Mengapa saya kuliah sampai 7 tahun

shevapatoseven2

Alasan
Pertama-tama, ijinkan saya membeberkan 2 alasan sederhana yang menjadi prima kausa leletnya kuliah saya. Tentunya alasan-alasan tersebut adalah berpulang pada diri pribadi saya sendiri.

  1. Saya memang tidak pernah ingin kuliah
    Ini merupakan manifestasi ketidak-dewasaan dan kekanak-kanakan saya, yang sangat saya banggakan dan tidak pernah sekalipun saya sesali.
    Pada saat saya gagal total mendapatkan segala jenis opsi beasiswa yang seharusnya tersedia di sekolah, pada saat saya meraih peringkat NEM tertinggi Provinsi untuk program Bahasa tanpa menerima ganjaran apapun, manakala nama saya dimuat di koran harian lokal namun saya malah menjadi satu-satunya lulusan yang tidak dianugerahi pengakuan atau penghargaan apapun, sementara puluhan lainnya panen beasiswa ke Jawa, saya mengambil keputusan untuk memuntahkan dan meludahi impian saya sendiri untuk kuliah di luar Papua, dan memilih untuk kerja saja. Sumpah pocong saya waktu itu : “daripada harus kuliah di sini, mending tidak kuliah sama sekali !”.
    Setelah beberapa bulan menjadi tukang ojek, lalu “naik pangkat” jadi tukang fotokopi di kedai Mak saya, tak terasa setahun berlalu sejak lulus SMU. Teman-teman yang sudah dengan sukses minggat dari Papua untuk kuliah di Jawa, satu demi satu bermunculan dalam rangka liburan.
    Tidak satupun yang sudah menjadi lebih pintar dari saya, baik secara akademis maupun secara hakiki, namun tak urung status mahasiswa yang mereka sandang membawa saya akhirnya terbentur dengan klasiknya pada tembok realita : “saya tidak ada apa-apanya tanpa gelar sarjana”…
    Jadilah dengan serba tidak ikhlas saya mendaftar UMPTN dan masuk UNCEN.
  2. Saya ini prokrastinator akut©gentole
    *Lirik tumpukan cucian dua minggu lalu*

Alesan
Ya, saya tau. Kedua alasan di atas sebenarnya masih bisa ditepis, tetapi tentu saja ada alesan-alesan lain yang membuat saya jadi semakin malas untuk menjalani kuliah. Alesan-alesan dimaksud bukan lain adalah keadaan serta sikon tolpanjang alias situasi-kondisi -toleransi-pandangan-jangkauan kampus tempat saya terpaksa berkuliah.
Kampus saya adalah Universitas Cenderawasih Jayapura, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, program studi Pendidikan Bahasa Inggris.
Mari, silahkan anda telusuri satu persatu kebobrokan Universitas dan Fakultas hina itu.

  1. Jumlah mata kuliah yang pas-pasan
  2. Dengan beban 160 SKS, hanya ada paling banyak 3 mata kuliah yang layak disebut mata kuliah pilihan. Belum lagi sedikitnya jumlah mata kuliah skill yang nilai kreditnya di atas 2 SKS.

    Jumlah mata kuliah memang dibatasi, berhubung jumlah dosen yang juga dibatasi. Ini demi mempertahankan kuota dosen asli Papua. Diharamkan untuk mengambil dosen terbang, tapi tidak diharamkan bagi dosen kami sendiri untuk terbang kesana-kemari. Yang paling populer adalah proyek mengajar Bahasa Indonesia di PNG.
    Sementara orang asli Papua yang berminat (dan mampu) mendalami disiplin ilmu pendidikan, sastra maupun linguistik Bahasa Inggris jumlahnya amat sangat terbatas.

    Satu contoh : hanya ada satu mata kuliah ESP (English for Specific Purposes) dengan nilai kredit 2 SKS.
    Padahal tiap kali browsing ke situs-situs FKIP di PTN-PTN lain, saya selalu mendapati ada saja MK yang asing dan membuat iri, yang nampaknya merupakan pemekaran dari mata kuliah ESP.
    Di FKIP UNLAM misalnya, yang bahkan dicap “butut” oleh salah satu alumninya, ada MK English for Arts, English for Social Science, English for Business dan tentunya ESP sendiri.
    Belum lagi Morphology yang terpisah dengan MK Syntax, padahal di kampus saya kedua MK itu digabung menjadi Morphology & Syntax. Yang goblok, nilai kreditnya tetap 2 SKS.
    Atau Intro to Research dan Research in ELT, sementara kami cuma punya satu MK Research saja.
    Ini tanpa menghitung mata-mata kuliah lain yang memang asli tidak ada di kampus saya, misalnya Intensive English, Interpersonal Communication, Scientific Writing, Comp. Lit (Word) dan (Excel)… Apa pula itu semua?

  3. Tidak ada semester pendek
  4. Tidak pernah ada ujian akhir semester yang diadakan serentak. Ujian diadakan secara independen per mata kuliah, sehingga tiap mata kuliah berakhir pada waktu yang berbeda-beda. Akibatnya tidak pernah ada liburan akhir semester yang definitif. Mau ditaruh dimana semester pendeknya kalau tidak ada liburan?
    Kalender akademik? Benda apa itu?

  5. Sistem administrasi sekelas bandar Togel
    • KHS
      Setelah memungut nilai-nilai yang berceceran dari ujian-ujian akhir terpisah itu satu per satu, lalu mengumpulkannya dalam bentuk tumpukan Kartu Kuliah ber-nilai, yang harus dilakukan selanjutnya oleh seorang mahasiswa FKIP UNCEN yang setia pada Pancasila dan UUD 1945 adalah meminta blangko kosong KHS (Kartu Hasil Studi) dari fakultas.
      Blangko rangkap lima ini kemudian diisi sesuai dengan nilai-nilai yang tertera pada Kartu-kartu Kuliah itu. Selanjutnya mahasiswa ybs harus mendapatkan tanda tangan dari 3 pejabat yang tertulis namanya di blangko tersebut : Dosen Wali, Ketua Jurusan dan Pembantu Dekan bidang Kemahasiswaan, untuk mendapat pengakuan resmi terhadap nilai yang didapatnya semester itu.

      Acuan verifikasi ? Selain kartu kuliah, ada dokumen yang berjudul DPNA (Daftar Pengisian Nilai Akhir). Dokumen ini memuat daftar nilai per MK per semester yang diisi oleh dosen masing-masing MK.
      Setelah dokumen rangkap lima ini kelar ditandatangi dan distempel, misi selanjutnya adalah menyebarkan 4 dari 5 rangkap tersebut sesuai tujuan tembusannya (Program Studi, Jurusan, Fakultas, Universitas).

      Dalam prakteknya, KHS ini hanya diurus oleh mahasiswa pengguna layanan beasiswa tertentu (Supersemar, misalnya) yang mewajibkan pelaporan prestasi per semester.
      Lain dari itu tidak. Cukup menjaga kartu-kartu kuliah yang ada dengan segenap jiwa raga, hingga tiba saat yudisium.

    • Transkrip
      Penyusunan Transkrip Nilai adalah kegiatan wajib dalam rangka persiapan yudisium. Mahasiswa meminta softcopy format Transkrip dari Jurusan atau Prodi, mengisinya sesuai Kartu Kuliah, lalu berburu tanda tangan, seperti halnya pada pengurusan KHS.
      Acuan verifikasinya juga sama persis, yaitu kartu kuliah dan DPNA.
      DPNA adalah sumber dari segala sumber acuan verifikasi yang dimiliki kampus. Ia berbentuk tumpukan kertas pada rak kayu yang tersimpan di kantor Jurusan atau Prodi. Fakultas tidak memiliki arsip DPNA sama sekali.

      Itu sebabnya all hell broke lose sewaktu terjadi kebakaran pada kantor Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (Prodi BE) 2 tahun lalu.
      Semua calon peserta yudisium, termasuk saya, dipersilahkan memproduksi Transkrip Nilai dengan isi sesuai selera. Berhubung acuan yang ada tinggal Kartu Kuliah saja (yang hanya dipegang mahasiswa, tanpa pernah ada arsip kampus, dan bisa direkonstruksi dengan oh mudahnya), maka proses verifikasi murni mengacu pada kejujuran mahasiswa yang setia pada Pancasila dan UUD 1945.
      Bisa ditebak, IPK >3.5 menjadi barang loakan.

      Saya adalah pengecualian, tentu saja. Nilai C pada MK Pancasila, Sociolinguistics, Poetry, bahkan D pada Error Analysis tetap saya pertahankan.
      Itu sebabnya predikat kelulusan yang tertera pada Ijazah saya bukanlah “Sangat Memuaskan”, melainkan “Jujur”. ๐Ÿ˜Ž

      Ada catatan kecil sehubungan dengan tragedi pesta kejujuran ini.
      Peristiwa kebakaran itu terjadi tepat pada saat tim akreditasi dari DIKTI hendak berkunjung. Dengan hilangnya seluruh arsip akademis mahasiswa, Prodi BE langsung terancam diskreditasi.
      Walau sebenarnya, tanpa kebakaran pun seluruh Fakultas tetap terancam diskreditasi, karena poin utama yang disoroti adalah ketiadaan database akademis yang terkomputerisasi – paling tidak untuk 5 angkatan terakhir. Tidak terbakarpun, DPNA di rak kayu itu hanyalah sampah peradaban.
      Maka, dimulailah salah satu misi mark-up terbesar dalam sejarah kampus.
      Semua mahasiswa diperintahkan menyetorkan semua nilai-nilai status terakhir, untuk diupload ke dalam perangkat lunak database akademik yang (amat sangat beruntung) diberikan gratis oleh DIKTI.

      Pihak Fakultas tak kalah sibuknya.
      Para MA yang sudah kuliah >10 semester, yang belum masuk dalam daftar yudisium dan wisuda, dari semua Jurusan dan Prodi, di-summon. Apapun status kemajuan akademis mahasiswa ybs pada saat itu, ia harus dipaksa selesai. Kalau kreditnya tidak cukup untuk S1, maka diwisuda paksa dengan degradasi ke D3. Atau D2. Atau D1. Atau D0.

      Bentuk tanggung jawab yang patut diacungi jari tengah, berhubung biang kerok permasalahan itu adalah Dekan sendiri. Surat pemberitahuan dari DIKTI sudah mendarat di mejanya sejak tiga tahun sebelumnya, tapi cuma dierami. Setelah ada beberapa dosen yang mendapat bocoran dari orang DIKTI, dan dikonfirmasi, barulah bapak Dekan yang terhormat dengan berat hati melepaskan surat pemberitahuan yang amat disayanginya itu dari eramannya.
      Ah, benar-benar teladan. Maksud saya telek jan.

    • Pembayaran SPP
      Sistem pembayaran SPP di kampus saya lumayan canggih, kalau dibandingkan dengan sistem pembelian karcis sepakbola.
      Mahasiswa mengantri di BAAKRENSI untuk mengambil slip pembayaran, lalu mengantri lagi di bank, lalu membawa slip pembayaran yang sudah distempel bank kembali ke BAAKRENSI untuk proses daftar ulang.
      Saya selalu iri luar biasa kalau dipameri KPM teman-teman yang kuliah di luar Papua, yang selalu berfungsi ganda sebagai kartu ATM khusus untuk membayar SPP. Bahkan yang berkuliah di Perguruan Tinggi kelas kambing pun KPM-nya sudah seperti itu. KPM kami ini terbuat dari bahan yang sama dengan karcis parkir.
      Lalu UNCEN ini kelas apa, anda bilang?
      Kelas anjing, anda bilang?
      Tentu bukan. Anjing itu kan hewan pintar.

      Walau mahasiswa membayar di bank, namun ajaibnya pihak kampus (baik pada level fakultas maupun universitas) tidak pernah menyimpan arsip pembayaran SPP mahasiswa. Rupanya demikian susahnya meminta salinan arsip dari bank.
      Alhasil kwitansi pembayaran SPP tiap semester harus dijaga dengan nyawa, karena kalau hilang kampus tidak punya alternatif acuan referensi.

      Anehnya pula, khusus di FKIP, kwitansi tiap semester ini, selain Transkrip Nilai, juga harus ditunjukkan pada saat proses verifikasi yudisium.
      Rupanya logika sederhana “mahasiswa tidak mungkin bisa sampai punya Transkrip Nilai kalau tidak pernah membayar SPP” itu masih terlalu berat untuk bisa dicerna otak bapak Dekan yang terhormat.
      Saya pun tadinya juga mengira ini tak lebih hanya kegoblokan belaka, namun setelah dicermati ternyata ada tulang di balik tai anjing.
      Untuk tiap satu kwitansi yang hilang, mahasiswa dikenakan denda 100 ribu rupiah. Ah, ternyata Dekan ini tidak sebodoh yang saya kira.
      Tentu, mahasiswa yang keberatan bisa melapor pada Rektor atau Pembantu Rektor, dan selanjutnya diberi memo rutin “Jangan menghambat mahasiswa dengan dalih administrasi !” untuk ditunjukkan pada Dekan, tapi ya hanya berhenti sampai di situ. Mahasiswa ybs lolos, Dekan angkat bahu, lalu kembali lagi memeras mahasiswa lain yang kiranya tidak banyak protes.
      Tidak ada yang merasa bahwa Dekan perlu dilaporkan ke polisi, atau paling tidak menganggap hal ini layak dijadikan bahan demo gratisan.
      Ah ya, calon guru itu haram hukumnya berdemo. Saya kok lupa terus.

    • Cuti akademik = non aktif = tidak terdaftar = terdaftar = tetap boleh kuliah
    • Semua istilah di atas sama saja dalam sistem administrasi akademik FKIP UNCEN.
      Untuk ‘dianggap cuti’, anda hanya perlu duduk di rumah tanpa membayar SPP. Berapa tahun kemudian pun anda bisa kembali, membayar SPP, mendaftar ulang tanpa harus menunjukkan Bukti Terdaftar semester sebelumnya, dan berkuliah kembali, seolah-olah semuanya normal.
      Ah, mungkin ini lebih merupakan kemudahan daripada halangan bagi kuliah saya. Namun ia tetap saja merupakan alesan kuat, yang bisa menjustifikasi saya untuk hiatus dari kampus tanpa perlu mengurus ijin cuti akademik.

  6. Rasio populasi yang terlalu besar antara mahasiswa dengan mahasisa
  7. Sungguh, satu-satunya penghibur dan motivasi ekstra waktu saya memutuskan untuk kuliah di kampus ini adalah bahwa paling tidak saya akan bertemu orang-orang yang seminat, sehaluan dan setara dalam disiplin ilmu.
    Nyatanya, saya hanya dihadapkan pada sekumpulan mahasisa. Generasi sisa produksi yang hanya laku di tanah sendiri.
    Dalam angkatan saya, saya tak ubahnya serigala dalam kandang ayam. Ini benar-benar membuat frustasi. Saya kan bayar untuk belajar, bukan untuk dipelajari. Saingan dan rekan diskusi akademis yang layak hanya bisa saya dapatkan di jajaran senior, paling tidak 2 angkatan di atas saya.

    Alhasil, saya hanya tahan kuliah bareng angkatan sendiri selama dua semester. Selanjutnya saya selalu berusaha mengontrak mata kuliah yang ditawarkan untuk semester-semester atas. “Emang bisa,” anda bilang? Ya, bisa sekali. Dengan sistem sebobrok ini, siapa yang peduli?
    Tapi itupun sama saja. Tiap angkatan tidak beda, semuanya adalah kandang-kandang ayam dengan hanya 2-3 ekor serigala di dalamnya. Cuma angkatan saya yang serigalanya cuma satu ekor. Yah, memang sih, ada anjing musangnya juga 1-2 ekor, tapi ya itu : bedanya masih lumayan jauh.

    Di semester 2 misalnya, pada ujian akhir MK Structure II yang tingkat kesulitannya tidak lebih daripada pelajaran bahasa Inggris SMU kelas I, hanya saya yang mendapat A+ (9.7), sementara semua mendapat E dan diharuskan ujian ulang. Nilai tertinggi di bawah saya adalah 4.5.
    Perbedaan itu tidak kunjung berkurang bahkan di semester 8, pada pre-test mata kuliah Toefl-Preparation. Saya 667, sementara musang-musang terdekat 510, 497 dan 403. Lainnya 3-ratusan.
    Calon-calon guru bahasa Inggris, pada semester akhir, TOEFL-nya kepala tiga?

    Padahal mahasiswa prodi BE ini adalah yang kecerdasannya terbilang unggul dibanding penghuni FKIP lainnya. Apalagi kalo dibandingkan dengan prodi Sejarah, misalnya. Mereka ini program S1 yang rela diajar oleh dosen penyandang gelar A.Md.
    Atau prodi Bimbingan & Konseling, yang konon gara-gara aspirasi Ketua Komisariatnya pada Dekan telah membuahkan Peraturan Berbusana yang menjijikkan itu. “Dilarang mengenakan celana jeans”, “Mahasiswi harus mengenakan rok, dilarang mengenakan celana, apalagi jeans”, “Dilarang mengenakan kaos, kecuali yang berkerah”, “Dilarang mengenakan sandal”, dst.

    Atau bahkan dibanding keseluruhan mahasiswa FKIP maupun fakultas lain, yang setiap ada demo bayaran, selalu dengan gampangnya digiring paksa naik ke dalam bak truk, hanya dengan gertakan kayu kering dan siraman air got oleh pemabuk-pemabuk bayaran preman-preman kampus.

  8. Organisasi Mahasiswa yang Memalukan
  9. Saya ini manusia egois. Sangat individualistis. Sama sekali bukan team player. Segala yang saya lakukan, itu demi kebaikan saya bersama.
    Kendati demikian, sebagai mahasiswa, saya juga ingin ikut terbagi kebanggaan kolektif itu. Kebanggaan eksklusif sebagai bagian dari satu komunitas pembawa perubahan. Kelas sosial yang menentukan jatuh bangunnya bangsa.
    Jangan salah sangka, saya tidak pernah kekurangan gengsi kebanggaan sebagai diri sendiri. Tidak ada yang saya banggakan lebih daripada saya. Tapi saya juga punya keinginan untuk merasa bangga sebagai mahasiswa. Walaupun sekedar mahasiswa UNCEN. Paling tidak saya ingin bisa berkata bahwa kendatipun komunitas saya ini belum โ€œinโ€telek, dan baru bisa dibilang telek, kendatipun saya ada di antara anak-anak goblok, tapi โ€œkamiโ€ juga mahasiswa. Kami juga pembawa perubahan. Kami juga pengawas jalannya pemerintahan. Kami juga anti korupsi. Kami juga musuh unsur-unsur Orde Baru. Kami juga pemberantas kebodohan!


    Maka, sayapun mencoba mengamati politik kampus. Dan fakta pertama yang saya temukan sudah cukup membuat saya muak.
    Jabatan tertinggi yang boleh dipegang oleh mahasiswa amber adalah Ketua Komisariat HMJ. Senat Fakultas dan SMPT adalah kancah eksklusif untuk mahasiswa asli Papua. Memang ini bukan hal baru. Primordialisme sudah menjadi atribut orang Papua sejak jaman Orba. Slogan Otsus โ€œOrang Papua menjadi tuan di negerinya sendiriโ€ itu hanya gula-gula politik, sama seperti Otsus itu sendiri. Kenyataannya orang Papua memang sudah diutamakan sejak dulu. Tidak ada hal yang baru dalam pengutamaan orang Papua di segala bidang. Yang baru adalah, sekarang bukan cuma bos-bos yang harus asli Papua, tapi jongos-jongosnya pun harus asli Papua.
    Dan bukan itu yang membuat saya muak. Yang membuat saya muak adalah kenyataan bahwa indoktrinasi dan pengkaderan Orde Baru dan Golkar ternyata masih berjalan gagah di kampus ini. Amanat reformasi sama sekali tidak dijunjung. Dilirik pun tidak. Mereka hanya menikmati buah Otsus, tanpa memandang dari mana Otsus itu muncul. Tanpa memandang siapa yang sudah membuang nyawa demi menabur benih reformasi. Tanpa tahu diri.

    Kursi-kursi jabatan di senat diperebutkan murni demi kewenangan yang ada padanya. Tujuan utama menjadi pejabat-pejabat senat adalah agar bisa sesering dan sebanyak mungkin mengatasnamakan institusi demi mencari uang. Menjadi politikus kampus untuk uang. Persis sama dengan segala organisasi kepemudaan binaan Golkar.
    Gaya indoktrinasi dan kaderisasi pun khas Golkar dan Orde Baru. Yang paling pertama diajarkan kepada mahasiswa-mahasiswa โ€œcemerlangโ€ yang dikaderkan sebagai bibit penerus pejabat kampus, adalah bagaimana cara membuat proposal yang baik. Bagaimana cara melobi pejabat pemerintahan. Pejabat mana saja yang paling dermawan. Siapa yang harus dijilat, dan siapa yang cuma perlu diusap. Panduan dasar untuk menjadi calon koruptor.

    Tidak ada pengajaran kepada junior tentang bagaimana seorang mahasiswa harus jeli melihat apa yang salah pada pemerintahan dan masyarakat. Atau bahkan pada halaman belakangnya sendiri, pada eksekutif kampusnya sendiri. Atau paling tidak bagaimana menegakkan hak-haknya sendiri sebagai mahasiswa, minimal hak-hak akademis.
    Sama sekali tidak ada. Yang ada hanya bagaimana mengubah segalanya โ€“ segalanya โ€“ menjadi uang. Lalu bagaimana menyelubungi misi sedot uang itu dengan segala bunga-bunga โ€œpemberdayaanโ€, โ€œpengembanganโ€, โ€œpelatihanโ€, โ€œstudi bandingโ€, โ€œlomba ini lomba ituโ€, bahkan โ€œwisata rohaniโ€. Cuci otak dan indoktrinasi untuk mendidik mahasiswa junior menjadi penerus sejati seniornya : manusia-manusia konsumtif.

    Sampai sekarang, hampir 2 tahun sejak saya wisuda, belum juga dibentuk BEM di UNCEN. Senat masih berkuasa penuh. Tidak rela kalau sampai terbentuk badan yang bisa menyaingi kekuasaan mereka.

    Saya masih ingat, tahun 2003, pada satu-satunya Musorma (Pertemuan Besar Kepala-kepala Suku) yang pernah saya ikuti, sempat ada usaha ke arah pembentukan BEM.
    Adalah delegasi FISIP yang pada waktu itu dengan gegap gempita mengusulkan pembatalan agenda tunggal Musorma (pemilihan Ketua Senat), dan menuntut pembentukan BEM saat itu juga. Mereka langsung mendapat perhatian penuh sebagian besar peserta, yang terlihat berkaca-kaca, siap menyambut turunnya wahyu baru.
    Namun tatkala yang bersangkutan dengan gagahnya berkata, โ€œKami siap dikirim untuk Studi Banding™ !โ€, semua langsung ambruk dari kursi masing-masing. Bola-bola mata berputar ke atas.
    Cemoohan pun berkumandang, dan sebelum terjadi hal yang tak diinginkan, sang pimpinan delegasi langsung diseret paksa keluar oleh rekan-rekannya sendiri.

    Anehnya, beberapa bulan sebelumnya, ketua senat yang dilengserkan pada Musorma 48 jam itu, waktu masih menjabat, sempat memimpin delegasi mahasiswa menghadap Hamzah Haz dan memperkenalkan diri kepada wartawan sebagai Ketua BEM !!
    Ah, ukuran kemaluan yang memalukan.
    Manusia tak tahu malu ini malah sekarang sedang menjabat sebagai salah satu Ketua Komisi di DPRD Kabupaten Jayapura .

    Ada catatan kecil khusus mengenai Musorma tahun 2003 di atas. Maaf kalau mengganggu ritme penuturan, tapi ini sayang kalau tidak diceritakan. :mrgreen:
    Alasan saya sampai bisa mengikuti acara itu adalah murni insidentil. Atas nama cinta. Pacar saya adalah salah satu delegasi UKM, namun setelah larut malam ia tak sanggup lagi mengikuti acara. Saya langsung mendaulatnya pulang, lalu menggantikannya duduk di situ sampai pagi.
    Sekitar jam 3 malam, saya (dan seluruh peserta termasuk pimpinan sidang) tiba-tiba terbangun mendengar suara gedebuk dari salah satu peserta yang ambruk dari kursinya. Setelah mengelap iler, pimpinan sidang berkata, โ€œErr.. ya… demikian tadi pidato pertanggung jawaban Ketua Senat mandataris….โ€

    Bahwa pertemuan agung politikus kampus ini bodoh, sebenarnya sudah nampak sejak siang hari pada saat saya dan Jensen nongkrong di pojok aula lokasi sidang. Kebetulan saat itu dia juga punya kecengan salah satu peserta Musorma.
    Kami terpingkal-pingkal senewen selama lebih kurang 20 menit demi membaca tema acara yang terpampang di latar belakang panggung : โ€œ…Mencari Figur Pemimpin yang Demokratis, Sosialis dan Religius…โ€.
    Kami lebih terpingkal lagi pada saat dikonfirmasi oleh sekretaris panitia penyelenggara pencetus tema bahwa figur yang dicari bukanlah mahasiswa penganut Nasakom, karena โ€˜sosialisโ€™ yang ia maksud di situ adalah โ€˜dermawanโ€™.

    Sejak masih Ospek, ada satu gosip kampus yang begitu legendaris. Bahwa pada Juni 1998, senat mahasiswa UNCEN pernah dikirimi paket dari senat mahasiswa UGM, UNAIR atau UI โ€“ saya tidak ingat persis yang mana โ€“ yang isinya cermin dan perangkat rias wanita. Ini karena pada April โ€“ Mei tahun itu mahasiswa UNCEN tidak ikut turun ke jalan meneriakkan reformasi seperti mahasiswa-mahasiswa lain di berbagai daerah.
    Padahal orang Papua selalu mengklaim sebagai korban terbesar rezim Suharto. Tapi pada saat mahasiswa di seantero tanah air bersatu-padu menuntut Suharto turun, UNCEN malah adem ayem. Mahasiswa UNCEN dianggap pengecut.

    Padahal ini persepsi yang salah. Mahasiswa UNCEN bukannya tidak bisa demo. Bukan pula korlap-korlap dan spesialis penghimpun massa kami yang penakut. Masalahnya bagaimana mereka sudi bergerak kalau tidak ada yang membayar?

    Demonya mahasiswa UNCEN memang hampir selalu demo bayaran. Bahkan saya bisa katakan 4ยฝ dari 5 demo oleh mahasiswa UNCEN adalah demo bayaran.
    Ini bukan hal yang sulit untuk dilihat. Selain dari fakta menusuk mata bahwa para korlap selalu berpesta tiap kali selesai demo, banyak fakta lain yang mengarah ke sana.
    Misalnya, fakta bahwa topik demo tidak pernah berubah : Pelanggaran HAM dan Merdeka.
    Kalau frekuensi demo menjadi parameter kepekaan mahasiswa terhadap permasalahan di masyarakat, lalu mengapa hanya itu-itu saja masalah yang diangkat? Toh tidak pernah digubris. Memangnya tidak ada masalah praktis lain yang bisa diangkat? Masalah yang benar-benar bisa dituntut solusinya, asal ada yang mau demo?
    Korupsi, misalnya. Anggota DPR yang getol Studi Banding. Bupati-bupati dari puluhan kabupaten pemekaran yang rame-rame mengoleksi aset pribadi di ibukota Provinsi. Nepotisme di seluruh jajaran pemerintahan. Atau masalah listrik. Atau bahkan kenaikan tarif angkot yang tidak proporsional dengan kenaikan harga BBM.

    Boro-boro. Terhadap masalah di kampusnya sendiri saja bisu. Paling getol menghadiri segala macam temu ilmiah di perguruan tinggi lain tapi sama sekali buta terhadap betapa berbedanya kampusnya dengan kampus orang. Mau-mau saja dijejali sistem administrasi yang bobrok. Manggut-manggut saja didikte cara berpakaian. Pejabat korup bukannya diteriaki malah dijilati, berharap kebagian receh korupsi.

    Apa? BHP? Benda apa pula itu?

    Mahasiswa yang teriak Merdeka dan HAM sampai keluar ingus, tapi rela disodomi orde baru di kampus sendiri.

    Apakah yang harus saya banggakan?

Ah, kiranya sudah cukup panjang tulisan kurang penting ini. Saya cukupkan sampai disini saja dulu.
Sebenarnya masih ada alasan maupun alesan lain yang menjelaskan jawaban untuk judul tulisan di atas, namun untuk sekarang ini cukuplah sekian. Lain kali mungkin akan saya tambahkan dalam bentuk sekuel.


Glossary
Amber : Warga Papua ras non Melanesia. Mengacu baik pada pendatang maupun pada keturunan pendatang yang lahir di Papua.
Kembali ke atas

Advertisements

49 Responses to “Mengapa saya kuliah sampai 7 tahun”


  1. 1 lambrtz January 1, 2009 at 7:25 pm

    PERTAMAX!!
    Meninggalkan jejak dulu.
    Bacanya nanti siang habis bangun tidur.

    *siul-siul, pulang*

  2. 2 dnial January 2, 2009 at 1:07 am

    Freakin scary story down there in Papua.

    Sepertinya bukan karena orang Papua bodoh tapi dibodohi oleh sistemnya.

  3. 3 lambrtz January 2, 2009 at 7:13 am

    Hoaheemm…

    Overall, saya kok merasa ada satu manusia berbakat yang “tersia-siakan” ya? ๐Ÿ˜ฆ

    nama saya dimuat di koran harian lokal […] penghargaan apapun

    How come? ๐Ÿ˜•

    pada saat saya meraih peringkat NEM tertinggi Provinsi untuk program Bahasa tanpa menerima ganjaran apapun

    How come? ๐Ÿ˜•

    Ah ya, calon guru itu haram hukumnya berdemo. Saya kok lupa terus.


    *terbayang Great Teacher Onizuka Fritzter*

    โ€œDilarang mengenakan celana jeansโ€ […] โ€œDilarang mengenakan sandalโ€

    How come? UGM yang konon katanya feodal saja sudah lama meninggalkan kebanyakan peraturan ini. Mungkin aturan dilarang bercelana bagi wanita itu cuma ada sampai zaman ibu saya kuliah tahun 80-an ๐Ÿ˜•
    Tapi yang dua terakhir di jurusan saya dulu masih ada sih ๐Ÿ™„

    Lain kali mungkin akan saya tambahkan dalam bentuk sekuel.

    Ditunggu sekuelnya :mrgreen:
    *beneran*

    BTW, orang yang nagih artikel ini lagi hiatus tuh :mrgreen:

  4. 4 gentole January 2, 2009 at 9:17 am

    Damn, saya belum pernah ke Papua. Penasaran kayak apa sih sebenarnya di sana. Btw, bagaimana rasanya ngojek? ๐Ÿ˜€

    Ah tapi bung, kebanyakan orang-orang besar yang saya tahu adalah orang-orang yang pernah merasa terbuang dan dilupakan.

  5. 5 och4mil4n January 2, 2009 at 1:40 pm

    Pancal dekan goblok itu ๐Ÿ˜ˆ

    Itulah mengapa saya memilih kabur ke UGM daripada masuk UNCEN sana.
    padahalgebetansayadiJayapura

    Halah…cuma 6 tahun doang sayayg7tahunajagaknyombong
    *dipentung*

    Banyak hal yang bobrok emang di Papua.
    Tapi… UNCEN gitu lho… ancur banget kek gitu sistemnya
    *speechless*

  6. 6 hawe69 January 2, 2009 at 3:15 pm

    oh boy..u are so wasted there! jadi ingat tokoh ‘lintang’ dalam ‘laskar pelangi’.. it’s so ironic.. life is ironic.. ๐Ÿ˜‰

  7. 7 Rukia January 2, 2009 at 5:38 pm

    Wkwkwkwkwk
    Lah kok malah ketawa ya :mrgreen: harusnya prihatin ๐Ÿ˜•
    Tragis nian nasib ente bang :mrgreen:
    Tapi, sabar yo wis lulus toh.
    *Buat pengumuman ke semua SMA supaya gak mili UNCEN buat PMDK ato UMPTN*
    *dilempar kucing*

  8. 8 grace January 2, 2009 at 5:45 pm

    *tunggu sekuel*
    emang masih ada lagi yang mau dikeluhkan, mas?
    *takjub*

  9. 9 Fritzter January 2, 2009 at 6:55 pm

    @all
    Perhatian-perhatian.
    Ada update di Alesan v5.0.0.
    Terima kasih.
    .
    .
    @lambrtz #1
    Ya ya ya…
    .
    .
    @dnial
    Bisa jadi.
    Tapi gimana “dibodohkan sistem” kalo sejak jaman Orba sudah mandi beasiswa?
    .
    .
    .
    @lambrtz #2

    How come? ๐Ÿ˜• #1 & #2

    Karena saya amber (liat glossary).
    Dan bukan amber sembarang amber, tapi amber yang gak punya satupun sanak keluarga yang berstatus PNS di Papua.
    Amber gak penting, lebih tepatnya.

    How come? UGM yang konon katanya feodal saja sudah lama meninggalkan kebanyakan peraturan ini. Mungkin aturan dilarang bercelana bagi wanita itu cuma ada sampai zaman ibu saya kuliah tahun 80-an ๐Ÿ˜•

    Kampus biru Orde Baru ๐Ÿ˜Ž

    Ditunggu sekuelnya :mrgreen:
    *beneran*

    *jadi ingat janji sekuel post yang dulu itu* ๐Ÿ™„
    .
    .
    .
    @gentole

    Btw, bagaimana rasanya ngojek? ๐Ÿ˜€

    Uenak tenaaan!! ๐Ÿ˜€
    There’s nothing like a daily income. Really. I mean it.
    Cuma sekarang dilarang ngojek sama pacarku ๐Ÿ˜ฅ

    Ah tapi bung, kebanyakan orang-orang besar yang saya tahu adalah orang-orang yang pernah merasa terbuang dan dilupakan.

    10 taon lagi kalo saya capres independen, pilih saya ya! ๐Ÿ˜€
    .
    .
    .
    @och4mil4n

    Pancal dekan goblok itu ๐Ÿ˜ˆ

    Ah ya, pernah ada mahasiswa yang mabuk trus lempar mobilnya. Dia langsung telanjang dada dan nantang anak itu. ๐Ÿ˜†
    “Sa ini preman Papua paling keras di Malang dulu!!”
    Untung diamankan Menwa, kalo gak dah digropyok gerombolan mabuk di kantor senat ๐Ÿ˜†

    Euh, 7 tahun? Ah sebenarnya saya juga berasa 7 tahun. Kan selepas SMU ngojek & ngopi dulu setahun. :mrgreen:
    .
    .
    .
    hawe69
    Makasih ๐Ÿ˜ฅ
    Btw belom sempat nonton laskar pelangi itu…
    .
    .
    .
    @Rukia
    Halah, gila kali ada orang Jawa milih UNCEN.
    .
    .
    Eh, ADA ding!! ๐Ÿ˜ฏ
    Junior saya ada anak Jogya yang asli dipaksa ortunya naruh uncen di pilihan pertama waktu SPMB. Dihukum gara2 pas SMU suka nyimeng. ๐Ÿ˜†
    Ah herannya dia kok betah2 aja… ๐Ÿ™„
    Dah mati rasa kebanyakan nyimeng kali ya… ๐Ÿ˜•
    .
    .
    .
    @grace
    Mungkin…
    Entahlah ๐Ÿ˜†

  10. 10 lambrtz January 2, 2009 at 7:44 pm

    Karena saya amber […] gak penting,

    Apartheid? ๐Ÿ™„

    10 taon lagi kalo saya capres independen, pilih saya ya! ๐Ÿ˜€

    Hell, of course!!!!

  11. 11 jensen99 January 3, 2009 at 3:59 am

    Sabar dulu, ada fakta yang salah pada judulnya ini… ๐Ÿ™„

    Sampeyan kuliah 6,5 tahun lho! Bukan 6 tahun! Kurang satu semester itu!!! ๐Ÿ˜ˆ ๐Ÿ˜†

    Makanya, kuliah tu rajin masuk! ๐Ÿ˜†

    *siyul-siyul*

    @ lambrtz

    Mungkin aturan dilarang bercelana bagi wanita itu cuma ada sampai zaman ibu saya kuliah tahun 80-an ๐Ÿ˜•

    Dalam suatu rapat dosen pernah ada dialog seperti ini antara dosen yang moderat dengan salah satu Pembantu Dekan yang mengusung aturan berbusana bodoh itu: (Mungkin akan kami post kapan2)

    “Pak, kalo para mahasiswi itu dilarang pake celana panjang kan kasihan yang bawa motor, misalnya; Agak ribet kalo pake rok.”

    “Suruh saja jangan pake motor!”

    “…” (bungkam)

  12. 12 Fritzter January 3, 2009 at 4:28 am

    @lambrtz
    *catet lambrtz dalam daftar kandidat menkominfo*
    .
    .
    @jensen
    Heh, itu judul awalnya malah 7 tahun!! ๐Ÿ˜†
    Soale angka 6,5 itu kurang estetis… ๐Ÿ™„
    Ah, ta’kembaliin jadi 7 saja! ๐Ÿ˜†
    *cari-cari gambar kaos Pato*

  13. 13 dnial January 3, 2009 at 1:44 pm

    @fritzer

    10 taon lagi kalo saya capres independen, pilih saya ya! ๐Ÿ˜€

    Itu tergantung. Presiden RI atau Presiden Papua.

  14. 14 lambrtz January 3, 2009 at 1:51 pm

    @dnial
    Lihat sidebarnya aja :mrgreen:

  15. 16 mbelGedezโ„ข January 4, 2009 at 6:50 pm

    Papuanya UNCEN nya yang bangsat, mangsude….

    ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜†

  16. 17 Fritzter January 5, 2009 at 7:20 am

    @dnial | lambrtz
    RI dong.
    Kalo harus separatis, ngapain ikut Papua?
    Mending saya proklamirkan Republik Jawadwipa ๐Ÿ˜†
    .
    .
    @mbelGedez™
    SETUJUHH !! ๐Ÿ˜†

  17. 18 Catshade January 5, 2009 at 9:13 am

    Junior saya ada anak Jogya yang asli dipaksa ortunya naruh uncen di pilihan pertama waktu SPMB. Dihukum gara2 pas SMU suka nyimeng. ๐Ÿ˜†
    Ah herannya dia kok betah2 ajaโ€ฆ ๐Ÿ™„
    Dah mati rasa kebanyakan nyimeng kali yaโ€ฆ ๐Ÿ˜•

    Ngenes sekali Papua semakin dipenuhi amber macam ni… ๐Ÿ˜•

  18. 19 Fritzter January 5, 2009 at 1:10 pm

    ^
    ๐Ÿ˜†
    Ah jangan begitu. Dia anaknya asik kok. Suka main WE juga, Milanisti pula :mrgreen:

  19. 20 frozen January 6, 2009 at 11:03 am

    … ๐Ÿ˜• *nggak paham*
    .

    10 taon lagi kalo saya capres independen, pilih saya ya! ๐Ÿ˜€

    Fritz for president! :mrgreen:
    .
    btw, nyimeng itu apa sih? ๐Ÿ˜•

  20. 21 Fritzter January 6, 2009 at 12:04 pm

    @frozen

    ๐Ÿ˜• *nggak paham*

    Ini reaksi paling ajaib ๐Ÿ˜•
    Bagian mana yang gak dipahami? :mrgreen:

    Nyimeng? Setauku “ngisep ganja”… Entah sudah ada istilah baru yang lebih baku gak…

  21. 22 frozen January 6, 2009 at 4:24 pm

    ya, saya nggak paham istilah2 perkuliahan yang banyak disebut di atas ๐Ÿ˜•

  22. 23 Fritzter January 7, 2009 at 2:48 am

    ^
    Hooo.. Kuliah di luar negeri ya ๐Ÿ˜•

  23. 24 Fortynine January 7, 2009 at 9:13 am

    saya justru menangkap beberapa persamaan, nanti kalau saya tidak malas akan saya tuturkan bagaiman berkualitas nya kampus ndeso bernama FKIP UNLAM.

    Intinya, menurut saya yang sok tahu ini; kesalahan terbesar adalah (dari mereka mereka yang entah siapa, entah itu nenek moyang, entah itu pejuang kemerdekaan atau tokoh kampret macam Hasan Basri) bergabungnya pulau pulau kaya menjadi NKRI!

    Kesalahan terbesar orang orang Kalimantan pada minoritasnya adalah menerima pinangan Pak Proklamator atau siapapun penggagas negara keparat republik Indonesia.

    Padahal saya yakin tak semua orang Kalimantan yang hidup pada jamannya setuju untuk jadi budak dan sapi perasannya “Indonesia”, seperti juga saya yakin tidak semua orang Papua setuju untuk jadi lumbung harta yang tak pernah dinikmati oleh mereka sendiri.

    Setelah disatukan menjadi Indonesia, maka terlihatlah betapa Indonesia itu sebenarnya hanya ada di beberapa Pulau. Yang namanya Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia itu adalah Tahi Kuda!

    Kalau tidak mana mungkin akan ada yang namanya GAM,RMS, dan lain lain..

    *lost fokus*

    ya sudah, nanti akan saya review kampus sontoloyo itu kalau saya masih minat dan tidak malas. Termasuk bahwasanya lulusannya sendiri tak pernah dapat test TOEFL dari kampusnya sendiri

  24. 25 Fritzter January 7, 2009 at 10:39 am

    @Fortynine

    Lha emang seberapa besar peran kampus itu dalam proses integrasi ke dalam NKRI?

    ..review kampus sontoloyo itu kalau saya masih minat dan tidak malas.

    Semangat!! :mrgreen:

    …bahwasanya lulusannya sendiri tak pernah dapat test TOEFL dari kampusnya sendiri

    Ahem, toefl di uncen juga gak gratis lho.. untuk mahasiswa sekalipun. 600ribu, tanpa diskon.

  25. 26 jensen99 January 7, 2009 at 4:02 pm

    @ Fortynine

    Setelah disatukan menjadi Indonesia, maka terlihatlah betapa Indonesia itu sebenarnya hanya ada di beberapa Pulau.

    Ada yang bilang kalo kesannya Indonesia itu bagian dari Jawa, dan bukan sebaliknya. :mrgreen:

    […] negara keparat republik Indonesia.

    Bubarkan? ๐Ÿ˜ˆ

    *memulangkan Fritz dari negara Papua*
    *diajak ikut pulang*

  26. 27 Fritzter January 7, 2009 at 4:38 pm

    jensen
    You zionists belong with Papuans.
    *siul-siul*

    Saya masih senang menjajah Papua. ๐Ÿ˜Ž

    Daripada ninggalin “pulau kaya” ini, mending ta’genosida saja semua.
    Survival of the fittest.
    *siul-siul*

    *cium-cium sidebar*

  27. 28 The Bitch January 7, 2009 at 8:14 pm

    gwa dulu kuliah dapet dosen structure, listening, writing, reading, prose, intro to english language and history, ESS, semua bule. lab komplit. ngisi KHS computerized. KTM ilang tinggal ke BAAK ngurus gratis. sering ngembat buku perpus ampe ga keitung. tidur di bawah beringin angker depan kantor BAAK siang2 karena ga punya kamar kos. kalo bayaran sering minta dispen mundur sebulan karena duit belum kumpul. sering nongkrong bareng satpam, pesuruh, tukang parkir ampe tukang bakso di kantin. ngembatin aer minum kampus ampe 7 x 1.5 ltr botol akua tiap 2 hari sekali. sering eyel2an ama dosen kalo ketauan pake jins robek dan sendal jepit (kaos oblong mah jangan ditanya). sering ngerjain dosen drama II dengan pertanyaan aneh2. mo nonton, maen scrabble, baca buku, BELAJAR NGGEDEIN SKOR TOEFL semua ada di self-accessed center. jadi cewek pertama yg berani ngerokok di lobi kampus. yg pertama tindik di dagu. dan yg pertama berani maki dosen slash pudek II dengan ‘YOU’RE SUCH A GOOD-FOR-NOTHING TYRANT!” depan kelas.

    DAN GWA DANCING OUT!!!

    malu gwa malu!!!

    *iya. ini confession*

  28. 29 itikkecil January 8, 2009 at 5:43 am

    saya juga sebelum lulus harus mengumpulkan semua KRS dari semester satu sampai tamat dan bayaran juga ngantri di kampus
    tapi itu hampir sepuluh tahun yang lalu…..

  29. 30 Fritzter January 8, 2009 at 10:41 am

    @itikkecil
    Yang ini masih, sampe sekarang. ๐Ÿ˜Ž

  30. 31 Bang Satria January 14, 2009 at 2:06 am

    BANGSAT !!! ๐Ÿ˜ฏ

    Ada yang manggil saya?

  31. 32 isma January 14, 2009 at 1:38 pm

    *baca kenceng*
    aeu,,jadi kuliahnya yang bener brp lama?
    saya malah yakinnya lebih dari 7 tahun tuh :mrgreen:

    *baca pelan*
    *ga selesai-selesai*

    hm, apa krn udah kelamaan ya mas prit, jadi ga mudeng buat ngebahas ini lagi. hm,tapi minimal mina udah tau kondisi kuliahnya mas prit.
    tapi tetep aja, walau kondisinya kyk gitu, satu hal yang patut disukuri adalah kita masih bisa belajar -walopun dgn serba ketak sempurnaan.
    maka teruslah belajar dan mencari biar lebih mantap hidupnya.

    semangat ! semngat! semagnat !

  32. 33 Fritzter January 14, 2009 at 3:12 pm

    Bang Satria
    Sono lapor diri ke Imammu ๐Ÿ˜†

    isma

    satu hal yang patut disukuri adalah kita masih bisa belajar -walopun dgn serba ketak sempurnaan.

    Sudah dibilang, saya ini lebih banyak dipelajari daripada belajar. ๐Ÿ™„

  33. 34 icham January 14, 2009 at 6:02 pm

    hehe TOEFL qu 543 ,, institusional trun dikit,, hehe sengaja d trunin neh nilai TOEFL qu,pembunuhan karakter neh, tuh si jensen yg d bwah..wakakakak.. malah mgkin g nyampe…wakakak bro nightmare of ur’ past koq d umbar2 ?? trus d buka brok2 kmpus dan brok2mu smangat bro..

  34. 35 Fritzter January 15, 2009 at 4:30 am

    icham
    Ah, ada juga akhirnya alumnus seangkatan yang datang. :mrgreen:
    Euh 543 to? Sori bukan sengaja. Lupa™. ๐Ÿ˜†
    *segera diedit*
    Jensen? Dia belum niat tes kok. Perkiraan ybs sendiri sih 200. ๐Ÿ™„

    nightmare of urโ€™ past koq d umbar2 ??

    Ini Rawon Setan for the Soul™.

    trus d buka brok2 kmpus…

    Atas nama transparansi. ๐Ÿ˜Ž

    …dan brok2mu

    Lha borokku emang gak pernah disembunyikan kok.
    Emang selama ini gak keliatan? ๐Ÿ™„

  35. 36 isma January 15, 2009 at 1:09 pm

    –mas prit-
    haiyaa,,,gituuu aja bilangnya: ‘dipelajari’. ge-er amat sih, merasa udah banyak ‘dipelajari’ oleh banyak orang.
    eh coba deh ya mas prit, kyknya salah satu sumber sinismu itu ya itu, gak pernah mau merasa ‘kalah’ dan mengakui bahwa mas prit pun banyak belajar bahkan dari orang yang dianggap bodoh ataupun jahat oleh mas prit..
    seriously.
    apa tak bisa berbesar hati?

  36. 37 Fritzter January 15, 2009 at 2:37 pm

    ^

    ..mas prit pun banyak belajar bahkan dari orang yang dianggap bodoh ataupun jahat oleh mas prit..

    Gak pernah.

    apa tak bisa berbesar hati?

    Gak.
    Cuma bisa realistis™.
    *siul-siul*

  37. 38 isma January 17, 2009 at 1:41 pm

    sesukanya sajalah

  38. 39 sunsettowner January 23, 2009 at 12:55 am

    saya juga kuliah 7 tahun koq, semua sejawat yg pantas dijadikan benchmarking figure juga gitu. Tapi kebanyakan babon dan jago tepat waktu.
    toefl 643 highest of the class, sayang para benchmarking (togel, yan-c, anna, pit-f) masing2 punya masalah “pribadi??!!” so gak bisa tampil maksimal… padahal sengaja ikut angkatan di atas biar lebih fenomenal
    :mrgreen:

  39. 40 sunsettowner January 23, 2009 at 1:38 am

    Mengingat SPP saya yang cuman 146k/semester compared to my brother’s 150k/month in his elite highschool, saya juga gak berharap banyak koq dari kampus kita. Di sini (sunsettown) saya ketemu lulusan PT n/s dari sulawesi, maluku, bahkan jawadwipa yg bahkan lebih parah dari sebagian kita anak UNCEN, n itu bikin saya (at least) bersukur saya kuliah “cuman” di prodi BE (mungkin karna dosen yg agak liberal ya?)
    Apa yg saya dapat di uncen:
    – ijazah n akta
    berguna untuk ngelamar, walau molor 7 tahun karna sering dapat obyekan/job yang gak butuh 2 hal itu, tapi skarang udah jadi PNS dengan jobdesc: “jaga internet” (kayak jadi gigolo = puas lahir batin nih)btw kamu ngatain saya “lost his idealism”?? it got nothing to do with my idealism, there IS no such thing as NGO’s or decent courses here n i knew i could give more knowledge than those other gurus here.
    – great-bright-cool friends (like you n si zionist), girl=friends (include HTS n TTM), and Ex-girlfriend = Istri.
    – knowledge n wide schemata from informal sources
    and not so much more
    Tapi

    Apa yang tidak ada di kampus toh tersedia di luar ๐Ÿ˜† kayak di MSF, EF, EU, ato tempat nyari hidup (like 250k/day during EU-EOM) yg lain.
    ttg job di MSF itu it wasn’t coz i am “benevolent”, she asked for
    some1 competent and the choice wasn’t hard at all

  40. 41 Fritzter January 23, 2009 at 12:52 pm

    sayang para benchmarking (togel, yan-c, anna, pit-f) masing2 punya masalah โ€œpribadi??!!โ€ so gak bisa tampil maksimalโ€ฆ

    Well, kelak kemudian para UPTers itu tampil maksimal di ITP yangLebihValidDaripadaMKtoeflPrep. and I beat the crap out of ’em. :mrgreen:
    .
    .
    @sunsettowner #2

    Di sini (sunsettown) saya ketemu lulusan PT n/s dari sulawesi, maluku, bahkan jawadwipa yg bahkan lebih parah dari sebagian kita anak UNCEN

    Itukah sebabnya mereka terbuang ke kotamu ? ๐Ÿ˜†
    Tapi bukankah itu ironinya? Golongan berkualitas parah yang mewakili minoritas alumnus PTn/s luar Papua itu malah kualitasnya berbanding lurus dengan mayoritas alumnus Uncen. ๐Ÿ˜†
    .
    .

    btw kamu ngatain saya โ€œlost his idealismโ€?? it got nothing to do with my idealism, there IS no such thing as NGOโ€™s or decent courses here n i knew i could give more knowledge than those other gurus here.

    Remember when you said you helped your superiors support the nat.exam-hacking campaign?
    Whatever happened to “Cheating: A Bad Habit”? ๐Ÿ˜•

  41. 42 ManusiaSuper November 13, 2009 at 5:16 am

    baru nyasar ke sini… dan tiba-tiba FKIP UNLAM terasa seperti surga…

  42. 43 mauritia January 7, 2010 at 8:26 am

    Oh ya ampun.. *terkaget-kaget*

  43. 44 yoan August 3, 2010 at 1:39 am

    saya “cuma” butuh enam tahun buat kuliah… ๐Ÿ˜†

    ah, well, gak penting sih mau kuliah atau sekolah di mana, yang penting kan gimana kita bisa berfungsi dengan baik di masyarakat. ya toh? ya toh?

    peace out… [maaf saya tidak terlalu tau cara berkomunikasi yg benar dengan orang2 pintar seperti kalian, di dunia nyata saya biasanya lebih banyak diam dan ketawa2 ga jelas. ya, saya selangkah lagi dari menjadi penghuni tetap asylum]

  44. 45 Fritzter August 4, 2010 at 5:19 am

    ^
    Makasih sudah berkunjung :mrgreen:


  1. 1 Dresscode sux! « JenSen99’s Weblog Trackback on January 22, 2009 at 4:58 am
  2. 2 Dalamnya Kebodohan (2) : Trolling di Facebook « Fritzterealm Trackback on June 4, 2009 at 7:46 pm
  3. 3 Masalah Sa Pu Nama « JenSen99's Weblog Trackback on November 12, 2009 at 1:37 pm
  4. 4 Dari Hati « i (sometimes) take life seriously.. Trackback on January 22, 2010 at 12:34 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




WANTED


Fritzter D. Loki

DEAD OR ALIVE

β 666,000,000

Currently Peeking

Categories

January 2009
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031