Saya vs PLN

Prelude

Saya mengalami getaran inspirasi yang begitu hebat waktu membaca post Manusia Super a.k.a Mansup dan Amed tentang pelayanan listrik PLN di daerah mereka. Saya lalu teringat pengalaman pribadi saya yang sebenarnya sempat masuk daftar kejadian-kejadian yang ingin saya tuangkan dalam tulisan. Namun entri ini sempat mengalami degradasi nilai berita di mata saya, sampai kemudian saya membaca tulisan Mansup dan Amed tadi. Walaupun saya juga berminat dengan novel gratis sebagai hadiah sayembara yang diadakan Mansup, saya sadar bahwa dari segi lokasi, pengalaman saya ini tidak masuk dalam batasan tema yang digariskan.
Namun sesungguhnya saya sudah cukup puas bisa sekedar membagi pengalaman, dan tentunya menyuguhkan satu mangkok imajiner Rawon Setan untuk Jiwa. Mudah-mudahan bermanfaat.

Narasi

Ini kejadian dua bulan lalu, Oktober 2008. Seperti biasa, saya menjalani ritual 4 bulanan bayar rekening listrik. Kenapa harus menunggu 4 bulan, anda bilang ?

  1. Karena saya bisaβ„’.
  2. Karena PLN tidak layak dibayari tepat waktu.

Mengetahui trend pemakaian listrik bulanan rumah kami yang berkisar antara 70 sampai 90 ribu Rupiah, saya sudah menyiapkan uang 400 ribu di kantong. Namun, setibanya di kasir saya langsung dibuat bengong : tagihan akumulatif 4 bulan terakhir adalah Rp. 633.650,-!!!
Setelah meminta printout, saya kembali melongo demi melihat angka 405.795 di bulan Agustus.

Klik untuk memper<i>kecil</i>

Klik untuk memperkecil

Saya segera meminta konfirmasi, dan diarahkan ke satu mbak di bagian costumer service. Mbak ini kemudian meminta saya menunggu supervisornya kembali dari istirahat makan siang.
15 Menit kemudian, yang ditunggu pun datang. Pak Jarwo namanya. Saya pun menanyakan asal muasal angka fantastis di bulan Agustus itu.
Jarwo : Ooh, itu akumulasi pak.
Saya : Akumulasi?
Jarwo : Ya. Jadi ada beberapa bulan di tagihan-tagihan sebelumnya, yang rekening bapak hanya ditagih bebannya saja. Pemakaiannya tidak ditagih. Nah, jumlah yang tidak tertagih dari sekian bulan itu terakumulasi di bulan Agustus ini.

Bagi orang PLN ini mungkin hal biasa, dilihat dari gaya pak Jarwo yang tenang-tenang saja, namun di telinga saya ini tidak beda dengan bunyi kecipak tai sapi yang jatuh di atas becek kencing onta.

Saya : Bagaimana sampai bisa ada bulan-bulan yang tidak ditagih?
Jarwo : Ehem. Oh, itu karena petugas kami gagal mencatat angka meter pada bulan-bulan itu. Mungkin karena di rumah bapak susah dijangkau meternya, atau ada anjing, atau halangan-halangan lain.

Oh, genangan kencing onta itu ternyata lebih dalam dari dugaan saya, dan bunyi kecipak tai sapi itu kini sedang beresonansi dengan cemprengnya.

Saya : Saya tidak pelihara anjing. Meter saya di luar rumah.
Jarwo : Oh? Hmm.. berarti…
Saya : Berarti petugas yang salah.
Jarwo : Err… yah, bisa jadi.
Saya : Kalau begitu suruh petugasnya saja yang bayar itu akumulasi. Kan kesalahan dia. Potong saja gajinya.
Jarwo : (berlagak membaca-baca printout, menggumam sambil nyengir) Iya kalau petugasnya mau…

Kalau berhadapan dengan saya yang 5 tahunan lalu, orang ini sudah menggelepar di lantai dengan 3 gigi seri tertelan. Sekarang ini saya sudah lebih dewasa…

Saya : Yang jelas Saya tidak mau.
Jarwo : Lho, listriknya kan bapak sudah makan, hanya tidak tercatat saja.
Saya : Itu salah petugas. Bukan salah saya. Saya membayar bulanan, berdasarkan pemakaian bulan bersangkutan. Kalau ada yang cuma ditagih beban, itu saya anggap memang pemakaiannya nol.
Jarwo : Lho bapak merasa pernah makai listrik dalam satu bulan nol tidak?
Saya : Tidak. Tapi setiap hanya ditagih beban saja, saya anggap itu bonus tahu diri dari PLN, karena layanannya selama ini busuk.
Jarwo : ……
Jarwo : Lagipula ini bapak sudah nunggak 4 bulan.
Saya : Lalu? Ada denda ya saya tinggal bayar dendanya. Tapi untuk akumulasi itu, tidak.
Jarwo : Lho tapi aturannya kan harus dibayar per bulan….
Saya : ….dengan ketentuan bahwa jika tidak dibayar pada saat jatuh tempo akan diberi surat peringatan dan tagihan. Saya tidak pernah terima selembar kertaspun.
Jarwo : Lho….
Saya : Salah sendiri tidak mau kirim surat peringatan. Salah sendiri tidak mampu mengawasi petugas pencatat. Nah, kesalahan PLN masa pelanggan yang harus nanggung? Kalau bapak yang jadi pelanggannya mungkin mau, tapi saya bukan orang goblok.
Jarwo : …….
Saya : Jadi, bapak bisa ambil keputusan tidak? Kalau tidak saya malas buang-buang waktu sama bapak. Bapak alihkan saja saya ke atasan bapak.
Jarwo : …..
Jarwo : Yah…… bapak datang lagi saja besok. Atasan saya tidak masuk hari ini.
Saya : Oke. Selamat siang.

Keesokan harinya, saya kembali. Ruangan atasan pak Jarwo ini tidak dilengkapi papan nama, jadi saya tidak tahu jabatannya apa. Kalau menebak-nebak, dia sebangsa ‘Kepala Kasir’. Namanya pak Alting. Setahu saya, Alting ini marga dari Ternate dan bukan nama depan. Tapi entahlah untuk kasus orang ini. Yang jelas itulah nama yang dipakai orang-orang disitu untuk memanggilnya.
Singkat kata, sayapun menjelaskan apa mau saya, seperti yang sudah saya jelaskan kepada pak Jarwo.

Alting : Jadi begini. Bapak tidak bisa sepenuhnya membebankan kesalahan pada pihak kami. Bapak harus sadar bahwa Bapak juga punya kesalahan. Dalam kontrak pelanggan jelas disebutkan, rekening harus dibayar paling lambat tanggal 20 setiap bulannya.
Saya : Untuk keterlambatan kan sudah ada mekanisme sanksinya. Surat peringatan, disusul surat peringatan pembongkaran. Kalau memang suratnya sampai ke saya, pasti saya turuti. Saya pernah kok kena pembongkaran, pasang ulang bayar 600 ribu. Ya saya lakoni, wong memang itu ketentuannya.
Masalahnya, apa dalam kontrak pelanggan ada disebutkan soal akumulasi tagihan gara-gara petugas PLN lalai mencatat angka meter?
Alting : …….
Saya : Apa ada disebutkan bahwa PLN berhak mengakumulasi berapapun jumlah bulan yang tidak tercatat pemakaiannya, dalam tagihan bulan manapun dalam satu tahun berjalan?
Alting : ……
Alting : Yaah, memang tidak ada. Tapi ini angkanya sesuai kok.
Saya : Hah? Angka KwH bulan Agustus itu sesuai dengan angka 400ribu itu?
Alting : Y-ya memang kalau bulanannya tidak sesuai, tapi kalau secara akumulatif sesuai.
Saya : Ooow? Lalu kenapa tidak kalian tagihkan beban saja selama 11 bulan penuh, lalu pas Desember tinggal akumulasi saja? Kan enak langsung terima berjuta-juta? Tidak perlu lagi gaji pegawai bulanan buat catat angka meter tiap bulan kan? Catatnya setahun sekali saja. Kenapa tidak dibuat begitu saja?
Alting : (mesem pahit) Err… itu…
Saya : Itu tidak sesuai peraturan. Ya kaaaan ???
Alting : (melonggarkan kerah baju) Lagipula yang mengalami ini bukan cuma bapak saja kok. Pelanggan lain banyak yang seperti ini tapi tidak ada yang protes.
Saya : Lho, masa saya harus niru orang goblok?
Alting : (mesem pahit) Ah, bapak juga kan tidak sepenuhnya benar. Nunggak juga kan?
Saya : Lha masalah nunggak kan saya sudah jelaskan posisi saya tadi?
Alting : Ya, tapi tetap harus ada kesadaran dong. Waktu cuma dikenakan beban, tagihannya kecil, bapak tidak komplain. Sekarang begitu tagihannya besar bapak komplain.
Saya : Jelas karena saya merasa dirugikan. Waktu tagihan kecil, itu kan PLN yang dirugikan. Kenapa PLN tidak komplain ke saya?
Alting : (terhenyak, mesem getir) Yah, di Jayapura ini kami punya 20.000 pelanggan. Mustahil kami awasi satu-persatu. Harusnya malah bapak bersyukur kami tidak komplain.

Inikah argumen pusaka orang PLN ?

Saya : Hoo, tunggu dulu. Kalian tidak klaim itu bukan karena “kemurahan hati”.
Itu keteledoran. Kelalaian. Ketidak-mampuan. Walau milik negara, PLN ini Perusahaan juga. Saya juga pernah punya usaha, saya tahu bahwa siapa yang teledor, lalai, dia harus terima rugi. Saya tidak pernah klaim pelanggan saya untuk kelalaian yang saya buat sendiri. PLN sebagai perusahaan harus sadar bahwa merugi itu konsekuensi, kalau memang tidak mampu mengawasi kinerja anak buah.
Alting : (mulai gerah) Jadi mau bapak bagaimana?
Saya : Mau saya tagihan Agustus itu tidak boleh dibebankan ke saya. Bebankan sama petugas yang lalai itu, atau sama siapa sajalah. Yang jelas saya hanya mau bayar tunggakan 3 bulan sisanya, plus denda.
Alting : Wah ya tidak bisa pak. Bapak musti pahami juga posisi kami di sini. Mekanisme seperti itu tidak ada.

Saya sendiri sudah tahu bahwa yang saya minta itu sulit dipenuhi. Namun atas nama strategi tawar-menawar, dari awal saya harus pukul tinggi dulu.

Saya : Begini saja. Saya tetap bayar akumulasi itu, tapi nyicil.
Alting : ….
Alting : Nyicil berapa kali?
Saya : Ya lihat saja datanya. Berapa kali angka meter tidak tercatat, sekian kali itu saya nyicilnya. Jadi kalau ada 10 bulan yang tidak tercatat, maka saya nyicil 10 kali dalam 10 bulan kedepan.
Alting : Wah setengah mati saya kalau bapak maunya begitu. Saya harus telusuri lagi datanya. Pekerjaan saya juga banyak pak.
Saya : Oke, kalau begitu tidak usah ditelusuri. Saya tentukan saja, saya mau cicil 1 tahun. 12 kali.
Alting : Lho kok malah lebih banyak lagi. Maaf saya tidak punya wewenang mengambil keputusan untuk itu. Bapak bicara saja sama supervisor saya. Kepala Rayon.

Lagi-lagi.

Saya : Oke. Kemana lagi saya?
Alting : Bapak ke kantor PLN Rayon, temui Kepala Rayon pak Boas Sineri.

Saya pun beranjak. Kantor yang dimaksud itu dekat saja, hanya sedikit masuk blok di seberang jalan. Setibanya disana, untung saja pak Sineri yang dimaksud ada di tempat.
Saya kembali menekan tombol rewind => play di lubang hidung saya. Melantunkan kembali babad aspirasi yang sudah saya sampaikan ke 2 orang sebelumnya.

B.Sineri : (Menghela nafas) Yang menjadi masalah ini menelusuri data-datanya. Andai bapak datang pada bulan Agustus, pada saat akumulasi terjadi, kita masih bisa telusuri. Masalahnya ini sudah 2 bulan lalu.
Saya : Jadi?
B.Sineri : Yah, yang jelas saya pun tidak punya wewenang untuk mengambil keputusan.

Lagi-lagi lagi.

B.Sineri : Bapak bisa menghadap Kepala Cabang saja langsung. Beliau yang bisa mengambil keputusan.

Dan, saya pun kembali ke Kantor Cabang – kantor yang saya datangi sebelumnya. Hanya kali ini destinasi adalah sang boss besar – yang bertanggung jawab untuk seluruh Jayapura.
Baru sampai di pos satpam, saya sudah diberitahu bahwa Kepala Cabang sedang keluar kota. Untungnya, ada Pjs. Namanya pak Simatupang, saya tidak diberi tahu nama depannya. Tak ingin tahu juga. Untuk selanjutnya saya sebut “pak Sim” saja.
Pak Sim ini ternyata tidak menempati ruangan Kepala Cabang. Ruangan beliau kecil saja, bahkan separuh dari ruangan pak Alting. Saya sudah lupa nama bagiannya apa.
Kepadanya pun saya mengulang lagi pidato kenegaraan saya.

Sim : Jadi…. pembayaran mencicil yang bapak minta ini tidak lazim. Apalagi kalau sampai 12 kali.
Saya : Lha, kalau begitu telusuri bulan mana saja yang tidak ada angkanya. Itu yang paling logis.
Sim : Itupun susah untuk kami lakukan. Karyawan kami sudah terlalu banyak beban kerjanya.
Saya : Berarti PLN tidak mampu handle, kan? Kalau tidak mampu ya harus rela merugi dong.
Sim : Saya minta bapak mau memahami posisi kami…
Saya : Sudah, begini saja. Kalau memang tidak bisa ditelusuri bulan mana saja yang tidak ada datanya, dibagi rata saja.
Bapak bisa lihat di printout itu rata-rata pemakaian saya 80ribu per bulan. Itu 400 dibagi saja dengan 80. Jadinya saya bayar 5 kali. Selama 5 bulan ke depan. Bagaimana?
Sim : (menghela nafas) Saya tetap tidak bisa menuruti kemauan bapak.
Saya : Lho, saya ini sudah berusaha ngasih jalan tengah, malah masih ditolak juga. Kalau begitu kembali saja ke tuntutan awal. Petugas lapangan yang harus tanggung jawab!
Sim : Itu jelas yang bersangkutan tidak akan bersedia.
Saya : Pecat saja dia. Masih banyak orang nganggur kok. Bukankah lebih baik kehilangan 10 pegawai yang tidak becus daripada kehilangan seorang pelanggan?
Sim : Oh di PLN ini tidak begitu pak. Justru lebih baik kehilangan sepuluh pelanggan daripada kehilangan satu karyawan.
Saya : O-h, y-a?

Gali kapak peperangan!!

Saya : Lupakan saja kalau begitu.
Saya gaet saja YLKI. Saya kumpulkan pelanggan-pelanggan lain yang bernasib sama. Di Angkasa (Angkasapura – Perumahan di anak gunung Cycloop yang letaknya di daerah puncak gunung) pasti banyak tuh, rumah-rumah yang malas didatangi petugas lantaran harus naik gunung.
Saya hasut saja mereka. Paling lama 2 minggu saya pasti bisa kumpulkan paling tidak 10 orang. Dengan YLKI, kami bikin saja class action. Selama ini PLN Jayapura belum pernah dapat somasi kan?
Sim : (tertegun dua jenak, sebelum akhirnya terkumpul cukup nyali buat gertak balik) Bapak pikir semudah itu bisa menang dari PLN?
Saya : Oh, saya tidak berniat menang. Apapun hasilnya, tuntutan pengadilan dari pelanggan bakal mendatangkan publisitas buruk bagi PLN. Apapun hasilnya, Manajemen harus menyingkirkan pucuk-pucuk pimpinan yang gagal mencegah masalah sepele seperti ini sampai ke pengadilan. Coba tebak siapa-siapa saja yang bakal disingkirkan nantinya?
Sim : (tertegun) …..

Saya bersandar di kursi. Melipat tangan. Memberi senyum paling memuakkan yang bisa saya simpulkan.
Agak lama pak Sim terdiam. Paling tidak ada 10 detik. Lalu mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu. Kertas itu lalu dijepitkan pada printout yang saya bawa, kemudian diselipkan ke dalam sebuah map hijau. Map itu diserahkannya pada saya.

Sim : Ini sudah saya buatkan disposisi. Bapak silahkan bawa ini ke AsMenSarKom di lantai satu.
Saya : (tersenyum lebar) Terima kasih pak.

Saya turun ke lantai satu, ke sebuah ruangan berlabel “Pemasaran dan Komunikasi”. Setelah tanya kanan-kiri sambil menunjukkan disposisi, saya diarahkan ke sebuah ruangan berlabel “Asisten Menejer Pemasaran dan Komunikasi”. Sayangnya, ibu-ibu sebangsa sekretaris yang bermeja persis di samping pintu masuk ruangan itu memberi tahu saya bahwa “pak Manajer sedang rapat”. Saya dipersilahkan menunggu. Saya memilih kembali esok saja.

Keesokan harinya, saya kembali. Tujuan wisata kali ini menemui pejabat PLN yang saya harapkan menjadi terminal terakhir dari perjuangan memerangi kebodohan kali ini. Asmen Sarkom.
Saat dipersilahkan masuk, beliau sedang duduk membelakangi saya, menekuni laptopnya, dimana terpampang sebuah dokumen MS Word. Rupanya beliau sedang membuat sebuah pemberitahuan bertuliskan “Anda merokok dan memasuki ruangan ini? Matikan rokok anda diluar!”
Ini yang disebut kebanyakan beban kerja? Saya rasa tidak.
Dari basa-basi beberapa belas detik dengan beliau, saya mengetahui bahwa namanya pak “Mangatas”. Atau sesuatu yang terdengar seperti itu. Selanjutnya saya sebut pak Asmen saja. Saya tidak pernah tertarik mengetahui persis nama-nama orang-orang ini, jadi saya tidak sok ingin akrab dengan menanyakan namanya berulang-ulang. Berlagak manggut-manggut saja, layaknya kura-kura makan tahu, pura-pura tahu. Yang jelas, dari logatnya saya tahu bahwa beliau satu suku dengan pak Sim yang kemarin.
Untungnya, dengan bapak satu ini saya tidak perlu mengulang lagi aspirasi yang makin lama makin basi ini. Rupanya sabda saya sudah disampaikan kemarin oleh pak Sim.

Asmen : Saya sudah mendapat disposisi dari pak Simatupang. Tapi saya harus sampaikan bahwa saya tidak bisa menuruti begitu saja.

Ah, rupanya kapak perang itu belum bisa dikubur dulu.

Saya : Jadi ?
Asmen : Saya bertanggung jawab terhadap pemasaran. Keuangan. Segalanya harus sesuai aturan. Saya tidak bisa memenuhi permintaan-permintaan yang tidak sesuai dengan peraturan.
Saya : Butir mana dari aturan perusahaan yang bapak sebut itu yang memperbolehkan akumulasi tagihan atas dasar tidak adanya laporan angka meter bulanan ?
Asmen : (sedikit tercekat) Ya, bapak juga salah karena tidak bayar tepat waktu. Kalau saja bapak bayar tepat waktu, pasti bapak bisa diberitahu.
Saya : Diberitahu? Yang jelas bukan diberitahu sebelumnya kan? Yang bapak maksud ini diberitahu pada saat saya tiba di loket kan?
Asmen : Ya, kalau paling tidak bulan Agustus itu bapak datang bayar, setidaknya bapak bisa tau lebih awal.
Saya : Itu bukan “lebih awal” namanya kalau saya baru diberitahu pada saat akan membayar.
Asmen : Yah, setidaknya lah.
Saya : Pak, kalaupun saya membayar tepat waktu setiap bulan, apakah itu bisa mencegah terjadinya akumulasi tagihan seperti ini?
Asmen : ….
Saya : Tidak bisa kan? Petugas yang malas tetap saja malas kan? Data yang tidak ada tetap saja tidak ada kan? Angka 400ribu di bulan Agustus itu akan tetap ada kan?
Kalaupun saya membayar tepat waktu, akumulasi itu tetap terjadi dan saya akan tetap menuntut hal serupa!
Asmen : …..
Saya : Andaikan saya membayar tepat waktu, alasan apa lagi yang bapak mau pakai untuk menolak tuntutan saya?
Asmen : (menggelutukkan giginya, tidak terima rupanya dikata-katai seperti ini oleh anak kemarin sore) Yang jelas bapak nunggak kan? Sebagai pelanggan saya minta jadilah pelanggan yang memberi teladan.

Argumen goblok murahan tai sapi apa pula ini?

Saya : Sebagai pemberi layanan jadilah pemberi layanan yang memberi teladan!!
Asmen : Maksud bapak apa?
Saya : Lha memangnya dibanding BUMN lain, PLN Jayapura ini sudah sebagus apa?
Asmen : (menggeletukkan giginya lagi)
Saya : Pernah dapat penghargaan dan pengakuan dari lembaga konsumen? Atau bahkan konsumen individu? Yang ada juga komplain dan makian kan?
Asmen : Bapak harus paham, pelanggan kami ini ribuan.
Saya : Jadi tidak mampu, begitu ? Tidak sanggup ? Ya relalah merugi !!
Asmen : Coba bapak sendiri, sebagai manusia apa selama ini semua pekerjaan bapak bisa bapak selesaikan ?
Saya : Ya. Bisa.
Asmen : (Membuang muka ke langit-langit, lalu ke kiri-kanan, tidak senang sekali rupanya) Okelah tidak usah bicara masalah kemampuan. Ini yang saya tekankan soal peraturan. Semua ada aturannya.
Saya : Lagi-lagi aturan. Bagaimana dengan anak buah bapak yang bisa berkali-kali tidak melaporkan angka meter di rumah saya? Itu sesuai dengan peraturan tidak?
Asmen : (menelan ludah) Masalah itu harus saya pastikan dulu, apakah benar keadaannya seperti itu.
Saya : Lho lho lho lho lho lho!!! Bapak ini sudah orang keempat yang saya temui. Tiga orang sebelum bapak sudah memastikan bahwa itu kesalahan petugas. Sekarang kok bapak bilang “belum pasti”? Lagipula sejak awal tadi bapak tidak menunjukkan tanda-tanda kalau itu “belum pasti” ?
Asmen : Yaaa, asumsi awalnya memang begitu. Tapi untuk jelasnya kan perlu klarifikasi langsung pada yang bertanggung jawab.
Saya : Lhah, lalu kenapa tidak dari tadi-tadi? Malah bapak ngajak saya debat kusir!
Asmen : Ya, ya, tunggulah sebentar. Saya telepon anak buah saya dulu.

Beliau kemudian berbicara di telepon dengan seseorang.

Asmen : Halo? Pak Alting?

Ooooh. Dia to.

Asmen : Segera kemari. Ada komplain dari pelanggan, saya perlu konfirmasi saudara.
Asmen : (berteriak keluar) Tolong panggilkan pak Baringin kemari !

Wah, ada berapa lagi orang Batak di kantor ini ?

Asmen : Ehem. Oke pak kita tunggu mereka berdua datang dulu. Jadi bapak mau nyicil berapa kali ?
Saya : Sebelumnya 12 kali. Tapi sudah saya turunkan jadi 5 kali.
Asmen : Kita tunggu konfirmasi dari pak Alting dan pak Baringin dulu ya, baru saya bisa ambil keputusan.

Tidak sampai tiga menit kemudian pak Alting dan seorang lagi, rupanya ini yang bernama pak Baringin, melangkah masuk.

Asmen : Pak Alting, coba sodara lihat printout rekening bapak ini. (Melemparkan map). Dari mana asalnya angka di bulan Agustus itu?
Alting : (berlagak membaca-baca) Err… ya, ini akumulasi pak.
Asmen : Akumulasi akibat petugas tidak dapat angka meter ?
Alting : Y-ya. Saya juga sudah sering bilang ke pak Baringin…
Asmen : (memotong, beralih ke pak Baringin) Pak Baringin, sodara yang bertanggung jawab di lapangan. Apa penjelasan sodara ?
Baringin : Err…ya. Ehem… saya juga sudah sering tegur anak buah soal masalah-masalah seperti ini.
(menoleh ke saya) Rumah bapak mungkin pagarnya tinggi ? Atau meternya di dalam rumah ?
Saya : (menoleh dengan malas) Bapak serius akan menerima kata-kata saya mentah-mentah? Apa prosedur mengijinkan bapak percaya begitu saja dengan omongan saya ? Kenapa bapak tidak cek sendiri di lapangan, memastikan kebenaran alasan-alasan anak buah bapak itu ?
Baringin : (tercekat) ….
Asmen : Begini, pak Fritz. Saya bisa perbolehkan anda mencicil, tapi saya perlu informasikan bahwa kami punya deadline. Cicilannya nanti tidak bisa per bulan.
Saya : (mengernyit) …
Asmen : Bapak tentunya tau kalau bulan Desember kami harus menyusun laporan tahunan kan?

Ah, sialan.

Asmen : Jadi mau tidak mau, bapak punya waktu sampai 31 Desember untuk melunasi. Terserah mau dicicil berapa kali.
Sayang sekali, andai bapak komplain pas bulan Agustus, tentunya masih ada tambahan waktu 2 bulan….
Saya : (mengangkat bahu) Yah, apa boleh buat lah.
Alting : Tapi kalau saya harus menunggu sampai tanggal itu, kapan saya bisa input ke laporan saya, pak?
Asmen : (tertegun) Ah, iya…..

Asmen lalu terlihat tepekur sendiri. 5 Detik kemudian beliau akhirnya mengambil keputusan.

Asmen : Oke. Begini saja. Agar tidak menghambat penyusunan laporan tahunan, tagihan Agustus itu biar saya yang nombok dulu.
(menoleh pada saya) Lalu pak Fritz bisa mencicil pada pak Alting. (menoleh ke pak Alting) Terus you kasih ke saya.

Saya langsung tersenyum lebar. Dua orang lainnya ikut-ikutan hendak menghela nafas lega…. Tapi tidak kesampaian.

Asmen : TA-PI, Kalau lain kali sampai ada komplain seperti ini lagi, sodara yang saya suruh nombok! (menunjuk ke pak Alting)
Alting : (manggut-manggut tidak ikhlas) Y-ya, pak.
Asmen : Oke, pak Fritz ? Puwas ?
Saya : Yeah. Bisa saya terima.
Asmen : (tertawa) Nah, beres kan. Mana minuman kita ini? (celingukan ke luar)

Dan begitulah. Pertarungan ini berakhir dengan rekonsiliasi. Bargaining.
Dalam hal penyelamatan uang, saya tidak sepenuhnya menang, sebaliknya PLN pun tidak sepenuhnya berjaya.
Tapi dalam hal penyelamatan harga diri, penolakan terhadap pembodohan, penegakan hak konsumen, kesempatan gagah-gagahan di depan pejabat, dan peng-update-an blog, saya merasa cukup digjaya. πŸ˜†

Advertisements

41 Responses to “Saya vs PLN”


  1. 1 restlessangel December 13, 2008 at 7:17 pm

    *ngelap kringet*

    hufff…panjangnya nyaris ngalahin sh mintardja ‘nagasasra sabuk inten’ :mrgreen:

    hhhhmmmm….kl ada benchmarking PLN dg perusahaan2 BUMN macam Mandiri, piyeeeee kuwi, tokoh2 dalam novelmu ini ??

    oalah….ini nih, sindroma anak orang kaya. mentang2 satu2nya perusahaan jasa, merasa konsumen yg butuh. coba kl udah mulai ada saingan usaha, seperti pertamina, nyaho tuh.

    *salaman*

    btw, semua pembicaraan tsb direkam ya ??
    anda pasti jago debat dan ngeyelan :mrgreen:

  2. 2 ManusiaSuper December 14, 2008 at 12:52 am

    Anjrit!! Sayang papua jauh, ongkos kirim novel ke sana berkali lipat dari harga novel itu sendiri.. :mrgreen:

    Padahal ini sudah saya tetapkan sebagai salah satu calon posting ‘terburuk’ tentang PLN…

    Sayangnya bro, tidak semua orang punya waktu luang seperti ente, yang bisa berkali-kali berwisata ke kantor-kantor PLN itu. Pada akhirnya, sebagian besar pelanggan akan memilih mengalah karena itu lebih cepat. Masih ada banyak urusan lebih penting dari pada sekedar perusahaan negara yang tidak becus.. Lagi pula, apa yang benar di negara ini?

  3. 3 Amed December 14, 2008 at 2:15 am

    Dahsyat!!! Dari postingan ini bisa saya lihat kalau Mas Fritz ini orangnya ngeyel 😈

  4. 4 grace December 14, 2008 at 3:03 am

    panjangnya post iini…
    *bacabaca*

    Sayangnya bro, tidak semua orang punya waktu luang seperti ente, yang bisa berkali-kali berwisata ke kantor-kantor PLN itu. Pada akhirnya, sebagian besar pelanggan akan memilih mengalah karena itu lebih cepat. Masih ada banyak urusan lebih penting dari pada sekedar perusahaan negara yang tidak becus..

    iya, saya rasa yang cukup ngeyel seperti dirimu ini jumlahnya sedikit, mas fritzter…
    but anw, saya cukup takjub deh dengan kesabaran mas fritz yang rela meluangkan waktunya begitu sampai ganti2 orang pun tetep jalan terus walau pake nggrundel dlm hati…. πŸ˜›

  5. 5 lambrtz December 14, 2008 at 3:45 am

    saya merasa cukup digjaya πŸ˜†

    Megalomaniak! 😈 πŸ˜†

    *tepuk tangan*
    *nyembah-nyembah*

    …digjaya? πŸ˜•

  6. 6 Catshade December 14, 2008 at 5:44 am

    Kereee~n!! 😯

    Atau mungkin para petinggi2 PLN itu hanya merasa terintimidasi saja oleh gaya okama-nya mas/mbak Fritz πŸ™„

    *kabur*

    Tapi bener deh, niat dan usahanya patut diacungi jempol. Saya sendiri rasanya lebih baik bayar kelebihan 200 ribuan itu ketimbang menghabiskan waktu seharian penuh berargumen dengan orang-orang semacam itu… πŸ˜•

  7. 7 sunsettowner December 14, 2008 at 6:08 am

    keep it up mate

  8. 8 Pakacil December 14, 2008 at 7:01 am

    mantap Om…
    rupanya hampir sama dimerata tempat kejadian macam ini.
    😦

    Kasus yg sama pernah saya lakoni dengan PDAM. Untuk meredam, mereka malah menawarkan sebuah project untuk saya yg akhirnya saya tolak dengan tegas.

    Kalau soal listrik, sama saja masib saya dengan Mansup dan Amed, yg juga satu daerah itu..
    😦

  9. 9 Rian Xavier December 14, 2008 at 7:17 am

    Setelah baca postingannya, terus terang ga kuat buat ga ketawa. :mrgreen:

    hebat mas fritz. Jago bener nawarnya. Hehehe.

  10. 10 Fritzter December 14, 2008 at 7:24 am

    @restlessangel

    ..sh mintardja β€˜nagasasra sabuk inten’

    Benda apa itu πŸ™„ ? Kedengarannya menarik. Minta link dong. :mrgreen:

    ..tokoh2 dalam novelmu ini ??

    Ini kisah nyata lho. πŸ™„

    btw, semua pembicaraan tsb direkam ya ??

    Ah, ndak. Hanya saja saya punya photographic phonologic memory yang cukup bagus. πŸ˜†

    anda pasti jago debat dan ngeyelan

    Halah, debat mah gak. Saya masih penyuka ad hominem dan fallacy πŸ˜†
    Kalo ngeyel ya ho’oh πŸ˜†

    @Mansup
    Ouwghhh!! Jadi saya boleh ikutan sayembara? 😯

    Sayang papua jauh, ongkos kirim novel ke sana berkali lipat dari harga novel itu sendiri..

    Ah, gak dapat novelnya juga gak apa2
    Tapi kalo ongkos kirim ke Papua, tanyain Jensen tuh. Babenya punya jasa kargo, kali aja bisa diskon 90% πŸ˜†

    Sayangnya bro, tidak semua orang punya waktu luang seperti ente, yang bisa berkali-kali berwisata ke kantor-kantor PLN itu.

    Betul juga. Ini berhubung lagi gak terikat kontrak kerja tetap, jadi bisa lebih bebas :mrgreen:
    Kalo dulu sih saya gak yakin bakal punya waktu sebanyak itu πŸ˜†

    @Amed
    Terima kasih pujiannya :mrgreen:

    @grace

    kesabaran mas fritz yang rela meluangkan waktunya begitu sampai ganti2 orang pun tetep jalan terus walau pake nggrundel dlm hati…. πŸ˜›

    Ah, ya… saya memang sabar
    Yah, ini demi pertahankan nama baik SMU Namishiro 😈

    @lambrtz
    πŸ˜†

    …digjaya? πŸ˜•

    Euh? Berlebihan ya? Gpp lah πŸ˜†

    @Catshade
    Terima kasih πŸ˜€

    Atau mungkin para petinggi2 PLN itu hanya merasa terintimidasi saja oleh gaya okama-nya mas/mbak Fritz πŸ™„

    Siyaaaaaaaaalll πŸ‘Ώ

    …rasanya lebih baik bayar kelebihan 200 ribuan itu

    Waktu itu saya memandang mereka sebagai preman2 kerempeng, dan saya merasa sedang dipalak 😈

    ketimbang menghabiskan waktu seharian penuh berargumen dengan orang-orang semacam itu… πŸ˜•

    Itu tiga hari lho :mrgreen:

    @sunsettowner
    I’m still up dude. :mrgreen:
    Btw, have you read [this one]? I put you as a cameo. πŸ˜†

    @Pakacil

    …PDAM. Untuk meredam, mereka malah menawarkan sebuah project untuk saya yg akhirnya saya tolak dengan tegas.

    Yeah!!! Ganyang terus bro!! 😈

    @Rian Xavier
    :mrgreen: Terima kasih :mrgreen:

  11. 11 Goen December 14, 2008 at 12:31 pm

    Yak, kapan minum-minumnyaaaa…? πŸ‘Ώ

  12. 12 Fritzter December 14, 2008 at 2:48 pm

    @Goen
    Lhahhh opo iqi maksute?? 😯

  13. 13 dnial December 15, 2008 at 12:11 am

    *Kagum*
    *Terpana*

    Eniwei…
    Pernah mbaca di suatu blognya orang Indonesia tentang aturan perlistrikan di negara lain.

    Bahwasannya (halah bahasane), di Finlandia kalo nggak salah, tagihan listrik dihitung flat perbulan. Dan baru dihitung di akhir tahun, jika total biaya yang dibayar > dari total biaya bulanan ya sisanya dikembalikan, kalau lebih besar ditagih selisihnya. Dengan aturan tertulis, sistem ini sepertinya lebih fair daripada yang dipakai sekarang.

    Lagian, hal ini cukup mengharuskan orang PLN datang ke tempat sekali dalam setahun.

    Saya : Oh, saya tidak berniat menang. Apapun hasilnya, tuntutan pengadilan dari pelanggan bakal mendatangkan publisitas buruk bagi PLN. Apapun hasilnya, Manajemen harus menyingkirkan pucuk-pucuk pimpinan yang gagal mencegah masalah sepele seperti ini sampai ke pengadilan. Coba tebak siapa-siapa saja yang bakal disingkirkan nantinya?

    Ancamannya mantap!!!

    *menghapal rapalan sakti ini*

  14. 14 itikkecil December 15, 2008 at 4:37 am

    keren…….
    kalau semua pelanggan sengotot dirimu… orang-orang PLN bakalan mikir-mikir untuk kerja ngasal….

  15. 15 Snowie December 15, 2008 at 5:39 am

    yo wes, saiki masalah mu wes beres toh….
    :mrgreen:

  16. 16 Rukia December 15, 2008 at 6:09 am

    hahaha… πŸ˜† πŸ˜† πŸ˜†

    kalo semua pelanggan kayak gini, PLN bakal kliyengan πŸ˜†

  17. 17 gentole December 15, 2008 at 7:09 am

    Mantap lah kisanak. Ini naskah drama yang bagus sekali. Karakternya kuat semuanya. πŸ˜€ Btw, lima tahun lalu gigi serinya siapa yang Anda buat tertelan pemiliknya? :mrgreen:

  18. 18 Fritzter December 15, 2008 at 8:26 am

    @dnial
    Hmm… Finlandia ya. Sistem yang bagus sekali. Memang yang saya dengar Finlandia dan Norwegia beberapa kali terpilih sebagai negara-negara terkaya di Eropa. πŸ˜€

    *menghapal rapalan sakti ini*

    πŸ˜† πŸ˜€ πŸ˜† πŸ˜€ πŸ˜†

    @itikkecil
    Mudah-mudahan begitu πŸ˜€

    @Snowie
    Beres res res res.
    Tapi kemaren ada masalah baru : Saya baru sadar kalo pajak motor saya nunggak 1 tahun. πŸ˜†
    Kayaknya yang ini gak bisa ditawar-tawar lagi πŸ˜₯

    @Rukia
    Hidup ngeyel dan gertak sambel !! πŸ˜† 😈

    @gentole
    Hayah, kisanak ini orang kedua yang gak yakin ini kisah nyata. πŸ˜†
    Lima tahun lalu itu… πŸ™„ Ah, cuma preman mabuk yang terpaksa dinetralisir. πŸ˜†

  19. 19 gentole December 15, 2008 at 10:04 am

    Tapi kemaren ada masalah baru : Saya baru sadar kalo pajak motor saya nunggak 1 tahun.

    Saya sudah tiga menjelang empat tahun nunggak bayar pajak motor. Bukan karena nggak mau bayar, tapi karena malas. Kayaknya susah banget! Tapi tetap saya akan menunaikan kewajiban saya. Nanti. Nanti. Saya ini sebenarnya prokrastinator akut 😦

  20. 20 Ardianto December 15, 2008 at 10:09 am

    Woh, keren-keren…
    Untung masih belum main terbangkan orang πŸ˜†

  21. 21 Fritzter December 15, 2008 at 12:12 pm

    @gentole
    Hah? 4 tahuuuuuuun ??? 😯
    Hei, saya ini tiba2 peduli soal pajak itu malah gara2 dikasih tau bahwa ada β€œaturan baru” mengenai DENDA HARIAN !!!!!
    Entah berapa persen dendanya, tapi kalo diitung2 1% pun sudah mengerikan πŸ˜₯

    saya juga prokrastinator akut

    @Ardianto
    πŸ˜†
    Begitulah.

  22. 22 :3 December 16, 2008 at 6:20 am

    darn, typo.

    * * *

    ah lo telat bayar aja sok-sok’an komplen. sama-sama nggak bener kok sibuk cari pembenaran sendiri.

    bulan ini udah bayar tepat waktu belum ?

    kalo belum ya jangan nuntut orang PLN kerjanya bener dong. mana mau pimpinan PLN tiap hari nombokin biaya operasional mulu.

    *moral nazi, temennya grammar nazi*

    *lari jauh sebelum dibacok*

    *sembunyiin link url biar nggak dicari*

    * * *

    terbetulkan.

  23. 23 eMina December 16, 2008 at 12:14 pm

    kadang memang para pegawai PLN itu ga profesional.
    Saya pernah ada kesalahpahaman dengan sebuah instansi PLN, karena saya bayar dobel tapi tidak terkoreksi oleh petugasnya krn katanya blm online. Saya koreksi sendiri dan berusaha menjelaskan. Dan, setelah mereka mengecek data -data, mereka bisa menerimanya kok. Uang saya pun kembali lagi XD

    ini bisa menjadi koreksi utk pln, semoga ada yang membaca blog ini. iya kan?

  24. 24 kramero December 17, 2008 at 6:34 am

    Gigih juga perjuangan Pak Fritz ini…
    Hehehehe…

  25. 25 nie December 17, 2008 at 8:18 am

    mata gue kunang-kunang saking lamanya natap monitor kompi tanpa kedip. hahahaha. cool. gitu, emang seharusnya sekali-kali dikasi pelajaran. dasar PLN bobrok. kasi pelayanan separo-separo. ga punya cukup ekampuan tapi lagaknya selangit. hehehe. kena deh dia kali ini :p

  26. 26 agiekpujo December 17, 2008 at 9:25 am

    *mengurungkan diri untuk melamar kerja di PLN*

    *takut ketemu pelanggan macam ini* πŸ˜€

  27. 27 Snowie December 17, 2008 at 10:31 am

    Oh, ya ampyun. jagan suka nunggak dong. gak baek πŸ˜›

    mas gentole juga.

    Bertobatlah wahai anda-anda penderita prokrastinasi akut. u_u πŸ˜†

  28. 28 Fritzter December 17, 2008 at 2:55 pm

    @:3
    Eit, argumen itu sudah kepake salah satu bapak2 yth. dalam narasi diatas. 😎
    Dan sudah kutangkis juga πŸ˜†

    pimpinan PLN tiap hari nombokin biaya operasional mulu.

    Walah gak ada cerita tuh orang PLN nombok. Ada juga korupsi. Paling tidak di Jayapura, salah satu bentuk korupsi ini dengan cara sengaja pesan generator second (padahal dalam proyek disebut “baru” dengan harga “baru” pula) supaya bisa panen dana pemeliharaan kalo generator second itu rusak lagi, lagi dan lagi.
    Pas sudah rusak beyond-repair, beli lagi (second lagi) 😎 .

    @eMina
    Betul, betul. 😎

    @kramero | nie
    Terima kasih :mrgreen:

    @agiekpujo
    πŸ˜† πŸ˜€ πŸ˜†

    @Snowie
    Ah sulit sekalih ituh :mrgreen:

  29. 29 aNGga Labyrinth™ December 19, 2008 at 12:58 am

    Waks,,, komen nya udah banyak banget nie,, masih kebaca ngak ya?

    Cerita yang aneh,,
    Pas bacanya bingung harus berekspresi kayak gimana
    Yang jelas diriku sie ketawa

    POstigan disini selalu keren ya

  30. 30 hawe69 December 19, 2008 at 8:08 am

    posting yang hebat!
    gw pro dengan orang yang kuat mempertahankan prinsip, biar mereka bilang ngeyel, keras kepala, cuekin aja.. hantam terus..
    well..you got to fight what you believe ! A man got to do what a man got to do, rite ? πŸ™‚

  31. 31 Fritzter December 20, 2008 at 12:20 pm

    @aNGga Labyrinthβ„’ | hawe69
    Makasih, makasih :mrgreen:

    *tossss*

  32. 32 mbelGedezβ„’ December 23, 2008 at 1:11 am

    Sorry, langsung lompat ndak mbaca komen yang udah ada.

    Apa yang Fritz alami, udah pernah menimpa sayah ( juga hampir semua warga Jakarta ) di taon 2003. Waktu ituh PLN memang sedang giat-giatnya nagih selisih meter.

    Masalah timbul karena pas sayah ditagih 600 rebu, pas sayah mau ninggalin kontrakan.

    Tentunya sayah nego, dan memang PLN langsung memberi keleluasaan tanpa harus bersitegang kayak situh. Soale dalem sehari saja ratusan orang yang komplen….. 😯

    Sayah bilang sayah cuman mau mbayar bulan berjalan, soal selisih tagihan, sayah bayar bulan depan…. πŸ˜‰

    Dua bulan kemudian pemilik kontrakan nelpon sayah soal tagihan 600 rebu inih. Sayahpun datang ke pemilik rumah kontrakan dan nunjukin kwitansi pembayaran yang selama 2 taon sayah file secara khusus, bahwa selama sayah ngontrak sayah rajin mbayar listrik…

    Pemilik kontrakan bingung dah…. πŸ˜†

  33. 33 Fritzter December 23, 2008 at 6:15 am

    @mbah mBel
    Hwah..
    Hwahahahahahh πŸ˜†
    Trus giliran pemilik kontrakan yang ndamprat PLN, dengan bekal kwitansi lengkap.
    Gantian PLN yang bingung ya wahahahahah πŸ˜†
    Soale perjanjian dengan njenengan kan gak tertulis, jadi gak bisa dijadikan pedoman PLN yah πŸ˜†

    Ah, inspirasi!! 😯
    Kalo gitu saya juga gak perlu ganti duit yang sudah ditombokin pak AsMen itu. Kan gak tertulis 😈

  34. 34 Adriansyah January 5, 2009 at 5:31 am

    Satu2nya argumen orang2 PLN itu cuma kebetulan sodara Fritz telat bayar ya?

    Coba kalau kasusnya kayak sodara mbelGedez itu: bayar tepat waktu selalu, tapi pas bulan kesekian tiba2 melonjak. Huh. Kalau udah gitu harusnya lebih gampang ndampratnya. ;p

    Salam kenal.

  35. 35 Fritzter January 5, 2009 at 6:35 am

    ^
    Salam kenal juga. :mrgreen:

  36. 36 Lemon S. Sile January 6, 2009 at 4:22 am

    Sebuah babad yang apik!

    Kalau dibuat film bisa seru ini.
    Debatnya menarik lho! :mrgreen:

  37. 37 Fritzter January 6, 2009 at 11:54 am

    Terima kasih :mrgreen:
    Membuat film adalah salah satu cita-cita jangka panjang saya.
    Mudah2an bisa tercapai sebelum 10 tahun kedepan πŸ˜†

  38. 38 she cute April 30, 2009 at 6:56 am

    Baguuusss…PLN emang perlu digituin…salah satu BUMN yang bener2 ga profesional dan memuakan…padahal dia juga bayar sama outsourcenya juga tukang nunggak ko..sampai bertahun tahun kaga dibayar eeehh malah ke pelanggan suruh ontime….ngacoooo….

    udah gt kadang klo OPAL pada ditambahin angkanya….misal pelanggan harusnya kena denda 600 rb…ditagihkan ke pelanggannya 1 jt…. yang 400 rb yaaa dipake buat beli kwh sama mereka….dsar para koruptor….nipu orang kecil…gajinya makan gaji ga halal tuh…..

  39. 39 dwi October 11, 2009 at 12:37 pm

    membayangkan kalo itu kejadian sama wi. paling wi langsung bayar aja dan memaklumi akumulasi t\itu hehehe. manusia biasa emang beda ama manusia super ya πŸ˜€
    eniwei, salam kenal. wi baru beraksi kembali di WP ^^

  40. 40 dwi October 12, 2009 at 4:02 am

    Oopss, kayaknya saya salah blog hahaha, piss πŸ˜€

  41. 41 Mbah Modhin October 29, 2009 at 8:04 am

    CK..CK..GAK KEBAYANG KLO KANTOR GUE DPT PELANGGAN KAYAK ENTE…UNTUNG 7 TURUNAN…HEH..HEH


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




WANTED


Fritzter D. Loki

DEAD OR ALIVE

β 666,000,000

Currently Peeking

Categories

December 2008
M T W T F S S
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031