maka syahdan, sejak 28 Maret tahun ini saya resmi jadi kuli lagi – menjual kemerdekaan wiraswasta demi penghasilan yang lebih layak. Yang mungkin pantas disebut ironis adalah bahwa judul pos yang saya tempati sekarang ini adalah : Communication Officer. 😆

(mungkin) Tamat
Advertisements

11 Responses to “Interview Blues 2”


  1. 1 lambrtz July 31, 2010 at 5:32 pm

    😆
    Selamat lah kalau begitu Bos. Playstation boleh dihibahkan ke saya

  2. 2 Fritzter August 1, 2010 at 4:31 am

    ^
    Sekarang kuli, sudah bukan ‘bos’ lagi. 😀
    Itu barang malah sudah berkurang satu unit sekarang, digondol maling yang mbacok saya itu

  3. 3 dobelden August 5, 2010 at 10:49 am

    wahahha… keren-keren.. pengalamannya bikin berfikir ulang utk mendarat di papua :ngakak

  4. 5 bjl August 9, 2010 at 5:32 am

    xixixi… numpang senyum om…
    tulisannya keren euy.. sampai ikut terbawa suasana…

  5. 6 Fritzter August 10, 2010 at 3:39 am

    ^
    😯 😆 roflmao
    Lha blog tomboati-nya kemana bos? :mrgreen:

  6. 7 Fritzter August 10, 2010 at 3:40 am

    ^
    *habis klik link username*
    😯 😆 roflmao
    Lha blog tomboati-nya kemana bos? :mrgreen:

  7. 8 itikkecil August 13, 2010 at 3:24 am

    yang sepuluh bulan itu… been there.. done that…
    congrats Fritz… makan-makan…
    *tak tahu malu*

  8. 9 Ando-kun August 19, 2010 at 10:38 am

    Enakan mana nih swasta dan nguli?
    Jadi Kopral bergaji Jendral atau jabatan Jendral gaji Kopral? :mrgreen:

  9. 10 Fritzter August 23, 2010 at 12:14 am

    @itikkecil
    :mrgreen:

    @Ando-kun
    Enak swasta :mrgreen:
    Bebas tidur-subuh-bangun-siang, apalagi kalo segmen usahanya yang punya peak-hour di atas jam 11 siang. 😀

  10. 11 eMina November 14, 2010 at 2:15 am

    (semakin) ingin ke papua. tapiii….ongkos pesawatnya lebih mahal daripada ke luar negeri yah u_u


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




WANTED


Fritzter D. Loki

DEAD OR ALIVE

β 666,000,000

Currently Peeking

Top Posts

Categories

July 2010
M T W T F S S
« Mar   Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031