Snapshot of the Day

zOOOM IN :

img_1706

ZOOOM OUT :

img_1708

Keterangan :
Pihak yang memasang papan nama, adalah juga pihak yang sama yang mengijinkan pembangunan rumah tersebut.
Advertisements

21 Responses to “Snapshot of the Day”


  1. 1 och4mil4n December 8, 2008 at 9:21 am

    Lah berarti kan suka2 dia dong. yang punya tanah adat dia kok. Atau? *mohon pencerahannya guru*

  2. 2 jensen99 December 8, 2008 at 9:30 am

    yang duluan mana? Pasang papan ka bangun rumah? πŸ˜€

  3. 3 och4mil4n December 8, 2008 at 9:43 am

    Itu mau saya tanyakan pula, duluan mana yg dipasang/dibangun, rumahnya atau papannya.

    Kalau papannya duluan yah berarti gak masalah to, yang punya dah kasih ijin.
    Kalo rumahnya duluan yah, salah dong yg bangun rumahnya.

    Yang punya tanah tuh yang bangun rumah atau cuman kasih ijin doang untuk orang lain?

    Kalau dia sendiri (tuan tanah) yg bangun rumah diatas tanahnya sebelum pasang papan ya lucu aja.

  4. 4 Fritzter December 8, 2008 at 10:50 am

    Papan yang duluan.
    Tapi itu bukan rumah ybs.
    Papan itu dijadikan dasar waktu hendak menggusur penghuni lama. Setelah bangunan kosong, langsung dirobohkan lalu tanahnya DIJUAL.
    Bangunan baru ini didirikan oleh PEMBELI.
    Yang saya tau, yang dimaksud dengan TANAH ADAT adalah “Tanah milik Tuhan yang dititipkan pada Orang Papua, dan tidak boleh diperjual-belikan.”
    Tapi ternyata kenyataannya seperti yang tertangkap di foto itu.

    Jadi harus ditambah aturannya : “KECUALI KALAU TANAH ADAT ITU SUDAH DIBELI DARI TUHAN ORANG PILIHAN TUHAN YANG MENJAGANYA” πŸ˜†

  5. 5 Catshade December 8, 2008 at 11:03 am

    Kalo itu tanah adat…kenapa pemiliknya cuma dua orang? Dua orang itu siapa sih sebenarnya sampai punya kuasa jual-beli tanah adat? πŸ˜•

  6. 6 Fritzter December 8, 2008 at 11:22 am

    @Catshade
    Ah, akhirnya ada yang bisa melihat letak kebodohan yang saya ingin sampaikan :mrgreen: .
    Tadinya saya pikir, “Lha emang masih kurang jelas keanehannya?”

    Begitulah kisanak™, bagaimana orang meraup uang milyaran dengan mengatas-namakan adat.

    Di Papua, khususnya di Jayapura, sudah terlalu banyak kasus Tetua-tetua adat yang mengeluhkan anak-anak mereka sendiri yang pada berebut menjual bidang-bidang tanah yang “dititipkan Tuhan” pada orang tuanya.

  7. 7 lambrtz December 8, 2008 at 11:45 am

    Jadi mereka ini ngakali pemilik sebelumnya, begitu?

  8. 8 grace December 8, 2008 at 1:50 pm

    Rebutan tanah milik TUHAN?
    hebat amat!
    πŸ˜†
    btw, tanah adat memang ga boleh di bangun gitu ya?
    trus di apain? di diemin gitu aja?
    trus, apa itu emang beneran tanah ‘adat’ ato cuman di bilang2 aja tanah ‘adat’?

  9. 9 Fritzter December 8, 2008 at 2:40 pm

    @lambrtz
    Kurang lebih.
    Ada skema jual-beli yang agak rumit disana. Bisa juga dibahas, tapi hanya bakal semakin merendahkan kredibilitas 2 orang yang namanya tertulis di papan itu.
    Yang ingin saya angkat ini isu kemunafikan masyarakat adat.
    Melarang dengan dalih adat (yang berdasar pada asas semi-divine cosmic balance), tapi gak nolak duit. πŸ™„

    @grace

    …trus di apain? di diemin gitu aja?

    Ya. Tanah adat tidak boleh dibangun, digali, dibor, dieksplorasi. Harus dibiarkan seperti apa adanya. Tapi tentu bisa DIBELI. Doohh!!

    trus, apa itu emang beneran tanah β€˜adat’ ato cuman di bilang2 aja tanah β€˜adat’?

    Secara de facto, definisi tanah adat sendiri sangat lemah legitimasinya.
    Pokoknya kalo tanah itu ditinggali atau diklaim sebagai milik seseorang atau suatu keluarga yang marganya mempunyai posisi dalam hirarki masyarakat adat, maka tanah adatlah itu.

    Secara de jure, dasar tertulis yang dipakai untuk mengklaim batas-batas tanah adat adalah “peta pembagian wilayah adat berdasarkan marga” (sulit dicari referensinya; selain dengan cara nyolong dari ketiak kepala suku lalu di-scan :mrgreen: ) yang disusun oleh Belanda, lalu dibagi-bagikan kepada perwakilan suku-suku besar di sekujur Papua. Kalau mentah-mentah berdasarkan peta ini, maka SELURUH pulau Papua bagian barat adalah tanah adat.
    Jadi sekali lagi secara de jure, Belanda-lah (bukan TUHAN) yang “memberi” tanah adat tersebut pada mereka. :mrgreen:

  10. 10 hawe69 December 9, 2008 at 5:23 am

    Negara kalian lah itu.. negara yang aneh …
    hahahaha…

  11. 11 och4mil4n December 9, 2008 at 5:47 am

    Lah kalau memang dia tuan tanah, berarti suka2 dia lah mau jual itu tanah sama siapa. Meskipun secara adat, kadang tidak diperbolehkan menjual tanah adat tanpa seijin keluarga (turunan) pewaris tanah adat lainnya bukan.
    Sama halnya di Sorong. Tuan tanah yah pasti orang Mooi. Tanah adat terserah mereka mau diapakan, lah haknya mereka kok πŸ˜›

    Seperti yang saya dengar dari tante saya di Serui. Katanya kenapa Serui tidak terlalu maju dibanding yang lain (Sorong misalnya) karena hal itu. Tanah disana sangat susah untuk “ditebus”. Jadi kalau hanya didiamkan begitu saja, justru pembangunan jadi susah lah. Makanya yang punya tanah adat juga mesti jual lah itu tanahnya.

    Dan saya rasa, kalau Belanda saat itu tidak menerapkan sistem bagi tanah. Mungkin perang suku akan terus2an terjadi disana karena perebutan tanah.

    Ohya, tahun lalu saya pernah ke FLores. Dan disana juga sama. Ada demo masyarakat menutup kantor pemerintahan hanya karena urusan pembayaran tanah adat belum terselesaikan πŸ˜† *dimana2 sama*

  12. 12 Fritzter December 9, 2008 at 8:18 am

    hawe69
    Negara saya NKRI.
    Selama ini saya selalu menggunakan kata “mereka” untuk orang Papua kan? Saya tidak pernah pake kata “kami” kan?

    ocha

    Lah kalau memang dia tuan tanah, berarti suka2 dia lah mau jual itu tanah sama siapa. Meskipun secara adat, kadang tidak diperbolehkan menjual tanah adat tanpa seijin keluarga (turunan) pewaris tanah adat lainnya bukan.

    Bukan cuma “kadang”, tapi memang tanah adat itu tidak boleh dijual.
    Posisi “tuan tanah” itu bukan jabatan pribadi. Pengertian tuan tanah Papua tidak sama dengan pengertian tuan tanah di belahan dunia lain.
    Tuan tanah tidak punya hak milik pribadi atas tanah, dia cuma ditugasi oleh roh leluhur (setelah Kristenisasi dan Islamisasi, ‘roh leluhur’ ini ganti nama jadi ‘Tuhan’) untuk menjaga tanah itu dari eksploitasi pihak luar (ini definisi masyarakat adat sendiri – jangan tanya referensinya : hukum adat itu tidak tertulis).

    Tanah adat terserah mereka mau diapakan, lah haknya mereka kok πŸ˜›

    Itu pengertian universal tentang hak milik. Lah pengertian masyarakat adat Papua menegaskan bahwa tanah tidak boleh diperjual-belikan. Kalau selama ini banyak yang dijual, itu adalah bentuk kemunafikan dan pengkhianatan terhadap hukum adat mereka sendiri.

    …kalau Belanda saat itu tidak menerapkan sistem bagi tanah. Mungkin perang suku akan terus2an terjadi disana karena perebutan tanah.

    Segala aturan Belanda (kecuali KUHP) sudah di-overwrite seiring dengan pergantian kekuasaan mereka oleh NKRI. Konsekuensi integrasi Papua Barat pada 1963 adalah gugurnya segala hak dan pengakuan yang diberikan oleh Belanda pada orang Papua. Termasuk kepemilikan tanah, yang harus melalui prosedur hukum NKRI (pergi ke agraria/BPN, urus sertifikat, dst).
    Munculnya kembali tuntutan pada pengakuan hak adat (yang tidak tertulis) adalah buah reformasi dan UU Otonomi Khusus.
    Sekarang hak adat sudah mulai diakui. Hak-hak adat itu mendasarkan pada prinsip-prinsip keseimbangan kosmis dan amanat leluhur yang melarang penjualan tanah dan eksploitasi tanah oleh orang asing (termasuk NKRI).

    Nah masalahnya, yang sedang saya angkat ini, adalah bagaimana aturan adat itu jadi kuat dan kokoh sekali manakala berhadapan dengan pihak pemerintah NKRI, tapi kemudian jadi gampang sekali dilanggar manakala berhadapan dengan uang.

    …ke FLores. Dan disana juga sama. Ada demo masyarakat menutup kantor pemerintahan hanya karena urusan pembayaran tanah adat belum terselesaikan πŸ˜† *dimana2 sama*

    Saya berpendapat bahwa mereka latah. Harus diingat bahwa pemalangan dan klaim tanah adat di daerah-daerah lain di Indonesia itu baru marak setelah Otsus dicanangkan di Papua, setelah cerita sukses masyarakat adat Papua itu menyebar. Jadi biangnya ya di Papua ini.
    Jadi kalau harus dikritisi, ya orang Papua yang paling layak dikritik. Yang lainnya cuma meniru.

  13. 13 Ardianto December 9, 2008 at 10:31 am

    Kayaknya definisi ‘tanah adat’ itu harus dipertegas lagi deh…

  14. 14 och4mil4n December 9, 2008 at 10:39 am

    Saya berpendapat bahwa mereka latah. Harus diingat bahwa pemalangan dan klaim tanah adat di daerah-daerah lain di Indonesia itu baru marak setelah Otsus dicanangkan di Papua, setelah cerita sukses masyarakat adat Papua itu menyebar. Jadi biangnya ya di Papua ini.
    Jadi kalau harus dikritisi, ya orang Papua yang paling layak dikritik. Yang lainnya cuma meniru.

    No no no my brother,
    Sebelum otsus dicanangkan pun, dimana2 juga ada tanah adat.
    Misua saya orang Flores yang dari Ibunya merupakan TUAN TANAH di Flores Timur. Itu sudah ada sejak jaman dahulu. Bahkan Raja sana pun segan dengan Opa dari misua saya karena beliau tuan tanah SEJAK DULU.

    Otsus mulainya kapan sih? πŸ˜†
    Sentimen amat πŸ˜›

  15. 15 Fritzter December 9, 2008 at 11:24 am

    @Ardianto
    Maksudnya harus dituangkan dalam sumber hukum adat tertulis? Itu butuh kerja keras dan waktu yang lama.
    Adalah LSM Aliansi Demokrasi untuk Papua (AlDP) yang mulai bergerak ke arah situ. Mereka memulai program “kodifikasi” hukum adat sub-suku Jouw Warry di Demta, dan butuh waktu 5 tahun untuk menyelesaikannya. Itu hanya dari 1 sub-suku/marga. Di Papua ada 243 lebih sub-suku/marga/klan/keret.

    @ochamilan
    Saya mengacu pada kegiatan palang-memalang.
    Bukan pada konsep kepemilikan tanah adat itu sendiri.
    Kepemilikan tanah adat memang sudah ada di semua suku di Indonesia bahkan mungkin sejak sebelum jaman Syailendra. Itu Tukul juga tau.
    Yang jadi pertanyaan, kapan dimulainya kegiatan klaim aset-aset negara dan swasta dengan dalih tanah adat?
    Kalau di Flores sudah ada kegiatan seperti ini sebelum orang Papua memulainya, berarti orang Papua meniru orang Flores dan bukan sebaliknya.

    Sentimen amat

    Saya menyebutnya “realistis”.
    Sesuatu yang busuk tidak akan saya sebut bagus.

  16. 16 eMina December 9, 2008 at 12:02 pm

    tanah adat itu apa? πŸ˜•
    tanah kepunyaan nenek moyang yang ada di situ?

  17. 17 och4mil4n December 9, 2008 at 12:43 pm

    Saya mengatakan sentimen karena ini

    Jadi kalau harus dikritisi, ya orang Papua yang paling layak dikritik. Yang lainnya cuma meniru.

    Trus ketika dibilang sebaliknya malah orang Papua yang niru orang Flores. aneh deh..

    Saya paham kok, bahwa pengklaiman tanah adat secara (bisa dikatakan) sewenang2 orang sana ada dan banyak. Udah didirikan sesuatu eh ujung2nya ada yg klaim itu tanah adat. Tidak bayar hak ulayat, mau kena hajar? Sama seperti kasus di foto ini kan…?

    *tes to…* πŸ˜›

    **ditendang**

  18. 18 Fritzter December 9, 2008 at 2:47 pm

    @eMina
    Ini pengertiannya (dari komen balik saya untuk grace) :

    Secara de facto, definisi tanah adat sendiri sangat lemah legitimasinya.
    Pokoknya kalo tanah itu ditinggali atau diklaim sebagai milik seseorang atau suatu keluarga yang marganya mempunyai posisi dalam hirarki masyarakat adat, maka tanah adatlah itu.

    Secara de jure, dasar tertulis yang dipakai untuk mengklaim batas-batas tanah adat adalah β€œpeta pembagian wilayah adat berdasarkan marga” (sulit dicari referensinya; selain dengan cara nyolong dari ketiak kepala suku lalu di-scan :mrgreen: ) yang disusun oleh Belanda, lalu dibagi-bagikan kepada perwakilan suku-suku besar di sekujur Papua. Kalau mentah-mentah berdasarkan peta ini, maka SELURUH pulau Papua bagian barat adalah tanah adat.

    @och4
    Ah, ya, saya memang sentimen dan aneh. Sudah banyak yang bilang gitu kok, dan saya masih belum melihat dua sifat itu sebagai kekurangan πŸ˜‰ .
    Saya cuma lebih suka disebut “realis” saja. Tapi kalo dipandang lebih cocok dianugrahi dua gelar itu ya monggo saja πŸ˜† .

    …pengklaiman tanah adat secara (bisa dikatakan) sewenang2 orang sana ada dan banyak. Udah didirikan sesuatu eh ujung2nya ada yg klaim itu tanah adat.

    Dan malah menunggu sampai ada bangunannya dulu (mall, hotel, kantor pemerintahan), baru diklaim. Waktu masih pasang pondasi gak ada yang klaim. Jadinya “lawan baca”. πŸ™„

    *tes to…* πŸ˜›

    **ditendang**

    Oufff 😯
    **memegangi kaki yang bengkak habis nendang**

    Ngeblog kok pake deker sih?
    Milanisti ini πŸ˜†

  19. 19 itikkecil December 10, 2008 at 4:06 am

    tanah adat ya…..
    πŸ˜†
    komen saya sama kayak catshade…. bukannya kalo tanah adat itu harusnya atas nama suku apa gitu….

  20. 20 Imam Madzab Bocor Alusβ„’ December 11, 2008 at 7:23 am

    Kereeeenn….

    Sumpah sangat keren Posting inih.

    Mengalahkeun Posting sayah nyang cuman nampilin foto, tapi mampu menggugah komentator untuk saling lempar diskusi….

    Sayah hadiahin Link sayah dan Souvenir, silakeun kirim alamat lengkap situh….

  21. 21 Fritzter December 11, 2008 at 7:33 am

    😯
    *menjura*
    Matur nuwun mbah… :mrgreen:

    *baca yang italic*
    Matur nuwun suangeeeeth mbaaaah πŸ˜₯ terharu….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




WANTED


Fritzter D. Loki

DEAD OR ALIVE

β 666,000,000

Currently Peeking

Categories

December 2008
M T W T F S S
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031